oleh

Pasar Bawah Ramayana Perlu Dirawat

radarlampung.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandarlampung meminta pihak terkait, untuk memperhatikan peningkatan perwatan Pasar Bawah Ramayana.

Anggota Komisi II DPRD Bandarlampung, Wiwik Anggraini mengatakan, penyebab mulai ditinggalkannya pedagang, lantaran pasar yang berada dibasemen tak mendapat fasilitas yang baik. Seperti penerangan, blower dan kebersihan.

“Sudah barang tentu, kenyamanan menjadi hal yang paling utama dalam pengelolaan pasar. Dulu pasar ini, pasar favorit. Nah sekarang malah semakin hari semakin ditinggalkan, ya karena tidak ada perawatan,” katanya kepada Radar Lampung, Kamis (5/3).

Kuranya perawatan itu, berimbas kepada minat pembeli untuk berkunjung di pasar tradisional yang dibangun sejak tahun 2000 itu, seperti penataan parkir, pintu masuk dan sebagainya harus ditata sekian rupa agar menarik.

Terkait hal tersebut, dirinya akan berkoordinasi dengan anggota komisi lainnya. Karena sifatnya harus satu pintu, maka kebijakan pemanggilan dinas terkait dan pihak ketika akan diserahkan kepada ketua komisi.

“Tentu kita akan bahas bersama-sama, pastinya dinas terkait dan pihak ketiga kita panggil. Lalu kita cek bersama-sama kondisi di sana seperti apa,” ujarnya.

Tak hanya pasar bawah Ramayana, dirinya berharap dinas terkait dapat memperhatikan fasilitas pasar yang layak, terwat dan tidak terkesan kumuh. “Kalau diatur dan diperhatikan, saya rasa tidak akan ada pasar kumuh. Dan pembeli pun tidak segan-segan singgah,” tandasnya.

Sebelumnya, pasar tradional yang berada di bawah Mall Ramayana, Jalan Raden Intan Kecamatan Enggal kini mulai ditinggalkan pedagang. Kondisi yang tak terawat dan sepinya pembeli menjadi penyebabnya.

Pedagang ikan yang menempati amparan disana, Mami mengatakan, meskipun sebenarnya kondisi demikian sudah terasa sejak lima tahun terakhir dan semakin parah sejak pertengahan 2018.

Dia tak memahami apa yang membuat pasar tradisional itu kini mulai tak diminati oleh para pembeli. Dia mengaku, biasanya ikan sebanyak 10 kg bisa habis dalam satu hari. Namun kini, 10 kg ikan baru bisa terjual dalam jangka waktu tiga hari.

“Kalau dulu 40 kg itu bisa habis dalam setengah hari. Kondisi seperti tidak hanya terjadi pada pedagang ikan dan daging, tukang sayur, kelapa dan rempah-rempah lainnya mengalami sepi, tidak ada sama sekali pembeli, paling dua atau tiga orang saja yang datang,” katanya kepada Radar Lampung disela dirinya berdagang, Rabu (4/3). (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi