oleh

Lampung butuh 83,061 Ton Gula Per Tahunnya

radarlampung.co.id – Langka dan melonjaknya harga gula putih di hampir seluruh daerah, turut dirasakan di Lampung. Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung, kebutuhan gula per kapita per tahunnya mencapai 8,4 kilogram.

Namun, jika dibandingkan dengan total jumlah masyarakat Lampung sebesar 9,890,538 jiwa, artinya kebutuhan gula untuk konsumsi masyarakat  Lampung sebesar 83,061 ton. Sementara produksi tahunan gula diketahui mencapai 630,440 ton.

Jumlah ini diperoleh dari enam perusahaan besar dan banyak industri kecil produksi gula yang ada diberbagai daerah di Lampung. Ke enam industri ini diantaranya PT Gula Putih Mataram, PT Gunung Madu Plantation, PT Indo Lampung Perkasa (ILP), PT PSMI, PTPN VII Bunga Mayang, dan PT Sweet Indo Lampung (SIL).

Sayangnya, radarlampung.co.id belum berhasil mendapatkan data jumlah produksi masing-masing perusahaan. Namun total tercatat 630,440 ton.

Sementara kepala Disperindag Satria Alam, mengatakan, tak lama lagi, harga gula akan stabil. Tak hanya itu, stok gula juga akan dipastikan aman di masyarakat.

“Untuk mengatasinya, pemerintah melalui Menteri Perdagangan sudah menerbitkan surat impor bahan baku gula pada importir. Insyaallah sebentar lagi sampai dan akan di distribusikan ke daerah sesuai kebutuhan. Kemudian, kami berharap harga stabil kembali,” beber Satria, jumat (6/3)

Nantinya, impor yang dimaksud berupa bahan baku gula. Nantinya bahan baku tersebut akan di proses untuk dua hal. Gula putih untuk konsumsi masyarakat dan lainnya untuk industri.

Satria menjelaskan, kurangnya stok dengan permintaan yang sama dan akhirnya menyebabkan harga gula yang meningkat dikarena kan beberapa faktor. Pertama karena tahun lalu kemarau panjang, sehingga panen tebunya bergeser dan menyebabkan giling tebu bergeser sehingga kelangkaan. “Maka itu langka, karena permintaan tetap, stok kurang, maka harga naik,” tambahnya.

Kemudian karena adanya virus Corona (Covid-19) saat ini, membuat pembeli panik. Sehingga banyak yang memborong bahan kebutuhan pokok. Padahal masyarakat tidak perlu panik dengan virus tersebut.

“Ini juga berakibat dari isu virus corona, para pembeli panik. Sehingga memborong kebutuhan pokok, dan berpengaruh pada beberapa kebutuhan pokok dan masker. Ada juga upaya spekulasi yang menumpuk barang, insyaallah akan dalam waktu dekat tidak hanya gula. Bawang putih jga akan disebar ke daerah maka harga akan stabil lagi. Ini kan persiapan pemerintah dalam menghadapi ramadhan dan idul fitri,” tambahnya.

Sementara langka dan mahalnya harga komoditas pangan, gula di pasaran membuat berbagai pertanyaan karena Lampung sendiri dikenal dengan Provinsi yang banyak memiliki pabrik gula.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Lampung Sahlan Syukur. Meskipun tidak bisa menjudge masalah kelangkaan gula ini, namun DPRD akan mempelajari dan menggali informasi kelangkaan gula di pasaran maupun di supermarket.

“Kita tidak bisa menjudge salah satu permasalahan saja karena saya nilai ini kompleks. Karena stok gula di awal-awal tahun ini, yang saya tahu biasanya pabrikan baru mulai musim panen dan produksi. Yang memang stok yang ada kegunaan kebutuhan gula dalam negeri ini mungkin cukup banyak, dan beberapa kita membiarkan ekspor seperti yang diharapkan presiden kita. Tapi tidak baik kan apabila stok dalam negeri sedikit  kita memaksakan,” beber Syahlan.

Apalagi, lanjut Syahlan, saat ini Lampung menjadi salah satu provinsi yang paling banyak memiliki perusahaan penghasil gula. Karena itulah, mengapa kondisi gula di Lampung sama dengan Provinsi lain yang tidak menghasilkan gula.

“Tapi prinsipnya kami akan lihat akar masalahnya dahulu. Saya sudah  meminta beberapa pihak, dinas perdagangan, perindustrian dan Bulog untuk menjelaskan permasalahan ini. Kenapa di Lampung nggak ada stok, padahal di Lampung kan banyak pabrik gula. Mulai PT Gunung Madu, Gula Putih Matram, LIP Indo Lampung, Bunga Mayang, ada Bumi Waras. Sementara kita ikut-ikutan nggak ada stok, daerah lain juga terjadi. Kita maklumi kalau pabrik nya ga ada, tapi ini ada dan kenapa,” tambahnya.

Adanya kondisi saat ini, terkait virus corona (Covid-19). Ditakutkan, ada yang sengaja membeli banyak karena panik akan virus corona ini.

“Kita akan lihat langka kenapa, apa konsumsi meningkat dari biasanya. Apalagi kita tahu persoalan virus corona ini melibatkan kepanikan pada masyarakat dan mereka membeli yg  luar biasa pada produk konsumtif, ini yang akan kita tanyakan mendetail. Waktu dekat kami akan panggil mereka dalam RDP. Kalau ada  pembelian massal dan masif soal bahan pangan, maka ada persiapan pemerintah untuk menanggulangi persoalan ini,” tambahnya. (rma/yud)

Komentar

Rekomendasi