oleh

UKM/IKM Didorong Dongkrak Ekspor Lampung

RADARLAMPUNG.CO.ID – Ekspor Lampung cenderung turun pada tahun 2019. Hal ini membuat Pemprov Lampung harus melakukan upaya lain guna menggenjot ekspor dan menekan impor masuk ke Lampung.

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dalam Coffee Morning di IPC Panjang, Senin (9/3), mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada tahun 2019 ekspor mengalami penurunan sebesar 15,14% dengan nilai 2,93 miliar USD.

“Namun impor mengalami peningkatan sebesar 0,83% dengan nilai 2,85 miliar USD. Kondisi tersebut menghasilkan surplus sebesar 84,32 juta USD. Hasil kinerja ekspor kurang baik pada tahun lalu secara utama disebabkan oleh melemahnya perekonomian global yang menyebabkan berkurangnya permintaan dari luar negeri. Sehingga beberapa komoditi ekspor seperti CPO, udang, karet, dan lada hitam mengalami penurunan,” beber Arinal.

Namun, lanjut dia, impor yang meningkat pada tahun lalu disebabkan oleh impor migas yang mengalami peningkatan.

Arinal menambahkan, Peningkatan ekspor barang dapat didukung oleh diversifikasi atau keanekaragama dan dihilirisasi atau peningkatan nilai tambah produk ekspor dan mengurangi ketergantungan impor.

Diversifikasi ekspor tidak hanya dilakukan dari sisi produk tetapi juga memperluas negara tujuan ekspor.

“Tentunya perlu diketahui, apa hambatan lainnya yang menjadi penyebab turunnya kinerja tersebut khususnya ekspor. Apakah dari segi perizinan dan rekomendasi yang berbelit, kurangnya stok yang disebabkan oleh rendahnya produktivitas lahan, gagal panen, harga dunia yang sedang anjlok, persaingan, dan permasalahannya,” tambah Arinal.

Maka, demi meningkatkan ekspor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung telah berupaya membuka peluang ekspor bagi produk khas Lampung yang dihasilkan oleh UKM (Usaha Kecil Menengah) atau UMKM yang berdaya saing.

“Jadi kita mengupayakan hilirisasi dan diversifikasi produk dan penambahan pasar ke negara-negara baru non-tradisional seperti Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Amerika Selatan,” lanjutnya.

Tentunya, peningkatan perdagangan luar negeri Lampung membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Karena masih ada potensi peningkatan kerja perdagangan luar negeri khususnya ekspor, dengan cara memberikan kelancaran ekspor melalui pelabuhan panjang.

“Maka itulah, acara coffee morning ini diharapkan memberikan informasi apa saja yang bisa diberikan oleh Pemda Lampung Pelindo II maupun Bea Cukai,” lanjut Arinal.

Sementara program khusus disiapkan IPC Panjang dengan menggandeng UKM/IKM (Industri Kecil Menengah) dalam memasarkan produk khas Lampung ke internasional. Hal ini diungkapkan GM IPC Panjang Drajat Sulistyo.

“Fasilitasinya dari sisi perizinan ekspor, kami akan fasilitasi dan jemput bola untuk mengajak UKM mengirim hasil usahanya agar bisa di ekspor selama 24 jam/7 hari dan akan dimulai hari ini. Kami juga sudah siapkan gudang khusus, jadi kami siapkan kami gandeng UKM/IKM yang memang permasalahan nya kebanyakan terkait prosedur ekspor dan lainnya masih ambigu,” jelas Drajat.

Dengan jemput bola produk UKM/IKM, diharapkan neraca ekpsor tetap terjaga meskipun dalam kondisi krisis virus corona (Covid-19).

“Kami akan segera jemput bola untuk itu. Ini juga kesempatan di tengah krisis Corona, kita turun langsung agar neraca ekspor tetap terjaga. Selama ini turun memang karena banyak ketidaktahuan ekspor, kebanyakan yang ekspor melalui daerah lain. Maka ini kesempatan untuk fasilitasi mereka. Ketika tidak ada liaison untuk ekspor akan kita jembatani, ada perusahaan eksis kita akan tebengi di situ. Yang penting, produk Lampung bisa go internasional, thats it,” tandasnya. (rma/sur)

Komentar

Rekomendasi