oleh

Konflik tak Kunjung Usai, Masyarakat Berharap Gajah Direlokasi

radarlampung.co.id – Konflik gajah dengan manusia di Kecamatan Suoh, Lampung Barat, khususnya Pekon Roworejo dan Sidorejo tak pernah usai. Tercatat selama kurun waktu 2019, terjadi tiga kali konflik dengan kerugian materil cukup besar. Memasuki tahun 2020, konflik kembali terjadi.

Setiap kali konflik, gajah liar memasuki perkebunan warga dan merusak tanaman hingga meneror dengan mendekati permukiman. Jumlah kawanan  gajah tersebut sebanyak 12 ekor serta menjadikan wilayah Pekon Roworejo dan Sidorejo sebagai jalur perlintasan. Termasuk tempat mencari makan.

Karena itu, masyarakat meminta kepada pemerintah pusat dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB-TNBBS) untuk merelokasi kawanan gajah.

”Tentu kami dan masyarakat sangat berharap kawanan gajah tersebut bisa direlokasi ke tempat lain. Karena ini sudah sangat meresahkan. Setiap tahun pasti terjadi konflik,” kata Camat Suoh Novi Andri.

Sejauh ini, kata dia, pihaknya bersama masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Selain menghindar demi keselamatan. Upaya menghadapi konflik hanya sebatas penjagaan pada pintu masuk pemukiman. Kemudian menyalakan api unggun saat malam hari dan bunyi-bunyian dengan harapan kawanan gajah tidak terus mendekat.

”Dampak paling besar dirasakan masyarakat, tidak berani  melakukan aktifitas di kebun. Ini tentunya merugikan masyarakat. Belum lagi tanaman seperti pisang dirusak dan habis dimakan oleh gajah,” ucapnya.

Sebelumnya, tokoh masyarakat Roworejo Kardi mengatakan, keberadaan gajah di daerah itu sangat meresahkan. Jika dibiarkan, bisa melumpuhkan roda perekonomian masyarakat.

”Kami sangat resah dengan keberadaan gajah. Kami minta persoalan ini dicarikan solusi. Kalau bisa, gajah itu dipindahkan  sehingga masyarakat bisa nyaman dalam melakukan aktfitas,”  kata Kardi dihadapan Bupati Parosil Mabsus. (nop/ais)

Komentar

Rekomendasi