oleh

APD Tidak Lengkap, Periksa ODP via Telepon

radarlampung.co.id – Petugas kesehatan akhirnya memeriksa salah seorang warga Lumbirejo, Kecamatan Negerikaton, Pesawaran yang masuk katagori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Tidak lengkapnya alat pelindung diri (APD), membuat tenaga medis tidak berani kontak langsung saat memeriksa. Padahal setibanya dari Jakarta, warga yang bersangkutan sudah mengalami batuk disertai sesak napas.

“Sudah diperiksa sama bu Okta dan dikasih obat. Maksudnya diperiksa via telpon. Soalnya  APD-nya waktu itu belum lengkap. Kalau kita meriksa orang yang baru datang dan belum ada APD, kita nggak harus kontak langsung,” kata Surveylan Haryati dikediaman warga, Minggu (5/4).

APD untuk tenaga medis, thermogun dan peralatan lainnya yang belum tersedia maksimal di pusat pelayanan kesehatan berdampak pada khawatirnya petugas medis saat melakukan pemeriksaan ODP.

Seperti saat memeriksa OT (21), warga Lumbirejo yang batuk dan sesak nafas setelah pulang dari Cibubur. Ia belum mendapatkan penanganan maksimal lantaran APD tidak lengkap.

“Anak saya ini sudah satu minggu sakit batuk dibarengi sesak napas dan badannya lemas. Ini terjadi setelah pulang dari bekerja di Jakarta” kata Asas, orang tua OT, Minggu (5/4). 

Diceritakan Asas, semenjak sakit, anaknya belum pernah diperiksa oleh tim medis secara detil. Baru sebatas pemberian obat saja.

“Sebelumnya memang saya selaku orang tua lapor mengenai keadaan anak. Baik itu ke desa maupun puskesdes. Mereka hanya sebatas memberi obat serta melakukan pemeriksaan dan monitor lewat telepon. Tidak datang langsung ke rumah kami,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Pesawaran M. Nasir bersama warga Desa Lumbirejo melakukan penyemprotan disinfektan, pembagian masker dan sabun di wilayah tersebut. Ia juga prihatin dengan langkah penanganan penyebaran virus Corona.

“Saya kira, ini harus lebih ditingkatkan lagi kinerja dan koordinasinya. Jadi kita tidak hanya menunggu. Harus berani jemput bola. Misalnya untuk APD dan thermogun. Itu harus siap betul. Kan, saya sudah katakan diskresi kita di anggaran apa yang dibutuhkan,” tegas Nasir.

Nasir mencontohkan seperti yang terjadi saat ini. Ada seorang warga yang berstatus ODP. Para tenaga medis terkesan enggan dan takut untuk melakukan pemeriksaan lantaran APD tidak ada.

Bahkan, lantaran sakit yang diderita OT, dirinya harus turun langsung meminta tenaga medis supaya dapat memeriksa yang bersangkutan. 

“Suhu tubuhnya saja tadi setelah diperiksa 38,8 derajat celcius. Jadi harus ada penindakan, jangan dibiarkan. Kita tahu semua perawat ini harus kita lindungi dengan peralatan yang lengkap. Ini tugas pemerintah daerah. Jadi mereka bekerjanya tidak ragu-ragu. Tapi, tenaga medisnya harus aktif bekerjasama dengan Gugus Tugas yang ada di desa,” tandasnya. (rus/ozi/ais)

Komentar

Rekomendasi