oleh

Bupati Tegaskan Bukan Meninggal karena Corona

radarlampung.co.id – Meninggalnya Sodik alias Bungkik (50), warga Kampung Sumberbahagia, Kecamatan Seputihbanyak, Lampung Tengah, dipastikan bukan karena diduga terpapar virus corona atau Covid-19. Hal ini ditegaskan Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto usai telekonferensi di Command Center.

“Berdasarkan laporan kepala Dinas Kesehatan, sudah dapat dipastikan meninggal bukan karena terpapar virus corona,” tegasnya.

Ditanya masalah laporan ada keluarganya yang baru pulang dari Jakarta sehingga diduga terpapar virus corona, Loekman menyatakan tidak ada laporan kepada dirinya. “Itu tidak ada dalam laporan kepada saya. Jelasnya dapat dipastikan meninggal bukan karena diduga terpapar virus corona,” ungkapnya.

Sedangkan Kadiskes Lamteng dr. Otniel Sriwidiatmoko juga menyatakan meninggal bukan karena terpapar virus corona. “Meninggal bukan karena bukan karena terpapar virus corona. Hasil rapid test-nya semua negatif. Tapi, swab-nya tetap diambil dan dikirim ke provinsi untuk diuji lab.,” katanya sambil mencoba menghindari wartawan.

Terkait pemakaman yang dilakukan petugas menggunakan alat pelindung diri (APD), Otniel mengaku antisipasi saja. “Khawatir saja terpapar virus corona. Kita antisipasi. Kita juga tracing keluarganya dan pantau kesehatannya. Termasuk warga yang yang berinteraksi dengan korban,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang didapat, telah meninggal seorang laki-laki atas nama Sodik alias Bungkik (50), warga Kampung Sumberbahagia. Sodik meninggal karena sakit yang ciri penyebabnya mengarah terinfeksi Covid-19, Selasa (7/4) sekitar pukul 01.00 WIB.

Riwayat perjalanannya, Jumat (27/3) keponakan korban a.n. Indra yang berprofesi pedagang bakso pulang dari Jakarta. Di rumah itu tinggal Eko (25) yang merupakan keponakan korban dan korban sendiri. Pada Minggu (5/4), korban Sodik mengeluh sakit tenggorokan dan batuk. Korban berobat kepada perawat, tapi tak ditangani karena tak memiliki APD. Korban diminta pulang ke rumah dan dianjurkan istirahat atau isolasi mandiri.

Pada Senin (6/4) sekitar pukul 23.00 WIB, korban mengalami panas tinggi dan sesak napas. Kemudian keponakan berkoordinasi dengan Kakam terkait tindakan yang akan diambil. Kakam menghubungi kepala Puskesmas Seputihbanyak. Dikarenakan tidak tersedia APD sesuai standar, kepala Puskesmas menghubungi Kadiskes untuk penjemputan dari RSUDDSR. Pada Selasa (7/4) sekitar pukul 01.00 WIB, ambulans dari Diskes datang. Belum tiba di rumah korban atau dalam perjalanan sudah dapat kabar meninggal. Mendapat kabar ini, ambulans kembali lagi ke RSUDDSR. Hasil koordinasi proses pemakaman tetap menggunakan SOP korban terinfeksi Covid-19. (sya/ang)

Komentar

Rekomendasi