oleh

Dampak Pandemi Covid-19, Buruh Cuci Jadi Tukang Rongsok

radarlampung.co.id – Dampak pandemi Covid-19, menyebabkan perekonomian jadi tak menentu. Bahkan, sebagian besar pekerja dilanda beralih kerjaan untuk menenuhi dapur biar ngebul.

Salah satunya yang diceritakan, Made Yani (41) warga Jagabaya II RT 06 Lk. I Kecamatan Wayhalim, Kota Bandarlampung, sebelumnya dilanda pandemi Covid-19, dirinya sebagai buruh cuci di perumahan mewah di bilangan Antasari.

Penghasilannya sebelum dirinya diputus majikannya lantaran dampak Covid-19 ini, menerima gaji Rp200 ribu per minggu. Namun, kini ia beralih pekerjaan sebagai tukang rongsok. “Terpaksa karena lagi ada Corona ini,” katanya saat ditemui di Jalan Sultan Agung, Sabtu (18/4).

Kini penghasilannya pun jadi tak menentu. Kegiatannya ini, dilakoninya mengikuti jejak sang suami yang memang sebagai perongsok. “Ya, pendapatan engga menentu, sehari paling Rp15 ribu,” ungkap wanita berhijab asal Kampung Mandala, Bandarjaya, Lampung Tengah ini.

Ibu tiga anak ini mengaku, meskipun dirinya mengalami ekonomi sulit, tetapi pendidikan anak tetap menjadi yang utama. “Semua masih sekolah sedangkan suaminya sudah lama tidak menjadi buruh, sekarang suami juga merongsok untuk biaya sekolah anak,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, buruh cuci yang bernasib menjadi perongsong bukan hanya dirinya, karena tak memiliki modal usaha. Seperti halnya keponakannya, Yuli (22) dan Putri (31) juga ikut merongsok sama seperti dirinya.

Sebelumnnya, kedua ponakannya itu, sebagai butuh pengepul rongokan, karena usaha majikannya mengalami damak Covid-19, akhirnya semua pekerja dibubarkan. “Kami biasanya merongsok di Jalur Dua Jalan Sultan Agung ini,” ujarnya.

Dikondisi yang sulit saat ini, dia mengaku, untuk makan sehari-hari saja, dirinya dan keponakannya mau tak mau juga bergantung dari pemberian orang yang lewat atau menghampiri mereka.

Yani juga mengungkapkan, kelurganya selama ini tak pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik berupa bantuan langsung tunai atau yang lainnya. “Seingat saya memang tidak ada yang mendata kami untuk dimasukan penerima PKH,” cetusnya.

Padalah, dirinya merasa, mereka seharusnya masuk dalam keluarga tidak mampu. “Apalagi di saat keadaan seperti ini. Kami berharap dari belas kasih orang yang sering lewat memberikan nasi bungkus kadang itu juga ada kadang tidak,” keluhnya. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi