oleh

Ini Kisah Manusia Grobak

 

radarlampung.co.id – Salah satu cerita Elia (35) warga RT 015 Lk. I Gang Angkasa III Keluarah Labuhanratu Raya, Kecamatan Labuhanratu, yang menjadi manusia gerobak kurang lebih 10 tahun.

Meskipun lakonnya menjadi manusia gerobak atau pemulung itu, diakuinya selalu menjadi cacian dan ejekan. Namun, pekerjaan ini justru sebagai sandaran hidup, bersama keluarga kecilnya, tiga anak dan suami.

Elia tak menyebutkan pasti nama dan sekolah dimana ketiga anaknya. Tetapi, dia memastikan dengan usaha itu dia mampu menyekolahkan anaknya yang tua hingga duduk bangku sekolah menengah atas di Kota Tapis Berseri.

“Ya, mereka sekolah semua, suami saya sakit-sakitan. Terkadang, saya bersama anak-anak mencari rongsokan bersama-sama. Juga, mengharap belas kasihan dari orang-orang yang dermawan,” katanya kepada Radar Lampung saat ditemui, Jumat (24/4).

Perempuan kelahiran asli Labuhanratu Raya ini tak segan mengungkapkan pekerjaannya ini. Dia menyebutkan, pekerjaan ini tak butuh modal, hanya butuh menahan malu.

“Pekerjaan sekarang susah mau jadi apa. Pekerjaan seperti ini tak perlu modal. Cukup tidak ada rasa malu saja. Karena, sudah pasti resikonya tempat cacian dan diremehkan,” cetusnya.

Dia mengaku, bukanlah manusia gerobak musiman. Yang pada momen-momen tertentu pasti ramai. Setiap memasuki Ramadan atau hari besar keagamaan. Memanfaatkan kodisi sulit.

Manusia gerobak musiman, katanya, sudah barang tentu akan ramai setiap hari-hari besar keagamaan, bahkan masa politik saat ini. “Banyak yang kasih beras. Kasih belas kasihan. Makanya, ratusan seperti saya ini bermunculan,” ucapnya.

Ia sadar betul. Ketika memasuki Ramadan, puluhan bahkan ratusan manusia gerobak pasti memenuhi pinggiran jalan kota. Dalam sehari, mereka bisa memperoleh beras 3-5 kg, pemberian para dermawan.

“Tak hanya beras, seperti sembako lainnya. Telur, gula, minyak goreng dan sebagainya. Sebagian beras ya kami jual. Buat dibelikan bahan lainnya. Masak makan nasi aja,” ungkapnya.

Manusia gerobak yang tidak musiman. Seperti Elia. Rata-rata paling banyak bisa mengantongi uang hasil memulung sebesar Rp20 ribu. Tetapi terkadang juga tak ada hasil. “Tergantung banyaknya rongsokan yang didapat,” imbuhnya.

Terlepas, banyaknya manusia gerobak musiman. Dia menyebutkan, tak bisa dipungkiri kondisi sulitlah yang menggerakan mereka untuk turun ke jalan. “Usahanya tidak ada. Dari pada mencuri. Menjadi berkeliling kayak gini,” tandasnya.

Dari pantauan Radar Lampung, memasuki Ramadan 1441 hijriah. Seperti biasanya. Manusia gerobak banyak menghiasi pinggiran jalan protokol Kota Bandarlampung. Antara lain di Jalan Sultan Agung, Jalan ZA Pagar Alam, Jalan Teuku Umar, dan Jalan Kartini. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi