oleh

Tinggalkan Pekerjaan Montir, Lebih Milih Jadi Penjaga Makam

radaralampung.co.id – Kasturi (49) telah menjadi penjaga makam di TPU Pengajaran, Kelurahan Pengajaran, Kecamatan Telukbetung Utara, Kota Bandarlampung kurang lebih delapan tahun.

Setidaknya, selama menggeluti pekerjaan yang tak semua orang bersedia itu, dirinya banyak mengambil hikmah. Pekerjaannya ini menjadi pembuktian sebagai pengabdi Ilahi.

Dia memutuskan untuk menjadi penjaga makam, hanya satu alasan, yakni akan menjadi jalan pengantar jalannya mengahadap Ilahi ke surga-Nya kelak.

Sebelumnya, Kasturi adalah teknisi montir disalah satu bengkel yang tidak jauh dari rumahnya di RT 09 Lk. I Kelurahan Pengajaran, Kecamatan Telukbetung Utara.

Pekerjaannya sebagai montir mobil itu, dia tinggalkan lantaran kini, dia fokus mengharap rido Ilahi, “Karena kita tidak hanya mengejar dunia, melainkan juga akherat. Kita tidak akan tahu umur hidup kita,” katanya kepada Radar Lampung ditemui di TPU Pengajaran.

Dia mengungkapkan, meskipun pekerjaan sebagai montir mobil penghasilannya jauh dari pekerjaannya saat ini. Namun, dirinya sadar pekerjaan ini banyak resiko melakukan pembohongan.

“Kadang-kadang banyak bohongnya. Padahal engga rusak, dibilang rusak. Tadinya nomor satu dijadiin nomor tiga. Itulah dunianya. Kalau pekerjaan ini (penjaga makam, red) berhadapan langsung dengan sang pencipta,” ujarnya.

Dia menyebutkan, gajinya sebagai penjaga makam kini cukup lumayan, yakni Rp2 juta per bulan dari rukun kematian. Dibandingkan sebelumnya, dia peroleh sebagai uang terima kasih dari keluarga yang ditinggalkan jenazah.

Berdasarkan pengalaman Kasturi. Prosesi pemakaman akan berlangsung lancar tanpa hambatan tergantung dari jenazah yang akan dimakamkan. “Tergantung bawaan orangnya (jenazah, red). Kadang ada yang susah galinya, berat, tergantung amal perbuatan selama hidupnya,” terangnnya.

Bahkan, dia pernah merasakan kejadian yang diluar dugaan, seperti tanah yang digali begitu keras, lubang galian dipenuhi mata air, dan jenazah yang berat. “Kita hanya bisa beristigfar,” imbuhnya.

Sebagai penjaga makam, dirinya dituntut untuk rajin beribadan dan menjalankan tugasnya dengan ikhlas. “Contohnya saja, kalau makam-makam ini tidak kita perhatikan, pasti didalam mimpi itu, kita didatangi mereka, ditegor,” jelasnya.

Bapak dari tiga anak ini, memutuskan menjadi penjaga makam lantaran dari hati nuraninya. Dia mengaku, pekerjaannya itu justru menjadikannya tegun beribadah. Baik ibadah salat, atau ibadah lainnya, maupun ibadah puasa.

Segala bentuk penyakit yang tengah menimpa seseorang, menurutnya lantaran cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Sehinga, kembali kejalan-Nya adalah satu-satunya jalan penebus.

Kasturi memiliki istri Warsiah (43). Keduanya dikarunia anak, Kurniani Jaka Wardana Mulia (20), Muhammad Panji Saputra (15), dan Kaira Amelia Azahra (6).

Syahrudin (20) salah satu adik besan mengenal sosok Kasturi sebagai tauladan bagi keluarganya. Menurutnya, dia pria yang pekerja keras, rajin beribadah dan tidak mengeluh dengan pekerjaannya.

“Kalau ibadahnya tidak pernah putus. Sehari-harinya dia itu menjadi contoh dan tauladan yang baik bagi keluarganya,” pungkasnya. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi