oleh

Connectpedi-AMA Bahas Soal Manajemen Masa Depan

radarlampung.co.id – Connectpedia, Magister Manajemen Universitas Airlangga, Asosiasi Manajemen (AMA) Indonesia chapter Lampung dan Center for Family Bussiness Studies menggelar kegiatan Webinar Kolaborasi mengusung tema Beyond Coronavirus, The Path to Next Normal melalui aplikasi Zoom, pada Kamis (28/5) siang.

Kegiatan seminar ini diisi oleh sejumlah pakar bidang manajemen seperti Dr. Nyoman Marpa (Strategic dan Family Business Expert), Dr. Alex Tribuana Sutanto, MM (Ketua AMA chapter Lampung), dan Dr. Gancar C. Premananto, M.Si, CMA (Kaprodi MN FEB Universitas Airlangga, Konsultan Executive Development Program).

Dalam acara ini, pihaknya juga menggalang donasi melalui dompet donas. Dimana dana yang terkumpul nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat Lampung dalam bentuk masker dan vitamin. Pendistribusian nantinya dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas yang ada di Lampung.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Nyoman Marpa yang juga merupakan Chariman Center for Family Business Studies mengatakan, sejak awal adanya Covid-19, banyak pihak yang berusaha untuk memprediksi kapan virus ini akan berakhir.

“Sejumlah pihak mulai membuat spekulasi, sampai akhir saya berpikir mungkin virus ini tidak akan berhenti dan kita lah yang harus menyesuaikan diri. Hal itu juga yang kini kita kenal dengan New Normal,“ katanya, Kamis (28/5).

Saat ini, sambung dia, semua pihak sedang mengalami kerisis. Bisnis keluarga juga sama dengan bisnis yang lain dan sedang menghadapi krisis akibat kovid ini. Mulai dari keuangan, kesehatan dan lain-lain.

Meski begitu, beberapa pihak yang memang mempelajari bisnis keluarga melihat, bahwa ternyata krisis tidak membuat bisnis keluarga mati, meski memang mengalami beberapa kendala. Hal tersebut terbukti, karena hingga saat ini mereka sudah menghadapi 3 krisis besar.

“Pertama itu terjadi di tahun 1998, kemudian di tahun 2008 dan yang ketiga di tahun ini,“ tambahnya.

Beberapa yang menjadi contoh seperti perusahaan Kongogumi yang sudah 40 generasi, Hoshi 49 generasi, Faber Castel 8 generasi dan lain-lain. Di samping itu, faktanya sekitar 80 sampai 98 persen bisnis dunia masih dikuasasi oleh bisnis keluarga.

Selain itu, menurut dia, saat menghadapi masa krisis biasanya bisnis keluarga lebih bisa berhemat, mereka lebih pintar dalam menjaga irama bisnis dan bertahan. Lebih adaptif dan inovatif. Selain itu, dimasa krisis bisnis ini biasanya lebih kuat karena ada ikatan kekeluargaan di dalamnya, dan krisis menimbulkan rasa kebersamaan.

Lebih jauh dia mengatakan, Covid-19 yang terjadi saat ini juga jelas menimbulkan perubahan prilaku dan business opportunity.

Dimana nantinya gig economy akan boom, freelance worker semakin diminati dan kerja multi-tasking akan menjadi kebiasaan baru. Milenial dan Gen-Z akan semakin meminati bidang-bidang kerja dan skill yang bisa dilakukan secara freelance. Muncul tradisi baru bekerja secara “multi-company“, yaitu remote working di beberapa perusahaan secara bersamaan.

Selain itu, sebelum wabah covid-19 muncul, layanan videotelephony tumbuh biasa saja. Namun kini termasuk dalam jajaran industri yang tumbuh eksponensial. Peluang industri ini begitu luas untuk bidang mulai dari teleconferencing, telecommuting, distance education hingga social relation.

Nah, di fase new normal ini, masyarakat juga dituntun untuk tetap disiplin dan bersiap untuk krisis selanjutnya. Artinya, disiplin dengan semua tata pola yang sudah dibuat pada masa krisis termasuk disiplin dalam berinvestasi dan menggunakan modal kerja, tetaplah berhemat dan hindari membeli aset yang tidak produktif dengan alasan apapun.

Waspada pada perubahan lingkungan bisnis dengan mereview ulang formasi strategi secara berkala untuk mengantisipasi setiap perubahan. “Kemudian Sadarlah bahwa krisis akan terjadi kembali di masa depan, seringkali tidak dapat kita prediksi waktu dan besarannya, oleh sebab itu bangun lah sumberdaya cadangan untuk kebutuhan pada masa masa krisis nanti,“ tandasnya.

Sementara itu, Dr. Alex Tribuana Sutanto, MM yang merupakan Konsultan Bisnis dan Informatika menuturkan, manajemen di masa depan harus inovatif, serta kedepannya hirarki dalam perusahaan harus ditiadakan supaya bisa menghadapi new normal dengan cepat dan baik.

“Ada hal yang selama ini menjadi pertanyaan dunia. Kenapa ada perusahaan yang kinerjanya bagus sekali, tapi ada juga yang biasa saja dan ada juga yang di bawah dari standar lainnya. Ada yang bilang karena “ekskusinya“ tidak tepat, meski semua prakteknya sama,“ katanya.

Beberapa pengusaha mungkin belajar manajemen dari buku. Tapi dia mengatakan, seharusnya para pelaku usaha tidak lantas percaya percaya begitu saja pada buku. Sebab buku itu usang, karena situasi akan selalu berbeda.

“Pernahkah kita terpikir bahwa rupanya konsep manajemen yang usianya sudah satu abad itu ternyata salah. Nah, konsep manajemen yang ada saat ini kan timbul dari pakar-pakar terdahulu, mungkin itu relevan di jamannya dan mungkin sudah tidak relevan lagi saat ini. Apalagi saat ini kita punya teman baru yang namanya Corona Virus,“ tuturnya.

Saat ini, orang-orang masih bekerja dengan cara kerja lama, yakni birokrasi dan hirarki. “Apapun perusahaannya selama masih ada direktur, GM, manajer, supervisor dan lain-lain itu berati masih hirarki. Akademij juga begitu. Jadi hambatan terbesar inovasi manajemen itu adalah keyakinan kita terhadap manajemen itu sendiri,“ pungkasnya. (Ega/yud)

Komentar

Rekomendasi