oleh

Dipanggil dengan Sebutan Nama Orangtua, Pedagang Somay Ini Membunuh Pelajar

radarlampung.co.id – Sakit hati karena sering memanggil dengan sebutan nama orangtuanya, AF (17) nekat membunuh EV (16) yang tak lain rekannya sendiri. Akibatnya, Polsek Tanjungbintang meringkusnya di Oku Sumsel. Selain RMB, aparat juga menangkap RMB (18) yang ikut membantu dalam proses pembunuhan.

Kapolres Lamsel, AKBP Edi Purnomo menjelaskan, pembunuhan tersebut, terjadi pada Minggu (17/5), sekitar pukul 20.15Wib. saat itu, AF mengajak RMB untuk membunuh korban. Hal ini lantaran AF kesal karena korban sering meledek dengan menyebutkan orngtuanya.

“Dari situ, AF meminta RMB menghubungi korban untuk menjemput mereka. Lalu, mereka bertiga berkeliling menggunakan sepeda motor korban,” ungkap Edi, saat ekspose di Mapolsek Tanjungbintang, Kamis (28/5).

Tiba di perkebunan Desa Sindang Sari Tanjungbintang, Lampung Selatan (Lamsel), kedua pelaku mengobrol dan merokok diatas motor. Kemudian, AF memukul leher dan punggung korban bagian belakang dan pelaku RMB membanting tubuh korban hingga jatuh ke tanah.

“Setelah korban jatuh tengkurap didekat kubangan air, kepala dan badannya dipegang oleh AF dan RMB memagang kakinya. Lalu, AF memasukkan kepala korban kedalam air hingga 10 menit sampai korban tidak bernyawa,” jelasnya.

Setelah itu, sambung Edi, korban diangkat ke perkebunan singkong. Untuk memastikan korban meninggal, AF memeriksa tubuh korban. Ketika korban dipastikan tak bernyawa, AF mengumandangkan Adzan dan meninggalkan korban di perkebunan. “Kedua pelaku lalu kabur ke Oku Sumsel membawa handphone dan motor korban,” ucapnya.

Edi menambahkan, pada hari Selasa (19/5), korban ditemukan oleh petani lalu melaporkan ke Polsek Tanjungbintang. “Kemudian kami melakukan penyelidikan. Dan pada Rabu (20/5), kedua pelaku berhasil diamankan didaerah Oku Sumsel berikut barangbukti motor Vario tanpa plat nomor,” ujarnya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup, minimal 15 tahun penjara.

Sementara, AF mengaku menghabisi korban lantaran sakit hati sering memanggil tersangka dengan panggilan nama ayahnya. Selain itu, korban juga dinilai pelit terhadap teman-temannya termasuk kepada tersangka.

“Buntu juga pak, mau balik kerja ke Palembang lagi gak ada ongkos. Ya, selain itu dia (korban, red) juga sering ngejek saya manggil-manggil dengan nama ayah saya,” ungkap AF yang mengaku bekerja di Oku Sumsel sebagai pedagang Somay. (yud)

Komentar

Rekomendasi