oleh

Herd Immunity Alami Bukan Solusi

Oleh Ardhias Nauvaly Azzuhry*

Dalam kurun sepekan, terhitung sudah dua kebijakan pemerintah yang bernuansa kontraproduktif dalam situasi pandemi ini. Pertama soal dibukanya kembali akses transportasi umum. Kedua, kelonggaran mobilitas bagi penduduk dibawah 45 tahun dengan alasan kondisi fisik yang prima sehingga tidak begitu rentan terpengaruh virus.

Sebagaimana kebijakan “tanggung” lainnya dalam menyikapi pandemi ini, tak ada yang bisa dituai darinya. Ekonomi tak pulih, nyawa tak bisa dibangkitkan. Manuver sembrono pemerintah ini mengundang tanya besar: apa yang direncanakan oleh pemerintah?

Ada dua kemungkinan jawaban. Pertama: tidak ada rencana. Kedua, dengan pandangan bahwa pandemi ini berasal dari alam maka mereka mengembalikannya pada hukum alam. Dengan kata lain, pemerintah menantikan datangnya herd immunity alami di Indonesia. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Muhadjir selaku Menko PMK bahwa ada kemungkinan kebijakan penanggulangan Covid-19 ini akan bermuara pada herd immunity alami.

Herd immunity merupakan kondisi dimana masyarakat memiliki kekebalan kolektif terhadap suatu penyakit. Kondisi ini sebenarnya bisa diciptakan oleh manusia yaitu lewat mekanisme vaksin. Namun ada cara lain Herd immunity ini untuk muncul yakni mengharuskan mayoritas penduduk suatu wilayah terpapar penyakit terkait. Bedanya dengan vaksin, patogen atau biang penyakitnya tidak dilemahkan sehingga fatalitasnya masih tinggi.

Herd immunity alami paling baru muncul saat pandemi Flu Spanyol tahun 1918-1920. Kala itu, dunia yang luluh lantak dihantam Perang Dunia I tak siap menghadapi pandemi tersebut. Di Hindia Belanda sendiri, penanggulangannya sebatas isolasi mandiri dan perawatan bagi yang sudah terpapar. Saat Influenza Ordonantie diterbitkan pada 1920, wabah ini sudah berangsur-angsur menghilang. Tanpa vaksin, jelas Herd immunity alami yang berhasil menyudahi Flu Spanyol tak hanya di Hindia Belanda namun juga di seluruh dunia. Apakah herd immunity alami menjadi solusi efektif dalam mengakhiri Covid-19 ini?

Bila kita masih ada di abad pertengahan atau situasi pasca perang seperti Flu Spanyol, pantas kiranya mengharapkan kemunculan herd immunity alami. Masih terbelakangnya ilmu medis hingga sistem pemerintahan yang belum efektif membuat penanganan wabah secara sistemik menjadi suatu utopia kala itu. Namun kita hidup di zaman dimana sektor kesehatan sudah maju pesat serta bukan pada situasi perang. Kecepatan informasi juga mampu meminimalisasi penyebaran. Wilayah yang belum terdampak bisa bersiap dan masyarakat mampu teredukasi tentang kiat menangkal virus.  Lucu rasanya ketika suatu negara kelimpungan menghadapi pandemi meskipun sudah menerima berita berbulan-bulan sebelumnya kecuali mereka meremehkannya.

Kebijakan Herd immunity, meskipun jadi pilihan pemerintah, tak akan diungkap ke publik mengingat kedinginannya dalam mendefinisikan kematian. Menurut riset dari Nanyang Technological University, 80% masyarakat mesti terpapar penyakit barulah herd immunity akan terbentuk termasuk pada Covid-19. Bila dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia, sekitar 213 juta penduduk yang mesti terpapar. Rerata kematian akibatnya yang berkisar pada 9% berarti akan ada sekitar 19 juta nyawa ditumbalkan demi lahirnya herd immunity ini. Kalkulasi ini pun belum memperhitungkan kasus pasien yang terserang Covid-19 lebih dari sekali.

Contoh paling konkret tentang pencanangan herd immunity sebagai solusi adalah Swedia. Kebijakan lockdown yang longgar bahkan di tengah kota masih banyak kelab malam yang beroperasi mengantarkan 27% penduduknya positif Covid-19. Anders Tegnell selaku petinggi tim penanggulangan Covid-19 di Swedia percaya bahwa dalam waktu dekat penduduknya akan memiliki herd immunity. Kebijakan yang diambilnya menegasikan puluhan ribu kematian yang akan terjadi sebagi tragedi yang patut dihindari. Alih alih demikian, dia hanya menganggap itu semua sebagai target statistik yang mesti dicapai. Luput darinya pemahaman subjektif seperti bagaimana kalau kerabat terdekat, atau ia sendiri yang terpapar dan akhirnya menjadi tumbal herd immunity.

WHO sendiri sudah menyatakan bahwa adanya sesat pikir pada otoritas yang menaruh harapan pada herd immunity sebagai penumpas pandemi. Herd immunity alami tak bisa dikalkulasi seperti menerapkannya pada mekanisme vaksin. Terlebih, identifikasi ciri SARS-CoV2 sebagai biang Covid-19 belumlah lengkap sehingga vaksin tak akan rampung dalam waktu dekat. Perdana Menteri Inggris bahkan mengakui ada kemungkinan vaksin Covid-19 tak akan ditemukan. Berharap pada herd immunity sebagai solusi tak ubahnya berjudi dengan alam baka. Skenario ini memunculkan pertanyaan etis seperti siapa yang pantas dipertahankan dan ditumbalkan? Mungkin kita akan selamat, namun kerabat kita bertumbangan. Abstrak dan tak terkendali.

Bila di waktu normal masyarakat sering ditagih loyalitasnya terhadap negara dengan dihadapkan pada slogan “jangan tanya apa yang negara berikan padamu”, sepertinya ini saatnya untuk melakukan sebaliknya. Rakyat pantas menagih janji perlindungan yang diberi negara dari segala ancaman. Negara yang punya kontrol dan otoritas mesti melakukan penanggulangan, bukan hanya berharap pandemi ini sirna dengan sendirinya sambil merelakan jutaan nyawa beterbangan. Herd immunity alami jelas bukanlah solusi. Sebaliknya, ia merupakan wujud ketidakberdayaan dan keputusasaan negara dalam melindungi rakyatnya dari gempuran pandemi yang semula mereka anggap tak seberapa. (*)

 

* Ketua Bidang Internal GADJAH LAMPUNG (Paguyuban Mahasiswa UGM Asal Lampung)

Komentar

Rekomendasi