oleh

Pembukaan Sekolah Perlu Adaptasi dan Transisi

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rencana pembukaan sekolah dengan menerapkan new normal pendidikan untuk anak sekolah termasuk juga untuk anak usia dini (AUD) menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Pembukaan sekolah untuk anak sekolah dinilai perlu transisi dan adaptasi.

Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Lampung Citra Persada mengatakan, Bandarlampung yang berstatus zona merah belum waktunya menerapkan new normal di sekolah. Kalau secara umum dan khususnya PAUD, dirinya khawatir untuk memulai masuk sekolah.

“New normal itukan mengubah perilaku, perilaku hidup sehat, jaga jarak. Yang namanya perilaku itu lebih berat, anak-anak memang tidak dekat-dekatan sama teman-temannya, tapi dorong-dorongan, peluk-pelukan atau mengobrol, siapa yang bisa mengawasi itu. Oke infrastruktur bisa cepat, pemerintah jamin semua ada, sabun, masker, handsanitizer, tapi perilaku itu butuh waktu. Sedangkan, anak usia dini justru rentan sekali, apalagi di ruang-ruang ber-AC,” ujarnya, Minggu (31/5).

Dirinya merasa was-was, ketika new normal diterapkan di sekolah, sedangkan angka pasien yang terinfeksi Covid-19 juga semakin bertambah, serta minimnya infrastruktur kesehatan. Ditambah, masyarakat belum siap secara budaya, belum cukup disiplin, dan belum memiliki kesadaran. Sehingga menurutnya, pembukaan sekolah ataupun penerapan new normal pendidikan perlu waktu dan tidak terburu-buru atau dipaksakan untuk dilakukan.

“Kata kuncinya, kita ini perlu masa transisi untuk beradaptasi dulu. Nah, di masa adaptasi ini sebenarnya kita perlu berbenah pelan-pelan. Pembatasan jam belajar dengan shift-shiftan itu siapa yang bisa menjamin. Saya melihat kekhawatiran orang tua dan persiapan kita itu belum siap, baik secara infrastruktur dan perilaku,” katanya.

Menurutnya, pendidikan anak usia dini sangat tepat berada di rumah dengan ibu dan bapaknya. Kondisi saat ini justru menjadi kesempatan untuk membangun ikatan emosional yang lebih kuat antara orang tua dengan anak. Karena orang tua bisa membentuk karakter anak sesuai misi keluarga.

“Orang tua juga tidak siap jadi guru tetapi ya tidak bisa, orang tua itukan pendidik utama jadi harus bisa. Urusan karakter adalah tanggung jawab utama orang tua bukan di guru. Pemerintah harusnya bijak melihat kondisi ini,” pungkasnya. (rur/sur)

Komentar

Rekomendasi