oleh

Usut Harga Gula Tak Stabil, KPPU Kumpulkan Barang Bukti

radarlampung.co.id-Persoalan harga gula yang hingga saat ini tak kunjung stabil di pasaran membuat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI hingga kini masih bekerja keras. Saat ini  persoalan tersebut masih dalam tahapan penelitian untuk mengumpulkan barang bukti guna menaikan kasus ini ke tahapan penyelidikan.

Hal ini diungkapkan Wahyu Bekti Anggoro, Kepala Kanwil II KPPU Provinsi Lampung saat melakukan video konferensi bersama media yang digelar di Kantor KPPU Lampung Kamis (11/6) dalam agenda Forum Diskusi dengan Jurnalis terkait Perkembangan Kegiatan Pencegahan dan Penegakan Hukum di KPPU Khususnya Terkait Gula.

“Terkait proses penanganan kasus gula, masih dalam proses penegakan hukum, jadi ini masih diteliti karena inisiatif KPPU dalam memulai. Dan ini belum naik penyelidikan karena syaratnya ada bukti awal pelanggaran. Tim pusat tengah menyelesaikan penelitian mencari alat bukti awal untuk penyeledikan,” beber Bekti.

Hal senada diungkapkan Guntur Saragih, selaku Komisioner KPPU RI. Dia menjelaskan Polemik gula masih ditindaklanjuti pihaknya dan masih dalam proses penegakan hukum.

Bukan hanya terjadi perbedaan harga yang terjadi, di Lampung yang menjadi produsen gula memang mengalami kekurangan barang. Inilah yang menjadi  indikasi namun, pihaknya akan menaikan kasus ketahapan penyelidikan jika sudah ada bukti.

“Selanjutnya, kami juga tidak mau  dengan adanya persoalan ini pemerintah pusat campur tangan soal HET (harga eceran tertinggi). kalau kita lihat dari data yang kita peroleh, HET akan membuat harga mengikuti HET. Itulah kami upayakan jangan sampai desakan akan mempengaruhi peningkatan HET. Maka kami fokus HET jangan dinaikan, karena menaikan HET bukan solusi tepat,” tambahnya.

Dia melanjutkan, karena jika HET dinaikan, maka pelaku usaha akan mendekatkan harganya. Inilah yang  perlu dilakukan pemerintah  agar pemerintah pusat tidak menaikan  HET. Petani bukan persoalan  konsumen, tapi produktivitas maka harus diselesaikan dengan cara produktivitas dan efisiensi. (rma/wdi)

Komentar

Rekomendasi