oleh

Hj. Eva Dwiana dalam Pusaran Pilwakot  

radarlampung.co.id– Bincang Bersama Bang Aca, Chairman Radar Lampung Group, dengan sejumlah tokoh yang menjadi perhatian publik kembali hadir. Kali ini dalam acara yang disiarkan Radar Lampung TV tadi malam menghadirkan bakal calon wali kota Bandarlampung Hj. Eva Dwiana Herman H.N.

Seperti diketahui, Bunda Eva –sapaan akrab Eva Dwiana– sendiri sangat aktif di berbagai organisasi. Selain sebagai anggota DPRD Lampung asal Fraksi PDIP, Bunda Eva juga merupakan ketua dari Majelis Taklim Rachmat Hidayat (MTRH). Selain itu juga sebagai Ketua Kwarcab Pramuka Bandarlampung serta berkecimpung di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (CMI) Lampung dan beberapa organisasi lainnya.

Pertanyaan pertama yang dilontarkan Bang Aca kepada Bunda Eva, apakah bisa seorang Eva Dwiana meng-cover semua dengan optimal?

Dalam kesempatan ini, istri Wali Kota Herman H.N. tersebut mengklaim semua organisasi yang dipegangnya selalu tidak ada kendala. Ia mengklaim memiliki orang-orang yang luar biasa dan hingga detik ini semua organisasi yang dimasuki serta dipimpinnya tetap berjalan.  ’’Segala cara mereka lakukan yang terbaik. Namun di zaman Covid ini memang lagi kebanyakan di rumah saja. Bercerita, berkumpul bersama keluarga. Apa yang anak-anak dan Pak Herman minta harus Bunda turuti. Semua harus imbang. Covid ini juga membuat saya lebih dekat kepada Tuhan. Tarawih yang dulu bolong-bolong, sekarang enggak. Tahajud jadi lebih rajin. Dan tahun ini puasa full berikut Syawal-nya. Bahkan kue Lebaran semua bikinan saya. Sebagai tangung jawab selama lockdown juga, saya pagi-pagi bakda Subuh langsung kontak anak-anak nyemprot disinfektan dan  pembagian masker. Komunikasi ya by phone saja. Kalau urgen, Bunda yang datang atau sebaliknya,” ungkap dia.

Bagaimana memaknai sebagai seorang istri? Menurutnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga adalah hal prioritas. Bunda menilai pekerjaan hanya keahlian. ’’Keluarga itu akan hidup jika kita dapat keberkahan. Kita berkarir timbulnya dari suami, restu Pak Herman dan anak-anak. Alhamdulillah sampai saat ini lancar. Terkadang, Pak Herman kalau kerja kan membontot, jadi saya harus memasaknya langsung sendiri. Pak Herman lebih senang masakan yang berkuah. Khususnya pindang baung dan patin,” ungkapnya.

 

Kapan punya keinginan terjun ke dunia politik dan siapa yang menjadi mentor?

Bunda Eva mengungkapkan sebenarnya terjun ke dunia politik seperti air mengalir. Sebab di rumahnya pun tidak pernah membahas mengenai politik bersama sang suami. ’’Saya di rumah bukan siapa-siapa. Istri dari Herman H.N. dan ibunya anak-anak. Di rumah enggak pernah bahas politik. Itu berjalan dengan sendirinya. Ada yang tanya Bunda kuat ya, ya dijalani saja. Segala sesuatunya dari Allah, saya nikmati,” ungkapnya.

Diketahui salah satu organisasi yang menonjol dari Eva Dwiana sendiri adalah MTRH. Di mana, organisasi keagamaan ini sudah dipimpinnya selama 13 tahun. Dalam kesempatan itu, Eva juga menceritakan kisah sedih dan perjuangan membangun majelis taklim itu. Diketahui juga, Rachmat Hidayat diambil dari nama almarhum putranya. ’’Berbicara MTRH, saya sedih. Puasa lockdown, enggak bisa ziarah, Lebaran juga masih dilarang. Perjuangannya luar biasa. Diusir dari masjid, kita bikin tenda pengajian, tendanya pindah ke jalan. Itu pernah terjadi di Kotabumi. Di Bandarlampung juga beberapa kali ditolak. Alhamdulillah berkat kesabaran bisa seperti ini, sudah 13 tahun. Ini sebelum Pak Herman menjabat,” kata dia.

 

Lantas bagaimana dengan asumsi yang menganggap MTRH menjadi kendaraan politik? Eva menampik hal tersebut. ”Enggak lah, tidak begitu. Jika memang dijadikan alat politik, Pak Herman kalah dua kali di Pilgub, ya pengajian tetap berjalan. Saya merasa ini adalah ibadah saya. Kalau berpolitik, ya perjuangan saya di dunia. Pengajian ini bikin tenang,” ucapnya. Eva menilai hal tersebut adalah pandangan yang salah. ”Saya lagi pengajian tidak pernah bicara politik, dan sebaliknya. Tapi kalau mendukung itu kan selalu mendoakan yang terbaik. Insya Allah, semua daerah mendukung dan mendoakan saya. Tapi saya tegaskan seluruh kader MTRH tidak terlibat politik sama sekali,” tambahnnya.

Sementara terkait persiapan pencalonan sebagai Bakal Calon Wali Kota Bandarlampung, dia mengatakan dirinya banyak belajar dari kepemimpinan sang suami. Yaitu dari cara berpolitik dan beberapa hal lain yang positif. “Orangnya tidak pernah ingkar janji dan komitmen. Itu yang kita ambil. Memang hanya komunikasi dari beliau saja yang perlu diperbaiki. Tapi kan enggak semua orang terima yang kita bicarakan. Untuk kendaraan politik, Insya Allah kita aman. Nanti setela betul-betul aman akan kita umumkan,” kata dia.

 

Sebagai istri dari orang nomor satu di Kota Tapis Berseri, apakah juga berperan dalam memengaruhi kebijakan sang suami sebagai wali kota? Bahkan sebagian publik menilai, wakil wali kotanya adalah Eva Dwiana?

Terkait hal ini, Eva mengaku tidak pernah ikut campur dalam pengaturan kebijakan di pemkot. Dia menegaskan hampir 10 tahun suaminya menjabat, paling banyak lima kali saja dirinya datang ke kantor Pemkot Bandarlampung. ’’Karena saya merasa segala sesuatunya Pak Herman bisa melaksanakan sendiri. Kalau saya ikut campur, ya tidak bisa. Kalau ada di kamar, ya saya bicara lain. Kan saya sering menulis di kamar, sambil  bernyanyi, paling berbicara curhatan saja. Saya dengarkan. Kalau memang posisinya lagi tidak mood, ya saya diam. Dan Pak Herman kalau sudah ada keinginan, dia komit, enggak bisa dihalangi,” ungkapnya.

Ditambahkannya sebagai pemilik suara terbanyak pada pileg lalu, seyogianya dia pantas menjadi Ketua DPRD Provinsi Lampung. Namun kenyataannya, dia hanya sebagai salah satu wakil ketua. Eva beralasan berbagai pihak mengetahui jika dia ingin mencalonkan diri sebagai Wali Kota Bandarlampung. ’’Semua mengharapkan saya fokus pilkada. Di mana saya ditempatkan, saya berterima kasih saja. Enggak ada kalau saya merasa tidak disukai,” tukasnya.

 

Bagaimana keyakinan mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan?

Mengenai hal ini, Eva sangat percaya diri. Dalam dialog tersebut, Eva berkeyakinan 1.000 persen. ”Bunda tidak bakal banyak omong. Lihat saja kan sebentar lagi. Yakin bisa mendapatkan rekom dari PDI Perjuangan. Seratus persen. Kalau ada 1.000 persen. Tetapi kalau mau borong partai, tidak,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Eva juga mengungkapkan beberapa program prioritasnya. Salah satunya mengenai biling pesantren. “Bagaimana program yang lama tetap ada, ini kita tambah dengan biling pesantren, kita jemput bola. Kalau bisa semua pesantren yang ada di Bandarlampung ter-cover semua. Nanti sasarannya per orang jika memang aturannya membolehkan langsung ke person. Bukan pesantren saja, tapi agama lain juga,” kata dia.

 

Lantas bagaimana dengan anggarannya? Apakah cukup?

Dia pun percaya diri meski saat ini kondisi perekonomian, termasuk pendapatan asli daerah (PAD) di Bandarlampung juga sedang anjlok. ’’Selama ini, kondisi perekonomian memang down. Tetapi kalau ke depan sudah normal, apa sih yang enggak bisa? Nanti ke depan juga ada program seluruh masjid dibantu pembayaran iuran listriknya. Ada beberapa jalan protokol yang macet-macet juga nanti dibicarakan apakah akan diperlebar atau flyover lagi, kita lihat nanti kajiannya,” ucapnya.

Mengenai PAD yang anjlok karena Covid-19, Eva mengatakan jika dia terpilih nantinya, Bandarlampung akan minim pembangunan fisik lantaran sudah banyak yang dihasilkan oleh Herman H.N. ”Sudah terbangun semua, saya kan hanya menyisir, menjaga kekokohan dan keindahannya. Jika ada tempat yang harus kita bangun, ya kita bangun. Tapi saya rasa tidak begitu besar. Saya juga akan fokus pada UMKM, mengajak pearajin, terutama ibu-ibu PKK. Saat ini sudah berjalan melakukan sulam usus dan sulam pita. Walaupun di rumah menghasilkan untuk ditabung. Juga mengenai kopi, beberapa waktu lalu kita juga diundang ke Meksiko dan mereka respons antusias. Kemudian, pengolahan kolang-kaling juga akan kita galakkan,” ucapnya.

Menjadi kontestan pilkada, menurutnya sudah barang tentu bakal ada black campaign yang dilakukan. Telebih banyak isu sensitif seperti pemkot yang belum mebayarkan THR ASN. ”Lebih ke Pak Herman jika ada serangan ya. Tapi di lingkungan ASN kan aman-aman saja. Jangan melihat persoalan dari kulitnya saja. Kalau ada bahasa negatif, ya dilihat dulu. Kalau persoalannya tidak hanya terjadi di Bandarlampung, ya biarkan saja. Tapi kalau itu tidak benar dan dibuat-buat, ya klarifikasi.

Kemudan mengenai finansial, apakah ada kekuatan besar di balik Bunda Eva? Dia menampik hal tersebut. ’’Mudah-mudahan enggak ada. Rezeki Bunda deh. Harapannya pilakada dilakukan dengan calon dari segala sesuatunya tentang adu program. Benar-benar berlomba menjadi yang terbaik, bukan saling menjatuhkan,” tandasnya. (abd/c1/rim)

Komentar

Rekomendasi