oleh

Titik Balik Firmansyah, Balon Wali Kota Bandarlampung

radarlampung.co.id– Edisi kedua Bincang Bersama Bang Aca (Chairman Radar Lampung) menghadirkan bakal calon (balon) wali kota Bandarlampung Firmansyah Y. Alfian. Dalam bincang yang tayang di Radar Lampung TV tadi malam (16/6) ini mengupas banyak hal. Mulai latar belakang Firman yang pernah menjadi pecandu narkoba sampai ditangkap polisi hingga keseriusannya mencoba menjadi orang nomor satu di Kota Tapis Berseri melalui jalur independen.

Bahasan pertama terkait penampilan Firman yang kini dinilai agamais dan selalu memakai gamis bahkan sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya.

Ini justru cara berpakaian yang menarik, sebagai seorang rektor tentu hal yang tidak biasa, apa alasannya?

Firman menilai awalnya hanya belajar dan mengikuti apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Di mana, dia juga mengaku ingin membuat gerakan new normal, jika melihat tata cara berpakaian pejuang Islam saat memasuki Indonesia dahulu. ’’Pejuang Islam pun cara berpakaiannya seperti ini. Tetapi karena perkembangan zaman, ada perubahan penggunaan pakaian di masyarakat. Tetapi yang jelas, ini adalah nikmat mengamalkan sunah nabi kita. Mencontoh nabi, ya mengalir terus pahalanya,” ungkap dia.

Bagaimana percaya diri? Apa tidak khawatir jika ada yang menganggap Anda punya pemahaman tertentu, Islam Radikal”?

Firman mengaku pakaian itulah yang tebaik baginya saat ini. Di mana memang awalnya banyak yang mengomentari. Namun lantaran dirinya juga menghormati keadaan yang lain, dalam arti tidak memaksa orang lain untuk sama dengan dirinya, hal tersebut menjadi biasa. ’’Awalnya cukup risih. Tetapi paling tidak saya tak pusing lagi memikirkan pakaian seperti apa. Lagi pula ini murah. Satu setel ini tidak sampai Rp200 ribu harganya. Mengenakan ini, saya juga merasa Nabi dan Allah bersama kita,” ungkapnya.

’’Ada yang berasumsi saya berpaham radikal. Tetapi, saya tidak berusaha berdebat. Kita tunjukkan dari kebiasaan kita, apakah kita punya sikap radikal dan sebagainya. Alhamdulillah selam ini yang kontra bisa memahami dan pelan-pelan mengikuti. Masing-masing kita punya pandangan berbeda. Bagaimana ini di­-manage, kemudian kita menghargai apa yang dilakukan orang lain, itulah muncul keindahan dalam perbedaan. Allah menciptakan perbedaan, kembar saja berbeda. Begitu luar biasanya, ada puluhan miliar manusia, tetapi tidak ada yang sama. Allah meminta kita untuk belajar dan menjadi orang yang selalu berpikir. Selama kita sandarkan kepada Allah, maka ketenangan yang kita dapatkan,” kata dia.

Melihat kondisinya yang saat ini, bagi Bang Aca seperti langit dan bumi dibandingkan dengan Firman dahulu yang merupakan pecandu narkoba, bahkan sempat ditangkap polisi dan direhabilitasi. Apakah itu semua menjadi titik tolak?

Firman bilang perjalanan hidupnya tidak seindah kebanyakan orang. Kisah kelamnya bergelut dengan narkoba menjadi hal yang luar biasa. Namun patut disyukuri karena dia menganggap Allah menunjukkan sifat Ar Rahman dan Ar Rohim kepadanya.

’’Saya yang banyak dosa seperti itu masih ditolong Allah. Ini pembelajaran saya dan semua yang melihat tayangan ini, khususnya anak muda. Jangan coba-coba narkoba, karena saya yang mengalami. Awalnya coba-coba,  lifestyle, karena tidak enak dengan kawan, akhirnya ikut-ikutan,” katanya.

Dari hasil coba-coba itu akhirnya menimbulkan kesombongan. ’’Di awal mencoba ya biasa-biasa saja. Masih bisa aktivitas dan bekerja. Masih produktif, akhirnya ini bagus bisa membuat penyemangat. Lambat laun, saya kecanduan. Saat kecanduan itu sampai pada posisi merusak diri sendiri. Tidak hanya saya, istri, anak, dan orang tua, tetapi lingkungan kerja dan semua terpengaruh. Karena saya selalu berpikir di luar batas kewajaran. Apa pun orang bicara selalu saya anggap salah,” kata dia.

Diakuinya juga pernah sampai ke fase ingin bunuh diri. Hal tersebut lantaran narkoba sudah menjadi kebutuhannya. ’’Sampai beberapa kali saya mau bunuh diri. Mau berhenti enggak bisa. Karena sudah kebutuhan. Padahal saat makai sudah enggak ada kenikmatan. Dampaknya, istri dan anak meninggalkan saya, dan semuanya,” kata dia.

Namun, dia bersyukur  Allah menolongnya dengan cara ditangkap polisi. Saat itu dirinya merupakan anggota DPRD Lampung Fraksi Partai Golkar.  ’’Pada saat itu, akhirnya semua memberikan kekuatan. Termasuk Allah, memberikan pertolongan dengan saya ditangkap polisi. Dan pada saat itu, saya diberikan kepasrahan luar biasa, namun sebenarnya sangat terbuka lebar jika saya menginginkan bebas. Aksesnya mudah. Tetapi itu tidak saya lakukan, saya ingin hijrah dan saya menjalani rehab selama 7 bulan,” jelasnya.

Saat ditahan di Polres Jakarta Barat, Firman pun mengaku masih mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Diakuinya masih mudah mendapatkan akses, tetapi dia tidak bercerita secara gamblang. ’’Di sana, saya melamun di tengah malam. Ada satu petugas namanya AKP Albertus, dia Nasrani. Mendatangi saya saat melamun. Dia bertanya kepada saya. Saya bilang, saya sudah begini tapi masih saja melakukan hal yang enggak saya suka. Saya jawab, saya resah, gelisah. Dia bilang, Anda harus kembali kepada Yang Mahakuasa, Anda kan Islam, sujudlah kepada bumi pertiwi, menangis minta ampun. Sampai-sampai dia menyediakan ruang untuk Tahajud. Saya kaget dan jika bukan Allah yang menggerakkan, siapa lagi? Sebab, dia Nasrani. Sejak saat itu saya putuskan untuk tidak mengonsumsi narkoba lagi,” ungkapnya.

Namun, katanya, perjuangan tidaklah mudah sampai dia bertemu salah satu narapidana yang kebetulan ustad. “Saat salat Jumat, saya tanya beliau, bagaimana bisa benar-benar lepas. Dia bilang, kuncinya nikmati saja. Satu, dua, tiga minggu, paling lama satu bulan masa transisinya. Dan akhirnya, alhamdulillah saya bisa lepas. Intinya jangan merasa sombong karena itu akan menjatuhkan kita. Jangan sekali-kali mencoba narkoba, sebab hanya betul-betul orang yang diberikan pertolongan oleh Allah yang bisa kembali sembuh,” imbuhnya.

 

Sebagai paslon, Apakah tidak takut hal ini menjadi ganjalan dan dimanfaatkan oleh lawan jadi kampanye hitam?

Dia mengaku hal tersebut tidak masalah. “Akhirnya saya berpikir, kalau dalam perjalanan saya ada yang mengangkat masa hitam saya, ini adalah pembelajaran. Pelajaran hidup saya, apa yang saya lalui, maka orang bisa belajar tanpa harus dengan apa yang saya lalui. Orang jatuh itu perkara yang pasti, tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah, hanya Allah masih menutupi aibnya saja. Allah tidak melihat Umar bin Khattab di awal, tetapi akhirnya dia dimuliakan. Nabi Muhammad SAW juga pernah menyampaikan, kalau ada nabi setelah saya ialah Umar. Jadi jangan pernah merasa galau dan frustrasi,” katanya.

 

Mengapa memilih jalur independen?

Firman mengaku awalnya dia diminta untuk menjadi balon wakil saja. Namun dalam perjalanannya, setelah istikarah, Allah menunjukkan jalan tersebut. “Yang meminta saya jadi wakil, kata orang dia, pasti menang. Tapi dalam perjalanannya terjadi dinamika politik, dan maju atau tidak, saya bicarakan dengan tim. Kebetulan didukung juga para ulama, menyampaikan harapan, tetap maju dan kita maju independen,” katanya.

”Pertimbangannya, tapi begini saya enggak bisa bicara fulgar. Jika pencalonan harus bisa mengeluarkan biaya besar dan akhirnya punya utang janji dengan banyak orang, saat itu nanti kita tidak bisa betul mengabdi pada masyarakat,” kata dia.

Mengenai pencalonannya, Firman Berjamaah, yakni Bersih, Jujur, Makmur dan Amanah. Dia mengaku pesan yang ingin disampaikan yakni keinginannya mengajak orang berpikir untuk taat kepada Allah. “Artinya mengingatkan kawan semua khususnya untuk muslim, berjamaah dalam konteks Islam ini biasanya dilihat seperti Salat berjamaah. Namun dalam konteks pemerintahan adalah secara bersama atau bergotong-royong. Artinya, dalam pembangunan, semua unsur masyarakat kita libatkan. Saat berjamaah, kita akan menghormati siapa yang mengimami kita. Jadi jika Allah memberikan amanah kepada kita untuk menjadi pemimpin di Bandarlampung, maka semua akan menjadi bagian dari pembangunan. Tidak hanya Islam, tapi yang Budha, Kristen, dan semuanya. Karena pemimpin berdiri di atas semua lapisan, memperjuangkan nasib seluruh masyarakatnya, bukannya itu yang dicontohkan nabi juga.  Tidak ada yang namanya peaksaan. Akhlak yang ditunjukkan,” jelasnya.

Bersih, kata Firman, tidak melakukan tindakan yang salah, tidak KKN. “Saya juga bukan orang yang bersih, saya sedang berusaha.  Dalam konteks pemerintahan secara keseluruhan, makanya pemimpin ini harus bersih duluan,” katanya.

Menurutnya bagaimana menjadi bersih, kuncinya adalah transparansi. Salah satu transparansi yang dilakukannya saat ini adalah dunia hitam yang dialaminya beberapa tahun lalu. Jadi, dia juag berharap semua ketransparansian bisa terimplementasi saat dia memimpin.

 

Apakah yakin transparansi terealisasi dengan gaji pokok kepala daerah yang masih dianggap kecil?

Firman mengatakan hal tersebut bergantung pada keyakinan diri saja. Dia meyakinkan publik untuk maju pilwakot ini saja tidak mau menggembar-gemborkan anggaran, bahkan sampai di atas Rp100 miliar, lantaran pendapatan halal yang didapat tidak mencukupinya. “Terlebih hasil pilkada ini hanya 3,5 tahun. Saya sampaikan pada tim, bersih ayo maju dengan semangat,” kata dia.

 

Banyak yang mengklaim bersih, tetapi banyak juga yang ditangkap KPK, bagaimana? 

Dia mengaku akan menerapkan transparan dengan berbasis teknologi. Dimana bakal ada digitalisasi smart governance. Saat ini, dia menilai sangat sulit untuk mengetahui berapa nominal Pendapatan Asli Daerah (PAD), sumbernya dari mana saja, untuk apa penggunaaanya, ke proyek mana saja, dan siapa yang mengerjakannya.

“Jika benar jabatan diberikan kepada kami, kami lakukan transparansi digitalisasi. Kalau sudah terbuka, orang pun takut orang ikut mengawasi. Misal ada pembangunan jalan, nanti tinggal klik saja, jalan itu nilainya sekian, pelaksananya ini, speknya, ketebalan, dan sebagainya. Kalau salah bisa cek dan lapor. Kalau kita tidak dapat uang dari mereka, kita berikan hukuman juga enggak ragu-ragu,” kata dia.

Bagaimana memanivestasikan kata jujur dalam mengelola Bandarlampung?

Firman mengatakan, jujur adalah berani mengatakan yang sebenarnya saat kita punya kelemahan. “Katakan saja, kalau enggak sanggup kerja ya katakan. Contoh masalah banjir, karena saya enggak sanggup, maka saya butuh pakarnya, Prof. Bustomi (pasangan calon independennya, red). Apa yang kita tidak mampu, ya kita cari ahlinya,” kata dia.

 

Berani tidak jujur pendanaan saudara dari mana?

Dia mengaku sampai saat ini banyak yang membantu perjuangannya. “Jujur, yang saya keluarkan tidak banyak. Tidak sampai Rp1 miliar. Banyak yang membantu karena tau saya berjuang lilahitaala. Ada perjuangan ideologis, ada sesuatu yang bisa titipkan. Contoh yang membuat saya greget, kita masyoritas agama Islam, kita belajar agama di sekolah selama 12 tahun, tapi realita yang kami hadapi saat anak-anak masuk ke Darmajaya, saat tes baca kuran sebanyak 40 persen tidak bisa mengaji, dan 20 persen tidak bisa membaca Alfatihah. Ini kan kerisauan. Artinya, program keagamaan harus berjalan, siapa pun pemimpinnya,” kata dia.

 

Mengenai adil, apakah tidak berat?

Adil, kata Firman artinya menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Misalnya dalam menempatkan sesorang, dalam membuat kebijakan. “Saya tegaskan, saya adalah pejuang ideologi. Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Adil, siapa yang mau proyek, ya ikut tender. Mau jabatan, ya ikut lelang terbuka. Kemudian tidak memberikan kebijakan kepada muslim saja, tapi sesuai proporsi. Misalnya, kami juga punya program menggratiskan pembiayaan listrik dan PDAM rumah ibadah. Bukan hanya masjid dan musala,” kata dia.

Terkait amanah, kata Firman, dalam agama Islam sudah barang tentu menjadi pemimpin harus amanah. Banyak orang yang memiliki kepemimpinan bagus di Lampung ini. ’’Namun, setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban. Kalau kita tidak amanah, kalau kita lalai, ada masyarakat yang terzalimi, pengadilan manusia bisa kita hindarkan, tetapi pengadilan Allah tidak bisa,” pungkasnya. (abd/c1/rim)

Komentar

Rekomendasi