oleh

Berkarya di Tengah Pandemi, Masker Tapis Dari Balik Jeruji

radarlampung.co.id – Wanita-wanita itu berkumpul di ruangan ukuran 4×6 meter. Ada jeruji. Dua duduk di kursi. Fokus dengan kegiatannya. Memotong kain sesuai ukuran yang ditentukan.

Lainnya, dua orang, menjahit potongan kain. Ada kain polos, motif dan kain tapis. Di sisi lain, petugas mengawasi dari balik jeruji.

Mereka, wanita yang menjadi warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakaan Perempuan Kelas II Bandarlampung. Mengisi kegiatan dengan membuat masker berbagai jenis.

Para wanita ini terlihat cukup menikmati kegiatan tersebut. Mengisi kejenuhan saat berada di balik jeruji besi. Menjalani hukuman.

Desi Ariyani, sudah sebulan belakangan ikut membuat masker. Sejak pandemi virus Corona merebak. Puluhan masker sudah dibuat bersama rekan-rekannya..

”Tadinya diajari sama kawan dulu. Baru buat masker. Sudah hampir sebulan” kata Desi.

Wanita yang dihukum delapan tahun penjara karena kasus penyalahgunaan narkoba ini mengungkapkan, butuh waktu sekitar lima menit untuk membuat satu masker. Tergantung persediaan bahan.

Meski sederhana, masker karya WBP ini tidak dibuat asal. Dibuat hingga empat lapis. ”Ada empat lapis. Bahannya dari kain sponbon dan dilapisi tisu,” sebut Dewi Amalia, WBP yang cukup mudah dikenali karena tangannya dipenuhi tato.

Sementara Kasubsi Sarana Kerja Lapas Perempuan Kelas ll Bandarlampung Elka Yuvita mengatakan, hingga saat ini sudah ada sekitar 1.000 masker yang dibuat. “Sebagian dibagikan ke warga binaan. Sisanya untuk masyarakat,” kata Elka.

Tidak hanya itu. Ada juga petugas dan masyarakat yang memesan masker. Untuk jenis kain dihargai Rp7 ribu per buah dan masker tapis Rp15 ribu.

”Ada yang pesen. Mereka beli Rp7 ribu per orang. Ada juga yang beli lewat online. Lewat medsos kami,” tegasnya. (gar/ais)

Komentar

Rekomendasi