oleh

Upaya sang Jenderal Jadikan Bandarlampung Lima Besar Nasional

BANDARLAMPUNG – Pada episode ketiga, Bincang Bersama Bang Aca menghadirkan Irjen Pol. (pur.) Dr. Hi. Ike Edwin, S.I.K., S.H., M.H. Diketahui, pria yang karib disapa Dang Ike ini mencalonkan diri sebagai wali kota Bandarlampung melalui jalur independen. Karir jenderal bintang dua ini pun bisa dibilang moncer. Mulai Kapolres dan Kapolda pernah dijabatnya. Terakhir sebagai Staf Ahli Kapolri Bidang Politik.

 

Apa tidak turun derajat sebagai jenderal bintang dua mencalonkan diri sebagai Wali Kota?

Membangun daerah, jelas Dang Ike, bukan berdasarkan status sosial seseorang. Dia lebih mengutamakan kepada ibadah. ’’Kata Allah SWT, ibadah itu sangat mulia. Lebih mulia dibanding status sosial. Mau bintang dua, bintang tiga, semua rata di mata Allah SWT. Sebab nanti saat kita mati, bukan pangkat jabatan yang ditanya. Tetapi, ibadah apa yang kita lakukan selama hidup. Jadi tidak masalah, jangankan wali kota, jadi lurah, guru, pak RT juga saya mau karena yang saya lakukan ibadah,” ungkapnya.

 

Bagaimana jika gagal, apa tidak malu? Melihat Dang Ike selain mantan jenderal polisi, juga tokoh adat Lampung yang dikenal orang banyak.

Mantan Kapolda Lampung itu menyatakan hal tersebut tidaklah menjadi persoalan. Jangankan gagal dalam pilwakot,  kata Dang Ike, jika dia mengikuti pemilihan kades atau pemilihan RT pun tidak akan menyesal jika kalah.  ’’Karena saya paham, semua itu yang mengatur Allah SWT. Karena Allah SWT sudah tahu siapa wali kota Bandarlampung 2021. Kita hanya berdoa dan berupaya. Kalau nanti kita tidak terpilih, ya tidak perlu menyesal. Jadilah wali kota yang diridai-Nya. Kata Umar bin Khattab, aku tidak ingin susah matiku karena jabatanku tidak amanah,” ungkapnya lagi.

 

Pernah menolak naik pangkat untuk ingin pulang kampung dan bertugas, alasannya?

Dengan tegas, Dang Ike mengatakan ingin membuat kampung halamannya lebih baik lagi. Di mana dengan berbagai pengalamannya bertugas di berbagai tempat, dengan segala kelebihannya, dia ingin membawa hal positif tersebut masuk di Kota Tapis Berseri. ’’Saya ingin kampung saya baik, hidup damai, sosial yang baik. Manusia yang ada di sini berakhlak, caranya ayo kita bangun Bandarlampung. Kok di daerah lain bisa lebih baik, kok kampung saya masih belum bisa. Yaitu degan menjadi daerah peringkat lima besar nasional, dalam hal PAD, pendidikan, kesejahteraan, pariwisata, kesehatan, dan sebagainya. Nah, saya polisi ada prestasi tapi di daerah lain. Saya ingin bawa prestasi itu ke Lampung. Saat saya Kapolda, tingkat kejahatan menurun. Sekarang ada kesempatan mengapa tidak saya coba. Saya masih kuat, saya masih mampu, saya punya pengalaman di 13 provinsi dan 187 kabupaten/kota sudah saya datangi,” ucapnya.

 

Jalur independen, mengapa tidak melalui parpol?

Dang Ike beralasan ingin mengembalikan kedaulatan rakyat dengan cara politik yang bersih. Saat ini, menurut dia aroma money politic masih tercium dengan sembako dan kecurangan-kecurangan lainnya.  “Ini kan masyarakat dibodohi. Diberi uang hanya cukup lima hari saja. Tapi dalam lima tahun berpuasa. Dan setelah itu pemimpinnya lupa dengan programnya. Saat menjabat tidak ada progres daerahnya. Mengapa independen, saya ingin menjadi pemimpin yang bermanfaat. Jadi pemimpin bukan meninggikan kesombongan dan menambah kekayaan atau bahkan pamer jabatan. Siapa yang paling susah di Bandarlampung adaah Wali Kota, karena kalau rakyatnya sudah makan, pemimpinnya baru bisa makan. Jangan terbalik. Percuma kita mewah-mewah jika masih ada rakyat yang susah. Jadilah pemimpian yang diridhoi Allah,” ucapnya.

 

Banyak pemimpin menjanjikan kejujuran tapi realitanya tidak, bagaimana menurut Dang Ike?

Menurutnya menjadi pemimpin harus yang diridhoi oleh Allah Swt. Dengan mengedepankan akhlak. Menurut dia, dengan berakhlak bisa menciptakan harta. Namun tidak begitu sebaliknya. “Jika perlu dia harus terlebih dahulu merasakan susah. tidak mau mengambil hak orang. Karena janji Allah Swt itu luar biasa. Jadi kita harus jujur. Kalau kita tidak jujur dari awal, bagaimana melaksanakan kepemimpinan dengan gaji tidak sampai Rp2 miliar selama lima tahun, tapi mengeluarkan biaya belasan miliar? Kalau saya pakai uang Allah. Keyakinan Allah saja, Allah bisa kasih kok. Pasti ada saja janji Allah itu,” kata dia.

 

Keberhasilan seorang pemimpin dilihat dari mana?

Keberhasilan seorang pemimpin dilihat dari sosial budaya kemasyarakatannya. Dang Ike tidak melihat dari segi materi dan pembanguunan infrastruktur. “Lihat budayanya, sosial masyarakatnya, dan keharmonisannya. Sekali lagi, pegangan itu ada di akhlak. Jangan sampai kotanya bagus, malah terjadi mabuk-mabukan, kejahatannya naik, percuma membangun kekayaan tanpa akhlak. Sekarang begini, kita bangun gedung lantai 50 tapi di sekitarnya ada orang miskin. Mengapa tidak yang sewajarnya saja, sisanya untuk membangun kesejahteraan. Saya lebih ke akhlak, sebab sejahteranya lebib berkepanjangan,” ucapnya.

Cara membangun akhlak itu, kata Dang Ike, nantinya dimulai dai lingkungan terkecil. Untuk di pemerintahan misalnya, yang muslim akan dbuatkan aturan saat jam makan siang harus melaksanakan Salat terlebih dahulu. “Misalnya sudah masuk jam 12.00 siang, semua salat. Non muslim berdoa. Kemudian pimpinan di segala level harus menjadi tauladan. Memberi contoh yang baik,” kata dia.

 

Menurut Dang Ike, potensi apakah yang harus dikembangkan ke depannya?

Ada beberapa sektor yang bakal dikedepankan jika dirinya terpilih sebagai Wali Kota. Janjinya ingin membuat segala sektor menjadi lima besar Nasional paling tidak menjadi tiga kali lebih baik dari yang ada saat ini.  ”Saya ingin perkapita diangkat. Dari semua seumber ekonomi kita angkat menjadi penambahan kekayaan di Lampung. Kota pariwisata,  kita bisa menjadi dua atau tiga kali lebih baik. Lampung ini Ibukota Sumatera, harus ada penekanan angka kemiskinan paling tidak bertahap setiap tahunnya,” kata dia.

 

Selama di polisi sudah belajar, apa yang bisa diambil untuk membangun Kota Bandarlampung?

Dakuinya berbagai tempat sudah diinjakanya selama menjadi polisi. Dia juga melihat langsung bagaimana program-program yang baik di tempat itu dan berpikir bagaimana mengadopsinya di Kota Tapis Berseri.  “Saya pernah di Jakarta, Ujung Pandang, Bandung, Semarang, Palembang, dan kota besar semuanya. Di situ saya melihat langsung, belajar, mana program yang baik. Mengapa itu tidak saya bawa ke Bandarlampung. Kemudian saat saya data dan evaluasi, ternyata Bandarlampung masih banyak kalahnya. Mencontoh yang baik tidak masalah karena untuk kepentingan umat,” ucapnya.

 

Terkait pendapatan untuk kesejahteraan, apa yang bisa digagas untuk mendongkrak PAD?

Dang Ike punya hitung-hitungan perputaran uang sebanyak Rp12 triliun selama satu tahun. Hal itu bisa masuk dan membantu pundi-pundi yang masuk ke PAD.  Dia mengatakan Lampung ini diapit dengan 7 provinsi. Jika dikalkulasikan, penduduknya hampir 80 juta jiwa. Mulai dari Sumel, Banten, Bangka, dan Jawa Barat misalnya.  “Kalau mereka pergi ke Lampung dengan 2 persen total jumpah penduduknya saja, jika satu orang membelanjakan uangnya di Lampung, saya kira Rp12 triliun itu bisa tercapai. Orang sudah agak bosan ke puncak, bisa alternattif ke sini. Tentunya dengan mendukung segala potensinya. Jangan takut dengan permasalahan Covid-19. Pasti Allah akan berikan yang lebih baik,”ucapnya.

Menurutnya , saat ini banyak program bagus yang sudah dilakukan di kepemimpinan Herman H.N. “Pak Herman baik, PAD-nya bagus, dan flyover sangat berguna. Kalu bagus kita harus bilang bagus. Tapi, saya akan berusaha lebih bagus tiga kali lipat. Kota Teraman, Kota Mendunia, paling tidak bisa masuk lima besar nasional dalam segala hal,” yakinnya.

          Dia melanjutkan akan membuat kota yang mendunia. Dimana di Indonesia menurutnya ada dua kota yang mendunia. Pertama Makasar urutan 80 dan Jakarta urutan 83 dari 10 ribu kota di seluruh dunia.  “Mengapa tidak bisa cita-cita saya menjadikan Bandarlampung urutan ke-85, jadi masuk 100 besar dan itu kebanggan buat saya jika terwujud,” harapnya.

Mengenai kota teraman, modal latar belakangnya sebagai polisi tentu akan dimanfaatkannya. Saya mantan kapolda. Saat menjabat Kapolda Lampung, Lampung menjadi kota teraman. Tentunya saat saya menjadi walikota, ya saya tunjukkan, mantan kapolda jadi wali kota ya harus aman. Kerja sama dengan TNI-Polri dan lainnya,” kata dia.

Dalam closing statement, Dang Ike berharap pelaksanaan pilwakot bisa jujur dan bersih. ’’Adakan kompetisi yang sehat bermartabat. Percayalah bahwa Allah sudah tahu siapa wali kotanya. Maka kita lakukan cara sehat berkompetisi. Tinggalkan demokrasi membohongi rakyat, suap-menyuap, janji palsu, dan sebagainya. Setiap orang dijanjikan Allah SWT sudah ada ketetapan nantinya. Kalau pilih saya, Bandarlampung akan saya jadikan berakhlak, mendunia, sejahtera tiga kali lebih baik,” pungkasnya. (abd/c1/rim)

Komentar

Rekomendasi