oleh

Mantan Centeng yang Ingin Bangun Lamsel dengan Kebersamaan dan Gotong Royong

radarlampung.co.id– Acara Ngopi Bareng Bang Aca terus menghadirkan tokoh inspiratif. Kali ini yang dihadirkan adalah Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto yang juga bakal menjadi kontestan pemilihan bupati setempat pada 9 Desember 2020.

Pada acara yang disiarkan Radar Lampung TV dari Kopi Wartawan itu, Bang Aca –sapaan akrab Chairman Radar Lampung Hi. Ardiansyah– mengupas bagaimana sosok Nanang.

 

Apakah Anda menyangka dari seorang kepala desa bisa menjadi seorang bupati?

Saya tidak pernah menyangka bisa menjadi seorang bupati. Ini merupakan sebuah proses yang panjang dan tidak mudah. Sebab dari sekolah saya termasuk anak yang nakal. Di eranya dulu, kalau tidak nakal tidak ngetop. SD saya lima kali pindah sekolah. Begitu SMP, tiga tahun saya di Wisma Handayani, Jakarta Selatan. Itu sekolah khusus untuk anak nakal.

Kemudian saat SMA, saya mencoba di SMA Wijaya.  Karena saya sudah berhitung kalau mau masuk negeri tidak akan diterima. Tetapi di SMA Wijaya saya ditolak, alasanya karena sekolah itu masih pengawasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PDK kala itu).

Karena ditolak di SMA Wijaya, lantas saya mencoba mendaftarkan diri di SMA Tunas Harapan di Tegineneng. Saya daftar di situ, karena sekolah itu baru tiga lokal, dia tidak melihat ijazah lagi. Begitu naik kelas 2, saya dipanggil ketua yayasan. Begitu diperiksa, pihak sekolah baru mengetahui saya alumnus sekolah anak nakal itu. Saya bilang sudah menunjukkan iktikad baik, saya mohon dididik di sini. Gurunya dari dosen Unila, ujian menumpang di SMAN 5, saya lulus. Kemudian saya membantu orang tua berkebun di Waygalih, sama dulu ibu punya rumah makan. Di situ proses saya berkembang berorganisasi kepemudaan. Saya jadi satpam pernah, jadi centeng, semacam sekuriti.

Saya sudah masuk di PDIP 1982–1992, pernah saya jadi BPD di Waygalih dan 2007 saya jadi Kades selama dua tahun. Kemudian menjadi anggota DPRD Lamsel tahun 2009, satu periode tamat. Ikut yang kedua masuk juga. Satu tahun berjalan, saya dipinang jadi Wabup. Terpilih. Sempat dibilang ijazah palsu.

 

Masih hangat mengenai Bupati Lamsel sebelumnya tersandung kasus korupsi. Apakah Anda merasa ada yang berasumsi bahwa itu adalah ulah Anda?

Itu sangat tidak benar. Saya tidak menyangka. Saat saya hidup di lapangan, di situ saya punya integritas. Allah yang tahu, manusia ada saja yang prediksi seperti itu. Tetapi, Allah tahu apa yang saya lakukan. Apalagi saya hidupnya di lapangan.

 

Apa hambatan Anda ketika menjadi Plt. Bupati Lamsel?

Kalau sudah waktunya kan sampai juga. Saat menjadi Plt, awalnya yang menjadi tantangan saya adalah adanya tsunami birokrasi karena kasus kepala daerah sebelumnya. Kemudian, banjir bandang di Kalianda. Jembatan penghubung rusak dan saya bangun tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tapi dari Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan. Saya budayakan sejak saya menjadi kades, saya tidak pernah mengutamakan anggaran pemerintah. Pernah saat itu Balai Desa mau rubuh, saya gunakan CSR dari PTPN waktu itu.

Caranya, saya waktu itu koordinasi dengan Dinas Perizinan, kami undang pelaku usaha, saya ajak dialog. Saya minta masukan. Apa keluhan pengusaha saya tampung supaya ada sinergi dengan pemkab. Kebanyakan keluhannya mengenai perizinan. Setelah saya berdialog, saya jamin percepatan perizinan, tapi saya bilang masyarakat juga sedang butuh. Perbaiki dulu jembatan itu, hingga akhirnya jembatan itu selesai dengan menelan dana Rp2,7 milar. Tapi, cobaannya lagi, belum selesai jembatan dibangun, Lamsel ditimpa musibah tsunami beneran karena letusan Gunung Anak Krakatau.

 

Apa yang terberat saat terjadi tsunami birokrasi?

Kejadian itu merupakan hal yang berat. Sebab, saat itu semua mental ASN terganggu, sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi stagnan. Seperti anak ayam kehilangan induknya. Akhirnya, saya kumpulkan dan motivasi. Saya tekankan Lamsel akan terbangun dengan gotong royong dan kebersamaan. Persoalan lain adalah bagaimana saat itu serapan anggaran tidak maksimal dan itu menjadi pelajaran ke depan bagi saya. Saya tidak ingin pembangunan sengaja dikebut di penghujung tahun. Ada apa itu? Saya akan laksanakan tertata sesuai dengan perencanaan dari awal tahun. Jadi ketika memang proyek selesai di tengah tahun, masih ada waktu perbaikan.

 

Apa yang sudah Anda lakukan selama dua tahun ini?

Saya fokus menanamkan kepada birokrat akan pentingnya kepedulian rasa memiliki daerah. Pertanggungjawaban kita bagaimana pembinaan di desa-desa, ada tupoksi masing-masing, tapi tidak boleh ego. Harus tim, bagaimana Lamsel yang kita bangun adalah gotong royong dan kebersamaan. Pengalaman saya di lapangan, saya menjadi tahu karena kebersamaan dan kepedulian bisa timbul inovasi-inovasi. Kalau kita tegang kan inovasi itu tidak akan muncul.

Untuk melakukannya, yang pertama adalah merubah mindset ASN secara menyeluruh. Dia menilai, adanya gap di antara ASN yang terjadi selama ini.  Jadi, bagaimana semua level pimpinan harus memiliki tanggungjawab. Apa yang diperbuat untuk Lamsel harus ada sinergi.

 

Dengan adanya JTTS, apa keuntungan yang bisa diambil?

Di awal pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) membuat kondisi ekonomi terutama di wilayah Kalianda dan sekitarnya mengalami penurunan. Tapi itu kan hanya awal saja. Karena saat itu kan jalan tol digratiskan. Jadi animonya masih tinggi. Nah, lambat waktu saya kira tetap ada keuntungannya. Potensi, wisata kita akan kita tingkatkan. Mengenai lahan tidur, kita punya lokasi yang seharusnya bisa jadi potensi wisata menghidupkan UMKM. Seperti GOR Wayhandak. Dulu ada gedung besar, megah, tapi mangkrak. Posisinya juga tidak jauh dari rumah dinas Bupati. Saya lihat, saya desain, kita bangun tidak menggunakan APBD, itu CSR.

Lihat saja, saat ini jadi tempat UMKM dan kuliner. Kita bangun panggung kegiatan anak muda mengekspresikan budaya, bisa untuk rekreasi juga. Stadion tetap, hanya direhab saja.

Kemudian, tata ruang harus kita kelola. Nah, di rumdis itu ada lahan seluas 2 hektare. Saya bersihkan, saya tanami sayuran dan sebagainya untuk edukasi pertanian kepada anak-anak sekolah dan ibu-ibu PKK. Ini juga bisa dicontoh untuk ditanam di pekarangan rumah. Bisa memberikan nilai tambah.

Lalu, ada juga lahan 19 hektare dan saya sedang memproses bantuan dari pusat untuk bibit pohon kelapa. Lahan ini akan digunakan untuk ketahanan pangan ke depan.

 

Lamsel wilayahnya luas, bagaimana menyiasati persoalan administrasi?

Untuk kepengurursan Adminduk, pembuatan e-KTP , tidak perlu lagi  ke Kalianda. Cukup dilakukan kecamatan saja. Pelayanana kita keliling. Tapi, kalau di Natar, Jatiagung, dan Tanjungbintang sudah permanen. Mengenai Kotabaru, kita juga mendukung saat ini kan sedang berproses.

 

Mengenai pilkada bagaimana?

Untuk PDI Perjuangan sudah pasti. Saya kira tidak ada kader lain yang mencalonkan diri. Jadi mungkin ini memang sudah jalannya. Dari hitungan kurang kursi memang satu. Tapi juga sudah dapat dari Hanura dan NasDem.  Kita juga masih silaturrahim dengan parpol lain. Ada partai pecahan Partai Gelora dan Partai Garuda yang sudah mengikrarkan mendukung saya meskipun tidak ada parlemen. Parlemen sudah bersama kira juga, kemudian PPP, kalau nanti ada partai lain menyusul.

 

Apa yang bakal dilakukan jika kembali dipercaya?

Saya sebagai nakhoda. Kapal ini sebelumnya kan bakal tenggelam. Tetapi dengan kepemimpinan saya, kapal ini bisa bersandar di dermaga. Setelah sandar saya punya tugas, penilaiannya kan sudah teruji sudah 2 tahun ini, bukan katanya. Kepemimpinannya sudah teruji dan terbukti di 2 tahun transisi. Ke depannya saya punya pandangan lebih baik. Peristiwa tsunami memang saya anggap paling berat. Namun  kita tercepat dalam penanganannya. Terkait Covid-19 kita zero saat ini. Penanganan terus kerja sama kepedulian dan gotong royong dari bawah samapai satgas kabupaten.

Ini tidak terlepas sinergi forkopimda. Bagaimana kita sama-sama menuntaskan. Ini sangat berat sebab se-Sumatera lewatnya di Lamsel. Khusus saya bersama tim gugus tugas melakukan pemantauan khusus di pelabuhan Bakauheni. Kita selalu menyosialisasikan, bagaimana menghormati protokol kesehatan. Setiap desa perbatasan tim sudah ada pos, begitu ada tes thermo scanner wajib dilakukan.

Kita sama-sama menjaga, niatan kita menjadi pemimpin adalah menyejahterakan masyarakat, bukan merebut kekuasaan dan kepentingan pibadi. (abd/c1/fik)

 

Komentar

Rekomendasi