oleh

Virus dari Surabaya Itu Bernama “New Jurnalism”

Banyak yang bertanya-tanya kenapa Abah –sapaan akrab Dahlan Iskan– nekat membuat koran. Sebentar saya ralat. Bukan koran, tapi harian. Ya Harian DIs’Way namanya.

Laporan: Anggri Sastriadi/RADARLAMPUNG.CO.ID

HARI yang ditunggu-tunggu itu datang. Tepat Sabtu (4/7) kemarin. Harian DIs’Way diluncurkan oleh Abah. Kertasnya beda. Bukan seperti koran. Lebih tepatnya seperti kertas majalah.

Jumlah halamannya 48. Terbit setiap hari.

Launcing-nya pun sangat berkesan kemarin malam –disiarkan lewat Youtube. Penontonnya juga banyak. Dan ditunggu-tunggu masyarakat.

Terbitnya Harian DIs’Way nantinya akan menyelamatkan dunia jurnalistik ke era new jurnalism –itu kata Abah yang disampaikan ke kami.

Sebelum saya membahas lebih dalam alasan Abah menerbitkan Harian DIs’Way, Saya akan cerita. Kenapa saya sampai mengetahui sekali Harian DIs’Way ini diluncurkan.

Saya sangat beruntung –kata rekan-rekan di Lampung. Bisa ikut pelatihan. Selama sebulan bersama Abah. Ada 12 perwakilan wartawan dari seluruh Indonesia yang dikirim ke Surabaya. Tujuannya sama: untuk mengikuti Bengkel New Jurnalism.

Pelatihannya di Kantor DIs’Way News House. Beralamat di Jalan Walikota Mustajab, Nomor 76, Surabaya. Tepat di depan Balai Kota. Dan sekitar 300 meter dari tempat kami menginap.

Banyak yang dibedah dalam pelatihan ini. Contohnya pembahasan mengenai nilai berita. Juga ketajaman dan penulisan yang baik.

Bedah-membedah hanya sampai di hari kelima –pematerinya Taufik Lamade: mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos.

Sampailah di hari kelima, Abah mengisi materi pelatihan. Di sini Abah belum memberikan ilmu-ilmunya kepada kami. Hanya membahas alasan akan membangun sebuah harian –beliau tak mau disebut membangun koran.

Karena katanya masa kejayaan koran sudah habis. Dan harus ada ide baru. Ia hanya mau bilang harian. Ya, harian yang telah mengadopsi gaya New Jurnalism (jurnalis baru).

Sebelum itu, Abah pun memberikan pertanyaan ke kami. Mengenai perkembangan koran di masing-masing daerah –termasuk di Lampung. Saya jawab baik-baik saja: takut salah penyampaian.

Barulah Abah membahas alasan kenapa kami dipanggil. Untuk mengikuti Bengkel New Jurnalism. Alasannya cuma satu: demi menyelamatkan dunia jurnalistik yang tengah banyak digempur media sosial (medsos).

Tetapi, hal yang paling berkesan dikatakan Abah ke kami: kalian ini akan menjadi dokter-dokter jurnalis. Jurnalis kelas tinggi. Jurnalis yang nantinya mencapai kelas Brahmana. Yang akan menyebarkan virus-virus New Jurnalism ke medianya masing-masing –tapi bukan virus Covid-19.

Selama ini kata Abah, sejak tiga tahun lalu ia tak pernah membaca koran –kebetulan katanya dia tidak di Jawa Pos lagi.

Namun dalam tiga tahun itu ia melakukan riset –sebagai orang koran tentunya. Abah bertanya-tanya, kenapa oplah koran ini terus turun di Indonesia: termasuk di dunia. Juga banyak ditinggal pembaca.

Apa yang salah? –kata Abah. Tentunya ini karena serbuan medsos. Sehingga semua orang bisa menjadi wartawan bagi dirinya sendiri. Bukan (serbuan) news online.

Lalu ia pun berasumsi. Bahwa tidak ada lagi koran yang akan menang melawan medsos.

Nah, dari hasil obrolan itu. Saya menyimpulkan bahwa Abah yakin media cetak (koran) tidak akan mati. Asalkan dihidangkan dengan cara New Jurnalism.

Keesokan harinya. Tibalah kami 12 orang ini satu per satu menghadap Abah. Untuk menyetorkan tulisannya yang telah berbentuk berita. Agar dikoreksi olehnya.

Waktu itu saya menyetorkan ke Abah berita berjudul: Selama 37 Hari Ini Ada 1.398 Kendaraan Disekat dan 5.304 Pelanggaran.

Tak sampai lima menit. Abah langsung memberikan kritiknya: Tulisan saya capek dibacanya. Juga enggak ada dagingnya. Semua tulang. Dan penyajiannya pun bikin pembaca malas membaca –itu karena masih menganut penulisan jurnalis lama.

Abah pun menilai bahwa berita saya terlalu panjang. Seharusnya ada gaya-gaya bertutur dalam penulisan berita –saya tahu harus seperti tulisan DIs’Way tentunya.

Saya pun diberi waktu 2 hari untuk merevisi tulisan itu. Seketika itu juga. Saya amati dan baca berulang kali. Nah ketemu masalahnya.

Beritanya terlalu menjelimet –ruwet. Banyak kata yang diulang. Juga pemilihan kalimat lebih mengarah ke bahasa para pejabat –yang tak dipahami pembaca. Dari situ saya pun langsung merevisinya.

Dua hari berlalu. Tibalah saya menghadap Abah lagi. Di ruangan khusus –mejanya pun dari keramik yang sangat bagus. Warnanya putih susu. Nah, ruangan itulah yang nantinya akan dijadikan tempat pertemuan para tamu Harian DIs’Way.

Setelah saya setorkan lagi tulisan yang telah direvisi. Tak perlu waktu lama Abah membaca –kalau dihitung hampir 3 menit. Tiba-tiba Abah bilang: tulisan anda sudah mulai bagus. Ada kata-kata bertutur. Dan daging beritanya juga banyak.

Mendengar pujian itu, Saya pun merasa lega dan senang –gimana enggak senang (dalam hati saya) dipuji seorang yang menginspirasi dalam menulis.

Keesokan harinya Saya diberi kesempatan kembali menyetorkan satu berita. Kali ini saya menyetorkan berita mengenai aksi pencurian kapal milik warga negara asing. Tentunya sudah saya revisi berulang-ulang kali. Supaya sesuai apa yang diberitahu Abah.

Alhamdulillah. Berita kedua saya ini tak dikritik sama sekali. Kata Abah: berita anda sudah mengadopsi penulisan new jurnalism –begitu senangnya kembali dipuji Abah.

Seminggu sudah kami dibimbing. Tibalah saya diberi tugas. Untuk investigasi memberitakan gedung mangkrak di Surabaya. Saat itu saya tak sendiri. Bersama rekan lainnya: Ade Gustiana dari Radar Cirebon.

Apakah berita yang saya buat bersama Ade itu akan diterbitkan. Di Harian DIs’Way Itu pun tak tahu. Yang saya tahu hanya mengerjakan proyeksi. Juga mengubah gaya tulisan dan cara liputan saya.

Terciptanya Harian DIs’Way ini merupakan pertaruhan seorang Dahlan Iskan. Bagaimana tidak. Di masa pandemi Covid-19 banyak usaha-usaha media melemah. Juga gaya jurnalistiknya pun masih menganut gaya lama.

Tetapi, seorang Dahlan Iskan optimis dirinya bisa menyelamatkan dunia jurnalistik. Asalkan dikemas dengan cara berbeda.

Harian DIs’Way tersebar di tiga daerah: Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Cakupannya masih di wilayah Jawa Timur. Tetapi tak menutup kemungkinan. Harian ini akan merambah ke seluruh pelosok negeri di Indonesia –untuk menyebarkan virus New Jurnalism.

Selamat datang Harian DIs’ Way. Selamat datang New Jurnalism. (*)

Komentar

Rekomendasi