oleh

Edwin Rusli Pelayan Masyarakat Dibidang Kesehatan

radarlampung.co.id – Bermula dari ketertarikannya dengan kedokteran. Sosok ayah tiga anak ini memutuskan keinginannya menjadi dokter. Tak banyak yang ia citakan. Hanya ingin bantu banyak orang. Melalui ilmu pengetahuannya dibidang medis.

Akhirnya, hatinya teguh. Edwin Rusli memilih jalannya. Dia putuskan saat itu juga. “Aku ingin jadi dokter,” dalam hati kecilnya. Lulus sekolah menengah atas, ia langsung memilih kuliah kedokteran.

Bermodal tekat yang kuat dan belajar serius pada jurusan ilmu pengetahuan alam. Rupaya sejalan dengan harapan sang bunda. Bunda dalam doanya, kelak Edwin menjadi sosok yang dapat membantu kesembuhan banyak orang.

“Pencapaian selama ini, rupanya berkat doa ibu, waktu melahirkan saya. Beliau, berdoa agar kelak anaknya, menjadi dokter yang bisa menolong banyak orang,” ujarnya kepada Radar Lampung, Jumat (19/6).

Berkat doa ibunda. Edwin terbilang mulus dalam menapaki karirnya. Lulus kuliah di Univeritas Yarsi Jakarta Pusat. Pulang ke tanah Lampung, bekerja di Lampung Utara, tepatnya Puskesmas Kotabumi, selama dua tahun

Tak berselang lama, ia pun didapuk menjabat Kepala Puskesmas Bukit Kemuning, Lampung Utara, menjabat kurang lebih selama tiga tahun setengah. Kemudian, dipercaya Bupati Waykanan pada masa itu menjabat Direktur RSUD Waykanan.

Selama enam tahun mejabat direktur, Edwin pun ditarik menjabati Kepala Dinas Kesehatan Waykanan, selama empat tahu. Gayung bersambut, ketika Herman HN terpilih menjadi Walikota Bandarlampung, ia pun dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung, sejak 2015 hingga saat ini.

Dirinya tak menyangka, karirnya begitu lancar, tanpa mencicipi jabatan sebagai staf. “Kebetulan, nasib baik berpihak kepada saya, selama menjabat belum pernah menjadi staf,” syukurnya.

Menurutnya, adapun duka dalam menjalankan tugas sebagai dokter selama ini. Dirinya harus siaga menolong orang. Kadang tidak bisa tidur. Tetapi, meski demikian, dibalik itu, sukanya, keberhasilan dalam menolong orang menjadi kepuasan tersendiri.

“Kita juga akhirnya dapat mengenal banyak orang. Dokter dikenal mulai dari petani sampai para pejabat. Jadi, kita banyak kawan,” ucap pria asli Lampung ini.

Edwin bukanlah terlahir dari kedua orang tua yang memiliki basic para medis. Ibundanya hanyalah seorang ibu rumah tangga, yang mendoakan anaknya kelak menjadi dokter. Sedangkan ayahnya pengusaha sawmil kayu.

Akan tetapi, Ibundanya merupakan kakak pertama Arinal Djunaidi, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Lampung.

Edwin menyebutkan, adapun kunci dalam kesuksesannya yakni selalu mengisi hari-hari dengan kesenangan. Seperti, bersepeda, bermain golf dan nonton film action. “Waktu saya di Waykanan, sering olahraga golf di Bandarlampung, kalau sekarang nonton film,” ujarnya.

Ia mengakui, hobinya saat ini kurang bagus yakni menonton. Namun, akunya, kesenangan dan manajemen waktu menjadi hal yang utama dalam mencapai ketenangan. Itu, akan berpengaruh pada kesehatan jiwa. “Refreshing itu kita menemukan ketenangan,” imbuhnya.

Tak sampai disini, Edwin berharap diusianya yang memasuki kepala lima, masih bisa menjalankan tugas. Ia berharap bisa lebih luas lagi dalam mendikasikan dirinya kepada masyarakat.

“Saya sih ada keinginan kalau bisa bekerja sampai ke pusat, di Kementerian Kesehatan,” tandasnya. (apr/yud)

Biodata :
Nama: dr. H. Edwin Rusli, M.Km.
Alamat: Jl. Way Pengubuan No. 03, Sukarame Bandarlampung.
Tanggal Lahir : Palembang 11 Agustus 1967
Nama Anak : Ghazlina Winanda (23 tahun, kuliah), M. Rizky Syahputra (21 tahun, kuliah), dan M. Ichsan Rafli (14 tahun, SMP)
Isteri : Rahayu (49 tahun, ibu rumah tangga)
Pendidikan: SD dan SMP Xaverius Kotabumi, SMA PSKD III Jakarta, S1 Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta Pusat, S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Karir : Kepala Puskesmas Bukit Kemuning Lampung Utara, RSUD Waykanan, Kepala Badan BKB PP Waykanan, Kadiskes Waykanan, Kadiskes Bandarlampung.

Moto Hidup : Berbuatlah sesuai dengan aturan, maka keberanian akan mengikuti kita, kalau kita salah pasti takut, kalau kita benar, harus berani.

Komentar

Rekomendasi