oleh

Awas! Kasus DBD Di Tubaba Masuk Kategori KLB

radarlampung.co.id – Di tengah keseriusan Pemkab Tulang Bawang Barat (Tubaba) menangani dan mencegah penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di daerah setempat, serangan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga menjadi ancaman dan juga membutuhkan penanganan ekstra. Sebab, kasus DBD di Tubaba telah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan angka mencapai 400-an kasus yang tersebar di 9 kecamatan se-Tubaba.

Berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Tubaba, sebaran kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan Tulangbawang Tengah dengan jumlah 193 kasus, disusul Tumijajar 97 kasus dan Lambu Kibang 48 kasus. Lalu 31 kasus di Kecamatan Gunung Agung, 19 kasus di Gunung Terang, 14 kasus di Tulang Bawang Udik, 8 kasus di Pagar Dewa, 5 kasus di Batu Putih, dan 3 kasus di Kecamatan Way Kenanga.

Sementara untuk data bulanan, pada Januari tercatat sebanyak 44 kasus DBD, Februari 41 kasus, dan Maret meningkat drastis karena tercatat ada sebanyak 112 kasus DBD. Bulan April menurun, yakni 47 kasus dan pada bulan Mei kembali terjadi peningkatan yang sangat signifikan yakni tercatat 115 kasus. Sedangkan Juni dan Juli terus menurun, yakni 49 kasus pada Juni lalu dan data terakhir bulan Juli baru tercatat 10 kasus.

“Per hari ini jumlahnya ada 418 kasus DBD di Tubaba, dengan angka tersebut kasus DBD di Tubaba sudah masuk kategori KLB, karena terjadi kenaikan kasus dua kali dibandingkan tahun sebelumnya dimana tahun 2019 hanya 185 kasus. Dan ini siklus 5 tahunan, sebab pada tahun 2016 Tubaba juga KLB DBD dengan jumlah sebanyak 485  kasus,”ungkap Herlinda, SKM, MM, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Diskes Tubaba, Selasa (14/7/2020).

Meski masuk kategori KLB, pihaknya tetap bersyukur sebab hingga saat ini belum ada kasus pasien meninggal akibat DBD. Semua kasus, kata dia, langsung ditangani dan sebagian besar sudah dinyatakan sembuh.”Untuk diketahui, persentase angka kematian yang ditetapkan dalam penanganan DBD yakni kurang dari 1 (satu) persen dari jumlah kasus yang ada. Tapi Alhamdulillah, di Tubaba belum ada dan kita berharap tidak ada. Dan perlu diketahui bersama, bahwa DBD ini terjadi di setiap daerah, dan belum ada daerah di Indonesia ini yang bebas dari DBD,”ulasnya.

Menurutnya, faktor penyebab DBD sangat banyak, tapi yang merupakan faktor utama adalah kebersihan lingkungan. Dengan demikian, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tengah-tengah masyarakat juga berpengaruh besar.”Langkah antisipasi sebenarnya selalu kita lakukan sejak dini. Bahkan, setiap menjelang musim penghujan kita selalu melayangkan surat ke puskesmas, bidan desa, bahkan ke kecamatan hingga tiyuh,”lanjutnya.

“Tujuannya adalah agar informasi kepada masyarakat tentang penyakit DBD termasuk Chikungunya dan bagaimana cara pencegahannya dapat diketahui masyarakat sejak dini. Informasi ini yang terus disosialisasikan, bahkan yang kita fokuskan adalah pembersihan lingkungan yang wajib dilakukan oleh masyarakat guna mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD,”tandasnya.

Kebersihan lingkungan sangat penting, sebab menurutnya telur nyamuk bisa bertahan dalam jangka waktu bertahun-tahun. Walaupun sudah memasuki musim kemarau dan telur itu kering, tapi ketika turun hujan masih bisa menetas.”Makanya ini yang dikhawatirkan, sehingga peran masyarakat dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara bersama-sama dan tindakan 3M Plus wajib diberlakukan, yakni Menguras, Menutup, Mengubur dan kegiatan bersih-bersih hingga penaburan bubuk Abate. Yang jelas kebersihan lingkungan adalah hal yang utama dalam mengantisipasi penyakit DBD ini, kita berharap kedepannya kasus DBD di Tubaba akan semakin menurun,” pungkasnya.(fei/rnn/ang)

Komentar

Rekomendasi