oleh

Ini Dia Daun Sehat Kaya Manfaat

//Melihat Kebun Tempat Produksi Teh Daun Kelor di Bandar Jaya//

radarlampung.co.id – Membayangkan Daun Kelor, pikiran saya langsung akan hal-hal yang berbau magis. Di Masyarakat Jawa misalnya, stigma mistik (kelor untuk menghapus ilmu hitam jenazah yang meninggal) dan kurangnya pengetahuan tentang manfaat kelor, membuat potensi pasar Daun ini mendapatkan tantangan. Namun di kalangan masyarakat menengah ke atas, sudah mulai di gemari. Hal ini karena manfaatnya yang luar biasa.

Perjalanan dari Bandarlampung, menuju lokasi Dusun Adi Mulyo Kampung Adi Jaya Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, Sekitar 1 Jam 6 Menit. Ini berdasarkan data Google Map yang saya buka, namun setelah dilalui hampir satu jam, kami sudah Tiba di Lokasi Perkebunan Daun Kelor. Dengan menggunakan akses Jalan Tol Trans Sumatera melalui Pintu Tol Kota Baru.

Cuaca Sangat Cerah saat kami tiba di lokasi, saya melihat bangunan rumah sederhana dan bekas Kandang Sapi saat memasuki area perkebunan. Seorang pria muda yang belakangan saya ketahui bernama mas Aji yang tak lain merupakan anak dari Pemilik Kebun Kelor.

Setelah memarkirkan kendaraan, sosok pria tegas dan berwibawa menyambut kedatangan kami. Ya, Pria itu adalah Brigjend TNI (Purn) Mudjiono, yang pernah bertugas sebagai Danrem 043/Gatam Lampung dan Terakhir bertugas sebagai Kastaf Kodam V/Brawijaya.

Kedatangan kami disambut dengan ramah, sejumlah makanan dan minuman pun sudah siap dihidangkan di meja teras rumah, menyusul Kopi dan Teh dari Daun Kelor serta ES cendol yang juga berbahan Daun Kelor. Setelah mencicipi makanan yang disajikan, barulah mengetahui semua makanan yang tersedia juga berbahan daun kelor, dalam hati saya cuma bergumam luar biasa. Terlebih Mantan Staf Ahli KASAD Bidang Hukum dan Humaniter ini sempat menceritakan betapa kelor kaya nutrisi dibanding sayuran lainnya.

Dalam suasana santai, Pria yang kala itu pernah dicalonkan sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Khofifah Indar Parawansa (KAJI), bersaing dengan Pakde Karwo-Syaifullah Yusuf (KARSA) pada pilkada 2008 ini, bercerita banyak ikhwal dirinya tertarik dan memutuskan untuk budidaya daun kelor.

“Basis awal saya berasal dari desa, Asli saya kan di Jogja, rumah tinggal di Djogja ini Zaman dahulu waktu saya kecil, di depan rumah itu pasti ada pohon kelor dan ada Pohon Sirih, itu sudah menjadi tradisi orang jogja. Perjalanan Dinas saya sampai dengan pensiun, saya tertarik kembali untuk kelor, saya melihat di media sosial kok begitu berkembang dengan pesatnya berita-berita tentang kelor ini, akhirnya saya tertarik untuk belajar,” Ungkap Mantan Aster Divisi I Kostrad ini.

Lebih jauh Mudjiono menceritakan, awal dirinya terjun menjadi petani kelor. Bermodal Filosofi Orang Zaman Dahulu yakni Dunia tidak selebar daun kelor. Hingga terpikir apa tidak ada daun yang lain lebih indah dari daun kelor, dirinya pun penasaran dan semakin ingin belajar mendalami filosofi itu.

“Dari informasi-informasi, Akhirnya saya ketemu seorang ahlinya, Ir Dudi Krisnadi, Asal pangandaran, berhasillah melalui kajian dan penelitian ilmiah itu menemukan kelor dengan berlimpahnya kandungan nutrisi,” ucapnya.

Mudjiono menceritakan sosok Ir Dudi Krisnadi yang saat ini Berpusat di Blora Jawa Tengah, yang merupakan basis kelor terbesar di Indonesia. “Dari situ, lalu saya kesana dimana saya belajar. Ternyata membuka tempat training tempat pelatihan bagaimana budidaya kelor. Mulai dari Tanam, Pemeliharaan dan Pemanfaatannya untuk apa saja,” kata Mudjiono, sambil memperlihatkan foto Dudi.

Mudjiono mengambil kesimpulan dari training di Blora, ada dua cara pemanfaatan kelor, yakni dimanfaatkan secara teknologi dan kembali secara tradisional. “Kenapa begitu, karena begitu saya selesai training, saya tanya kepada orang-orang kampung terutama masyarakat dan tetangga sekitar. Saya tanya apakah pernah merasakan kelor hampir semua, terutama ibu-ibu sudah pernah mengkonsumsi? Dan benar kalau kita keliling daerah, terutama krui, hampir semua pagarnya itu kelor, tapi saat ditanya apakah sudah memperlakukan kelor dengan benar sehingga tidak menghilangkan kandungan nutrisinya mereka belum paham,” tutur mantan Staf Ahli KASAD Bidang Hukum dan Humaniter ini.

Mulai dari situ, dirinya mengajarkan bagaimana Memperlakukan kelor dengan benar, agar kandungan nutrisi tetap utuh, karena luar biasa dan tidak ada bandingannya dengan semua jenis sayur.

“Jadi, Setelah dipetik, Boleh dipetik tangkai nomer 4, 5, 6, 7, dan 8 boleh pakai gunting atau tangan. Cepat dibawa ke tempat teduh, plorotin satu-satu, pisahkan antara daun dan ranting, usahakan jangan ada ranting sekecil apapun yang ikut dimasak. Karena sepertinya bermusuhan antara ranting dengan daun. Itu secara tradisional. Dan kebanyakan mereka semua salah dan akhirnya mereka memahami dan mengikuti,” katanya.

Untuk yang kedua, diolah secara teknologi itu banyak sekali. Jadi, setelah kelor itu dikeringkan, bisa diolah digiling menjadi serbuk yang halus dengan beberapa ketentuan. Bisa juga digiling dengan agak kasar untuk teh daun kelor. Serbuknya bermacam-macam untuk semua jenis makanan dan minuman yang berkembang.

“Jadi, akhirnya saya ingin kembali ke habitat saya dari orang desa asli, saya pensiun ingin mandiri. Saya tidak mau bersandar kepada orang lain, karena saya sudah mengabdi selama 32 tahun sebagai TNI, coba saya ambil sosialisasi kepada masyarakat lingkungan untuk memanfaatkan budidaya dan pemanfaatan kelor,” ungkapnya.

Sementara, untuk bibit kelor sendiri, menurut Suami dari Sirodjun Nuroniyah Mudjiono ini ada dua cara yakni bisa menggunakan biji atau bisa menggunakan stek yang dipotong kemudian di tanam.

“Kelor sangat mudah ditanam tidak ada kelor ditanam mati kecuali pengaruh lingkungan seperti kena banjir kebanyakan air dan dia butuh air kalau kemarau harus disiram. Kelor butuh air saat kemarau dan tidak butuh air saat musim penghujan,” ucapnya.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Ayah dari Ampi Aji Wibowo ini mengajak kami melihat langsung perkebunan kelor yang berada di belakang bekas kandang Sapinya berjarak sekitar 20 meter dari rumah. “Ini kebon kelor saya yang saya rintis dan saya petik hasilnya, dulunya ini tanaman rumput untuk pakan sapi yang saya sulap menjadi kebun kelor” ujarnya.

Sambil mempraktekkan, muji mengatakan bila satu pohon tidak ada istilahnya kelor yang dipotong tumbuh satu tangkai, tapi minimal tiga tangkainya. Bahkan sampai enam. “Itulah kehebatan kelor, itulah ajaibnya. Kita potong sisakan tangkai muda untuk dia tetap bertahan hidup. Dan tangkai kecil begitu besar akan bercabang lagi. Akan lebih baik lagi dipotong menggunakan gunting. Ranting yang tidak muda nomor 6 7 dan 8 yang masih hijau itu yang dijadikan bahan untuk membuat teh kelor,” ucapnya.

Sementara, di lahan seluas 1 hektar setengah miliknya, tidak harga mati ditanam kelor saja, tetapi lahan yang kosong. Diantara pohon kelor, bisa ditanam untuk tanaman lainnya atau dikenal istilah tumpang sari. Untuk lahannya, bisa ditanam Kacang Tanah, Cabai atau Terong yang tumbuh subur. Ini karena pohon kelor juga memberikan nutrisi kepada tanaman lainnya.

“Jadi sembari menunggu kelor bisa dipanen, daunnya bisa dimanfaatkan untuk tanaman yang bisa segera dipanen. Untuk kelor sendiri dibikin pengelompokan untuk panennya, karena kapasitas mesin pengering terbatas hanya 120 Kilogram sekali masuk. Untuk Jarak Pohon Kelor untuk klaster daun jaraknya 1 sampai 2 meter, sementara untuk pohon yang akan diambil bijinya berjarak 4 meter, dimana bijinya bisa digunakan untuk kandungan minyaknya” ujarnya.

Daun kelor yang sudah dipotong, langsung cepat dibawa ke ruangan agar tidak terlalu lama terkena sinar matahari kemudian yang langsung dipelorot, tidak boleh lebih dari empat jam untuk mempertahankan kandungan nutrisinya. Setelah dilepas dari rantingnya harus dipisahkan dari rantingnya, daun kelor yang sudah dilepas dari rantingnya langsung dicuci dan dimasukkan ke mesin spinner langsung dipanaskan di mesin pengering.

Untuk memisahkan daun dan rantingnya Mujiono mempekerjakan sedikitnya 20 orang warga sekitar yang diberi upah berdasarkan hasil perkilo.

Usai melihat proses pemisahan daun dan ranting kelor, kami pun diajak melihat ruang pengeringan daun kelor 5×5 Meter. Menurut Mudjiono, Proses pengeringan sendiri menggunakan mesin pengering standar buatan Blora Jawa Tengah, sesuai ketentuan dari basis pengrajin kelor di Blora.

Dalam satu mesin, terdiri 120 Nampan dengan daya tampung pernampan sebanyak 6 kilo yang langsung diratakan, kemudian dibalik dalam sehari dua kali supaya keringnya merata dan tidak lengket daunya. Dimana suhu mesin pengering rata-rata 35 Derajat Celcius dengan rata-rata proses pengeringan selama 3 hari.

Setelah kering, daun kelor yang siap diolah langsung dibungkus untuk dikirim ke basis kelor di Blora. Dimana Bloralah yang mengolahnya menjadi bubuk halus maupun kasar untuk dijadikan bahan makanan dan minuman.

Muji mengaku saat ini dirinya hanya mampu mengirimkan pasokan kelor yang untuk kebutuhan lokal saja masih kurang apalagi untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Dirinya mengajak warga yang memiliki lahan untuk menanam kelor untuk dijadikan mitra dengan catatan bisnis ini dijadikan ladang untuk menolong (to help) bukan murni untuk berdagang (to sell) karena niatnya adalah untuk membantu masyarakat kurang gizi.

Dari 34 Provinsi, hanya dua provinsi yang akut yakni jogja dan bali, sementara 32 provinsi lainnya akut kronis.

Dalam kesempatan ini pula, muji membagi-bagikan bibit kelor secara gratis kepada warga yang berkeinginan menanam pohon kelor. “Saya selalu ingin berbagi kepada warga, siapapun yang datang dan meminta bibit kelor akan saya beri gratis” Pungkasnya.

Tepat jam 11.45 WIB usai melihat perkebunan, kami pun dipersilahkan makan siang dengan masakan dari istri dan anak tercintanya yang kesemuanya memiliki campuran bahan daun kelor. Sungguh nikmat sekali. (JF/Adk/yud)

Komentar

Rekomendasi