oleh

Pengelolaan Transportasi Bandarlampung di Masa Depan

radarlampung.co.id – Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Lampung mengtelar IAP VLOG dengan tema Pengelolaan Transportasi Perkotaan Bandarlampung Di Masa Depan yang disiarkan langsung melalui zoom meeting.

Berbagai nara sumber hadir mulai Miming Miharja, Ahli transportasi dari Sekolah Arsitektur dan Perencanaan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Mulyadi Irsan, kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung. Siti Nurlaela, dari Laboratorium Transportasi ITS dan Iwan Gunawan Dinas PU Kota Bandarlampung.

Selaku pembahas, Sekprov Lampung Fahrizal Darminto mengatakan dalam Diskusi Transportasi Kota Bandarlampung Masa Depan ini membahas sejumlah persoalan transportasi di Bandarlampung. Belum lagi realita saat ini di Kota Bandarlampung.

Menurutnya kota ini sudah ada penduduk 1,2 juta lebih, dan telah tersedianya Jaringan Prasarana, sarana dan utilitas lainnya. Membangun Kota tidak dari nol atau kosong sudah ada penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap kebijakan yang diambil.

“Kemudian masalah transportasi tidak pernah terlepas dari land usernya, berbagai kawasan pada land use menjadi sumber bangkitan dan tarikan pergerakan. Pergerakan masyarakat dengan semua aktivitas yang terjadi dan menimbulkan kemacetan pada peak hour. Dan juga Diharapkan diskusi ini menghasilkan Rekomendasi yang operasional, konkrit dan dapat diterapkan, bukan hanya kajian akademis yang tidak dapat dilaksanakan. Misal untuk mengatasi permasalahan transportasi bisa dilakukan dengan manajemen transportasi seperti pembangunan flyover, apakah sudah benar baik dari kelayakan, lokasi maupun dikaitkan dengan pemecahan masalahnya,” beber Fahrizal.

Sementara dalam pengelolaan transportasi, menurut Miming Miharja, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, Kota perlu mengacu pada penggunaan lahan.

“Transportasi itu drive demand dari land use, untuk mengelola transportasi di masa depan dengan mengatur guna lahan yang baik, dengan mengatur pola-pola trip distribution, dari pola monosentrik ke multiple sentrik,” jelasnya.

Kemudian harus ada revitalisasi angkutan umum. Saat ini kendaraan pribadi tingkat ocupansinya rendah, bahkan pada jam puncak 20%. Maka harus ada gerakan mengkampanyekan penggunaan publik transportasi atau angkutan umum.

“Bandarlampung bisa menggunakan, penurunan penggunaan kendaraan pribadi. Dahulukan pembenahan pelayanan angkutan umum, sebelum membatasi atau menurunkan penggunaan kendaraan pribadi. Ruang di bada jalan terbatas, sehingga perlu kebijakan yang berpihak (affirmative policy) dan disinsentive policy atau seperti pengaturan biaya parkir yang mahal dan lainnya,” tambah Maming.

Kadis Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung Mulyadi Irsan menambahkan, Kedepan Kota Bandarlampung perlu guidance dibidang transportasi seperti: Bandarlampung Development Project. Perlu ada prioritas kebijakan dalam peneglolaan transportasi, apalagi ada dua pintu tol yang masuk ke Kota Bandarlampung. Ada perubahan pintu masuk yang tadinya dari selatan dan utara sekarang bergeser ke Timur atau Kota Baru.

“Kemudian karena semakin ke depan beban Bandarlampung semakin berat, sehingga perlu aglomerasi dengan hinterland dalam penyediaan prasarana umum, tidak hanya jalan, sampah maupun air bersih,” jelas Mulyadi.

dia melanjutkan, Bandarlampung mesti berkolaborasi dengan wilayah lain sekitar Bandarlampung dalam pengelolaan infrastruktur dasar ini. Contoh air bersih sudah kerjasama dengan Lampung Tengah. Selanjutnya perlu pembenahan angkutan umum sebagai pilihan transportasi kota yang dapat menurunkan penggunaan kendaraan pribadi.

“Pengelolaan transportasi perlu dikaitkan dengan Tata guna lahan. Pengelolaan transportasi tidak bisa parsial hanya berdasarkan ruas jalan, tetapi harus komprehensif, dilihat juga kapasitas simpang dan penggunaan lahan,” tambah Mulyadi.

Kemudian Siti Nurlela, Dosen ITS menyebut dalam memilih perencanaan yang berdampak positif besar pada masyarakat, berdampak pada banyak orang atau memberi manfaat sebanyak-banyak pada penduduk kota..

“Maka harus diketahui pentingnya integrasi antara land use dan transportasi. kemudian saat ini berkaitan dengan pandemi, maka akan ada perubahan permintaan terhadap transportasi, mulai dari menurun pada saat bencana pandemi atau masa outbreak. Kemudian meningkat pada masa awal pemulihan dan pada masa new normal perlunya revitalisasi angkutan umum. Disamping itu meningkatnya peran transportasi daring yang menjangkau daerah eri-peri yang selama ini relatif sulit dijangkau angkutan umum,” tambahnya. (rma/ang)

Komentar

Rekomendasi