oleh

Menyikapi Kenaikan NTP, Pemprov Pilih Efisiensi

RADARLAMPUNG.CO.ID – Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Juli 2020 tercatat naik sebesar 1,26%, berada di angka 92,99%. Pemprov Lampung lantas memastikan memiliki cara khusus dalam mendokrak NTP agar petani tetap sejahtera.

Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Lampung Kusnardi menyebut, NTP menjadi salah satu indikator dalam tolok ukur pertanian di Lampung.

Baginya, nilai NTP yang tinggi, bisa mempengaruhi harga di pasaran.

“Kalau NTP tinggi kan mempengaruhi harga juga, tidak mau juga kita kalau NTP tinggi. NTP kan perbandingan suatu saat entah bulan, atau kurun waktu tertentu dengan membandingkan kenaikan harga produksi pertanian dengan produksi non pertanian. Nah sekarang misalnya gula naik, harusnya NTP naik tapi nyatanya masyarakat tidak. Maka bagi saya NTP salah satu indikator tapi bukan yang mutlak,” beber Kusnardi.

Menurutnya, NTP tidak menjamin pendapatan petani. Karena harga salah satu bahan pokok yang baik, tapi tidak menguntungkan petani. Misalnya, harga gula naik, tapi tebu tidak ada panen, karena petani tidak punya tebu.

Begitupula jika harga beras naik. Ini ada tapi bukan dari petani, justru seolah-olah petani kita kaya. Padahal petani kita kan kecil-kecil, gabah yang nyimpen dikit saja. Yang untung malah pedagang besar.

Maka, Pemprov Lampung punya cara khusus dalam mensejahterakan petani. Ialah dengan efisiensi.

“Intinya kalau kita melakukan efisiensi, biaya produksi dikurangi. Ini lebih efisien misalnya menggunakan pupuk tepat guna, efisiensi penggunaan tenaga, efisiensi bibit, ini kita kurangi produksi. Kalau harga naik nanti masyarakat menjerit,” lanjutnya.

Apalagi sekarang Covid-19 semua turun dan anjlok, pertumbuhan ekonomi juga anjlok. Yang plus cuma pertanian dan perusahaan internet kan. Maka haruslah dijaga pertumbuhan dengan efisiensi, sehingga pangan tetap, tidak ada kenaikan harga. Sehingga pendapatan petani juga meningkat dengan efisiensi.

“Menurut saya NTP ini salah satu indikator saja, dan kami lebih merujuk ke efisiensi mulai pemasaran, provinsi punya penyediaan sarana produksi, bagaimana harga margin untuk perolehan sarana produksi. Salahsatunya program kartu petani berjaya (KPB) untuk skala ekonomi,” tambahnya.

Progam KPB jalur pemasaran yang dipotong. Di mana, program ini langsung menemukan petani dengan produsen atau pemasarannya.

“Ini semua diefisiensi agar biaya per satuan produksi bisa dikurangi, sehingga petani masih punya margin yang cukup masih ada keuntungan yang cukup. Kita juga tidak bisa sembarang menaikkan harga apalagi kondisi saat ini,” tandasnya. (rma/sur)

Komentar

Rekomendasi