oleh

Menengok Aktivitas Komunitas Sadila, Latih Difabel Hingga Bisa Mandiri

“Jika tidak bisa bantu uang, minimal bantu tenaga dan ilmu,” Begitulah kata Miranti Wiwitarmingtias (21) anggota komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila). Komunitas yang konsisten membantu penyandang disabilitas memiliki usaha dan skill agar tidak dikucilkan.

Laporan Rizky Panchanov, BANDARLAMPUNG

Tangan Edovan (20) terlihat sangat gemulai membentuk pola sandi bahasa isyarat. Mimik wajahnya sangat ekspresif.

Ya, sore kemarin (13/8), di tengah rinai hujan, komunitas Sadila mengadakan pelatihan pembibitan dan penyemaian tanaman sepatu film. Pesertanya enam orang tuna rungu dan tuna wicara.  Duduk berjejer rapi di atas tikar.

Sore itu, Edovan didapuk sebagai JBI: juru bicara isyarat. Tugasnya menerjemahkan bahasa narasumber, agar dimengerti peserta.

Latihan pembibitan itu merupakan salah satu program Sadila –namanya greenable. Sadila bekerja sama dengan Ceres nursery untuk memberikan pelatihan kepada difabel.

Selain pembibitan tadi, di dalam program itu, para difabel juga diajarkan bagaimana cara bertani sayuran dengan sistem hidroponik.

“Sekarang lagi berjalan. Ada sayuran pakcoy dan lainnya,” kata Miranti selaku penanggung jawab program greenable.

Selain urusan bercocok tanam, menurut Miranti para anggota difabel juga diajari bagaimana mendaur ulang sampah.

Edovan, yang juga Humas Sadila menambahkan, Sadila dibentuk September 2018. Sebelum terbentuk Sadila, anggotanya masuk di dalam komunitas Gerkatin: Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia.

Tidak ingin hanya fokus ke penyandang disabilitas tuna rungu saja, mereka kemudian membentuk komunitas Sadila. “Jadi isinya nggak cuma tuna rungu dan wicara saja. Tapi ada juga tuna grahita (down syndrom) dan tuna daksa (cacat fisik),” jelas Edovan.

Saat ini ada 24 disabilitas yang diberi ilmu oleh komunitas Sadila.

Selain greenable tadi, ada program lain yang juga berjalan. Yakni loveable, capable, dan aimable. Setiap disabilitas mereka diberi kesempatan memilih program itu –berdasarkan minat dan bakat.

Terkait loveable, program ini berupa bisnis kuliner. Sekarang loveable sudah menghasilkan beberapa produk. Seperti aneka jajanan, hingga menerima jasa katering. Bisnis ini kini dimotori oleh tiga difabel: Wawan dan Pur –keduanya tuna daksa, serta Chandra –tuna rungu.

“Mereka berdagang dengan motor roda tiga, seperti tadi pagi (kemarin) ketiganya berjualan uduk juga lontong sayur di kantor Bappeda. Modal pun dari mereka,” kata Edovan. Lebih istimewanya, katering mereka pun banjir pesanan. Mulai dari BUMN hingga dinas di pemerintahan.

Untuk memberikan pelatihan dan ilmu semacam ini, pria berambut pirang ini menjelaskan jika Sadila menggandeng yayasan, perusahaan, serta komunitas lain. Contohnya dengan Ceres Nursery ini.

“Beberapa waktu lalu kita juga ajak asosiasi chef Indonesia dan hotel Sheraton untuk memberikan pelatihan memasak,” ujarnya. Sehingga ilmu yang didapat langsung dari profesional.

Lalu, terkait program capable para difabel diajari ilmu kelistrikan dan elektronik. Sedangkan aimable program kerajinan tangan, seperti pembuatan sabun alami, serta hantaran pernikahan. Pun sudah menghasilkan income bagi para difabel itu sendiri.

Selama mengajari difabel tidak ada kesulitan. Demikian diakui Edovan. “Paling tuna rungu dan tuna wicara yang kita harus ekstra. Karena harus terjemahin ke bahasa isyarat,” paparnya.

Kedepan, Sadila berencana membuat cafe yang seluruh pelayannya difabel. “Kita juga mau buat konveksi. Kebetulan sudah dapat bantuan mesin jahit dan obras dari Yayasan Langit Sapta,” sambungnya.

Memang ending program-program Sadila ini agar bisa menghasilkan pendapatan bagi 24 difabel hingga mandiri. Terlebih di situasi sulit seperti ini karena pandemi Covid-19. (*/sur)

Komentar

Rekomendasi