oleh

Mentan Lepas Ekspor Sabut Kelapa PT Mahligai Indococo Fiber

RADARLAMPUNG.CO.ID– Ketua Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Efli Ramli, S.E. menyebut dari 196 negara ternyata hanya ada 8 yang menguasai 90% kebutuhan kelapa dunia. Indonesia sendiri menurutnya merupakan pemilik lahan terluas dan terbesar dalam produksi kelapanya.  Dibandingkan tujuh negara  lainnya seperti Philifina, India, Malaysia, Srilanka, Thailand, dan Papuan Nugini.

Lahan kebun kelapa di Indonesia, jelasnya, mencapai 3,8 juta hektare (ha) dengan produksi kelapa per tahunnya hingga 12, 91 miliar butir. Sedangkan di Philifina 3,3 juta ha dengan produksi kelapa 12,85 miliar butir, India 1,9 juta ha dengan produksi kelapa 12,99 miliar butir, Srilanka 0,4 juta ha dengan produksi kelapa 2,63 miliar butir, dan Thailand 0,38 juta ha dengan produksi kelapa 1,14 miliar butir.

Sayangnya dari masing-masing hasil produksinya, tukas Direktur PT. Mahligai Indococo Fiber ini, belum ada satu negara pun (tidak  terkecuali Indonesia) yang mampu mencukupi suplai permintaan ekspor neggara-negara yang membutuhkan. Terutama untuk cocofiber (sabut kelapa) dan cocopeat (serbuk sabut kelapa) yang selama ini dianggap limbah dan oleh kebanyakan petani kelapa malah dibuang dan dibakar.

”Permintaan ekspor cocofiber untuk berbagai keperluan industri dan cocopeat untuk media tanam ini sangat tinggi,” tandas Efli pada Webinar Forum Diskusi Kelapa: Merebut Pasar Kelapa Dunia bersama Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sekaligus pelepasan ekspor cocofiber dan cocopeat ke Jepang, Cina, dan Jordania dari pabrik pengolah cocofiber dan cocopeat miliknya di Natar, Lampung Selatan, Rabu (19/8).

Menurutnya, Indonesia dan Lampung khususnya bukan tidak punya potensinya.  Banyak tapi belum terkelola dengan baik dan maksimal. Untuk itu, ia pun meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dan memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan dan pemberian modal. Selain langsung kepada para petani kelapanya juga pelaku industrinya agar tercapai standarisasi kualitas maupun kuantitas produksi ekspornya.

Seperti dilakukan perusahaannya yang sudah berdiri dan memproduksi cocofiber dan cocopead sejak tahun 2007. Selain memiliki 930 pegawai juga 250 petani binaan pada 16 cluster produksi cocofiber dan cocopead¬-nya. Masing-masing selain tersebar di Provinsi Lampung juga ada yang di Sumatera Barat, Aceh, dan Pangandaran.

Sementara ini, kebutuhan untuk produksi perusaahaannya baru terpenuhi 6 juta butir kelapa per bulannya atau 72 juta butir per tahunnya. Sedangkan untuk ekspornya, cocofiber baru 30 kontainer atau 360 kontainer per tahun dan cocopead 35 kontainer atau  420 kontainer per tahunnya.

Padahal permintaan ekspors cocofiber-nya per tahun, imbuh Efli,  Cina 3.000 kontainer dan negara-negara Eropa Timur 200 kontainer. Lalu cocopeat-nya per tahun, Cina 3.000,  Jepang 1.500 kontainer, Korea 1.500 kontainer, Italia 300 kontainer, Jerman 200 kontainer, Belgia  300 kontainer, Israel 300 kontainer, dan Negara-negara Timur Tengah 300 kontainer.

”Ini peluang ekspor cocofiber dan cocopeat yang saat ini, Indonesia baru dapat menyuplai 3% dari total sabut kelapa yang dibutuhkan pasar ekspor. Apalagi, sabut kelapa dari Indonesia lebih diminati karena lebih berkualitas dibanding dari negara lainnya. ” kata Efli.

Untuk itu, Efli sendiri giat melakukan pembinaan terhadap mitranya yang ingin menggeluti industri limbah sabut kelapa ini. Kemudian untuk membuat industrinya bersekala kecil cukup dengan menyediakan 1 ha areal, modal bangunan dan permesinan Rp500 juta, serta modal kerja 75 juta.

Lalu dengan 65 karyawan dan kebutuhan bahan baku 15.000 butir per hari, imbuhya, maka dapat menghasilkan produksi 2  ton cocofiber dan 3 ton cocopeat. ”Margin profitnya Rp1.250.000 per hari atau Rp37,5 juta per buan dan dalam 15 bulan sudah break even point,” pungkasnya. (rim/wdi)

Komentar

Rekomendasi