oleh

Long Weekend, Penumpang Memasuki Terminal Rajabasa Justru Menurun

 

RADARLAMPUNG.CO.ID – Meskipun pekan ini libur panjang atau long weekend. Namun, peningkatan jumlah penumpang yang memasuki Terminal Tipe A Rajabasa justru terpantau menurun dari hari-hari sebelumnya.

Kepala Terminal Tipe A Rajabasa Bandarlampung Denny Wijdan mengungkapkan, penurunan jumlah penumpang pada masa long weekend lantaran bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1442 H.

Penumpang justru lebih memilih berdiam diri dirumah. Ditambah lagi, pengaruh pandemi Covid-19 juga memberikan dampak yang sangat signifikan. “Pejalan lebih memilih menahan diri melakukan perjalanan,” katanya, Jumat (21/8)

Hal itu, katanya, terlihat dari jumlah penumpang bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang cenderung sepi. Dia memprediksi, keadaan ini akan berlangsung hingga awal bulan depan. “Kebanyakan kita melayani angkutan lokal, jadi kemungkinan tetap seperti ini,” ujarnya.

Dia sebelumnya mengungkapkan, penurunanan penumpang sampai 30 persen, meskipun memasuki Idul Adha 2020. Penurunan itu dapat dibandingkan dari tahun sebelumnya.

Menurutnya penurunan ini sangat terasa bagi pengusaha dibidang angkutan umum. Ditambah, pemerintah pusat juga telah mengelurakan peraturan pembatasan jumlah penumpang, sebesar 70 persen.

“SE Menteri Perhubungan No. 11 Tahun 2020 tentang Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Transfortasi Darat pada masa adaptasi kebiasaan baru untuk pencegahan penyebaran Covid-19, Bandarlampung untuk mobil penumpang dibatasi sebesar 75 persen atau sebanyak sekira 14 penumpang kalau bangkunya 25,” katanya kepada Radar Lampung, Minggu (26/7).

Persentase 75 pesen itu bagi, mobil penumpang yang wilayahnya zona hijau dan kuning. Nah, kalau zona merah dan oranye, kafasitas penumpang dibatasi hingga 50 persen. “Peraturan ini tentunya berlaku hingga masa Covid-19 ini berkhir,” ujarnya.

Meskipun, pemerintah membatasi kafasitas penumpang. Namun, karena jumlah penumpang mengalami penurunan. Pihaknya, yakin bahwa setiap bus atau kendaraan penumpang justru dapat menyesuaikan kafasitas penumpangnya masing-masing.

“Ya, kalau dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama. Penurunan penumpang itu sampai 30 persen. Jadi, ya pembatasan itu akhirnya terjadi secara alami,” ujarnya.

Meskipun demikian, pemerintah pusat juga memberikan kelelusaan kepada pengusaha angkutan melalui operatornya, untuk menaikan tarif angkutannya, hingga mencapai 20 persen. “Kita tidak memberikan subsidi bagi pengusaha. Akan tetapi, kita sudah sosialisasikan, pengusaha kebijakan masing-masing dapat menaikan tarif hingga 20 persen,” bebernya.

Menurutnya, sampai kenaikan tarif itu terbilang wajar dan normal bila memang diterapkan oleh pengusaha. Namun, hingga saat ini pihaknya belum mendata, angkutan mana saja yang telah menaikan tarifnya. “Ini sampai batas waktu, pandemi Covid-19 ini selesai. Setelah itu tarifnya ya harus turun lagi menjadi tarif normal,” tandasnya. (apr/yud)

Komentar

Rekomendasi