oleh

Sosialisasi Tentang Sensor Mandiri Sebagai Upaya Memberikan Tontonan yang Sehat Bagi Anak di SMA Bina Mulya Bandarlampung

Oleh : Desy Churul Aini,SH.,MH., Siti Azizah,SH.,MH.*

RADARLAMPUNG.CO.ID-Media memiliki peran sentral dalam kehidupan sehari-hari terhadap anak. Baik atau buruk media memiliki efek yang besar pada perilaku anak-anak. Sejumlah penelitian menyebutkan, anak-anak yang menonton video kekerasan yang muncul di televisi, film, video game, telepon seluler, dan internet rentan melakukan tindak kekerasan. Sejumlah kasus kekerasan yang terjadi pada anak belakangan marak di tanah air.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat dalam 7 tahun terakhir angka kasus kekerasan anak mencapai 26.954 kasus. Kasus tertinggi adalah kasus anak yang berhadapan hukum baik sebagai pelaku maupun korban yang mencapai 9.266 kasus.

Untuk meningkatkan pengetahuan para guru, orang tua dan anak di Sekolah Menengah Atas Bina Mulya Bandar Lampung terhadap arti pentingnya melakukan budaya sensor mandiri sebagai upaya untuk menciptakan tontonan yang sehat bagi anak di lingkungan keluarga dan sekolah diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk Sosialisasi tentang Sensor Mandiri sebagai Upaya memberikan Tontonan yang Sehat bagi Anak di SMA Bina Mulya Bandar Lampung.

Budaya sensor mandiri adalah suatu kebiasaan untuk melakukan penyaringan materi apa yang layak kita tonton, kita baca dan/atau kita sebarkan ke khalayak ramai (diunduh dari https://hanyalewat.id/2016198-budaya-sensor-mandiri).

Jenis-jenis sensor mandiri, yaitu budaya sensor mandiri dalam media sosial. Budaya sensor mandiri di media sosial adalah upaya menahan diri untuk menyebarkan informasi yang belum diketahui dengan pasti kebenarannya. Bahkan informasi setengah benar pun seharusnya tidak kita sebarkan. Ini merupakan upaya kita untuk saling melindungi saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air dari penyesatan informasi yang tidak jelas.

Kemudian, budaya sensor mandiri pada film. Dalam hal film yang beredar di Indonesia, memang sudah ada Lembaga Sensor Film atau LSF yang melakukan sensor berdasarkan perintah UU No. 33 Tahun 2009. Meskipun begitu, kita harus tetap berpikir bijak sebelum menonton film. Dan budaya sensor mandiri pada tayangan televisi. Tayangan televisi memiliki rating pada setiap tayangan. Kurang lebih rating yang ada mirip dengan film. Namun kita harus ingat bahwa televisi (terutama televisi swasta) hanya mengejar rating saja. Sebaiknya kita melakukan budaya sensor mandiri untuk acara televisi apa yang kita (dan keluarga) tonton.

Pelaksanaan Sosialisasi tentang Sensor Mandiri sebagai Upaya memberikan Tontonan yang Sehat bagi Anak di SMA Bina Mulya Bandar Lampung dapat disimpulkan sebagai berikut, tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa-siswi di SMA Bina Mulya Bandar Lampung tentang konsep Sensor Mandiri sebagai Upaya memberikan Tontonan yang Sehat bagi Anak sebelum dilakukan sosialisasi masih rendah. Hal ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada narasumber dari peserta sosialisasi di SMA Bina Mulya Bandar Lampung sebelum materi sosialisasi diberikan, di mana sebelum materi diberikan peserta belum memahami konsep Sensor Mandiri sebagai Upaya memberikan Tontonan yang Sehat. Lalu, pengetahuan dan pemahaman peserta penyuluhan tentang konsep Sensor Mandiri sebagai Upaya memberikan Tontonan yang Sehat, sesudah sosialisasi meningkat. Indikator kesimpulan ini didapat dari terjawabnya dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh narasumber kepada para peserta sekitar masalah konsep Sensor Mandiri.

Dalam hal ini perlunya pengawasan dari berbagai pihak seperti keluarga, guru, pemerintah dan masyarakat. Salah satu bentuk pengawasan tersebut adalah dengan melakukan program baru yaitu Sensor Mandiri yang nantinya diperuntukkan sebagai inisiatif masyarakat dalam memilih konten yang bakal tayang. Untuk itulah perlu difahami makna dari tontonan tersebut, sehingga dapat memberikan tontonan yang sehat bagi anak. (*)

 

*Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung

Komentar

Rekomendasi