oleh

Kuliah Berkat APBDes, Pemuda Ini Kini Berjuluk Sarjana Desa

RADARLAMPUNG.CO.ID – Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Pusat gencar memberikan bantuan stimulan untuk desa. Seperti contohnya bantuan Dana Desa (DD) atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterima langsung oleh masyarakat.

Tujuan dari bantuan-bantuan tersebut sama: menggerakan roda perekonomian di desa. Atau untuk mendongkrak pendapatan asli desa (PAD) agar lebih maksimal.

Nantinya, pendapatan asli desa akan sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya melulu soal pembangunan infrastruktur. Tapi juga bagi pendidikan putra putri di desa.

Salah satu bukti sahihnya ada di Kampung Bumi Dipasena Jaya, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang. Di Kampung yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai petambak ini, pendapatan asli desanya terbukti bermanfaat bagi pendidikan putra putri di kampung ini.

Lihat saja Irvan Dwi Saputra. Putra asli Kampung Bumi Dipasena Jaya ini baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Bandar Lampung (UBL). Dia resmi menyandang gelar Sarjana Komputer (S.Kom) setelah di wisuda pada 30 Juli 2020 kemarin. Irvan lulus setelah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun. Terbilang cukup cepat bagi seseorang yang menempuh pendidikan sarjana.

Banyak yang tidak tau. Irvan merupakan salah satu putra terbaik Kampung Bumi Dipasena Jaya yang menyelesaikan pendidikan sarjananya berkat bantuan dari desa. Ya, sebagian besar biaya pendidikan Irvan dibantu oleh desa. Orang-orang di desanya bahkan menyebut Irvan sebagai Sarjana Desa.

“Iya bersumber dari pendapatan desa, seperti pendapat asli desa. Pendanaan yang diberikan untuk biaya pendidikan ini masuk dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) setiap tahunnya,” kata mantan kepala kampung (Kakam) Bumi Dipasena Jaya Nafian Faiz, Selasa (25/8).

Saat menjabat sebagai Kakam, Nafian Faiz merupakan orang pertama yang mengorbitkan Irvan untuk menempuh pendidikan melalui bantuan desa. Selain Irvan, ada juga Ardi Tricahyo (jurusan Akuntansi) dan Amelia Oktavia (jurusan Teknik Sipil). Dua nama terakhir akan segera menyusul Irvan menyelesaikan pendidikannya di UBL.

Nafian bercerita, ide untuk membiayai pendidikan putra putri di Kampung Bumi Dipasena Jaya bermula pada tahun 2016.

Saat itu, ia yang masih menjabat sebagai Kakam mendapatkan informasi bahwa Kampus UBL menerima calon mahasiswa beasiswa dari utusan desa.

Nafian Faiz lalu memerintahkan aparatur kampungnya untuk membuat pengumuman tersebut. Singkat cerita. Munculah nama Irvan, Ardi dan Amel.

Irvan belakangan diketahui baru saja gagal lulus SBMPTN di Universitas Negeri Lampung. Sementara Ardi dan Amel sudah berniat tidak melanjutkan pendidikan karena terbentur biaya. Orang tua mereka sehari-hari hanya berprofesi sebagai petambak udang setempat.

Ketiganya lalu di panggil ke kantor kepala desa. Mereka ditanyai oleh Nafian apakah benar masih ingin kuliah. Kemudian, mereka diminta untuk mengambil jurusan yang ditentukan oleh desa, yakni jurusan Komunikasi Informasi, Akuntasi dan Teknik Sipil.

Tidak hanya itu saja. Setelah lulus kuliah, mereka diminta untuk mengabdikan diri di kantor desa minimal dua tahun. “Ketiganya serentak menjawab mau dan siap,” ungkap Nafian Faiz.

Nafian menjelaskan, ketiganya diminta untuk mengambil jurusan yang di inginkan pihak desa, karena ketiga jurusan tersebut sangat di butuhkan di Kampung Bumi Dipasena Jaya.

Menurutnya, di era serba digital saat ini, anak-anak di desanya harus melek teknologi. Itulah alasan Irvan diminta mengambil jurusan sistem informasi.

Selain itu, pihak desa meminta salah satu dari ketiganya mengambil jurusan akuntansi karena untuk kepentingan pembukuan dana desa di waktu mendatang. Begitupun dengan pentingnya ilmu teknik sipil yang di ambil oleh Ardi untuk membangun desa.

Pihak desa juga memberikan persyaratan harus mengabdikan diri minimal dua tahun di Desa. Persyaratan ini bukan tanpa alasan. Menurut Nafian, desa akan sulit mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas jika tidak menyemai sejak dini.

Dia bercerita, rata-rata anak yang memiliki kemampuan lebih akan sulit untuk diminta kerja di desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Termasuk putra asli daerah yang sudah sarjana akan sulit dan sedikit sekali yang mau pulang untuk membangun desanya.

Selain persyaratan – persyaratan tersebut, ada beberapa konsekuensi juga yang harus di sepakati oleh ketiganya dengan pihak pemeritahan desa. Yakni, jika setelah lulus kuliah mereka ingin melanjutkan pendidikannya, atau ingin bekerja di tempat lain, mereka harus mengembalikan besaran uang yang diberikan desa kepada mereka selama kuliah. Ketiganya menyanggupi persyaratan tersebut.

Singkat cerita, ketiganya menjalani tes di UBL. Tes tersebut untuk menentukan level besaran beasiswa yang akan diberikan oleh UBL. Beasiswa tersebut mencakup 100 persen, 75 persen dan 50 persen.

Aturannya, semakin besar mendapatkan beasiswa dari kampus, maka akan semakin kecil pula dia mendapat bantuan biaya tambahan pendidikan dari desa. Begitupun sebaliknya.

“Karena mereka mendapat beasiwa dari kampus, maka biaya yang dikeluarkan oleh desa tidak terlalu banyak. Yakni sekadar membantu biaya kos dan uang makan saja. Pernah kami anggarkan paling tinggi 25 juta pertahun untuk ketiganya,” terang Nafian Faiz.

Dia bersyukur saat ini Irvan telah selesai menempuh pendidikan sarjana. Bahkan sejak akhir tahun 2019, Irvan sudah mulai magang di kantor desa.

Sementara, Ardi dan Amel saat ini sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir skripsi mereka. Nafian Faiz memperkirakan keduanya akan selesai akhir tahun 2020.

“Saya ikut senang karena desa bisa membantu anak-anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini juga sekaligus investasi SDM untuk kemajuan desa di masa depan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kampung (DPMPK) Tulangbawang Yen Dahren, mengaku bangga atas apa yang dilakukan Kampung Bumi Dipasena Jaya.

Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu contoh dari keberhasilan pengelolaan pendapatan asli dan kemandirian desa.

“Itu sah-sah saja jika di danai dari pendapatan asli desa. Malah contoh yang bagus,” ungkapnya.

Yen Dahren mencontohkan, di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, terdapat program satu rumah satu sarjana dibiayai oleh desa yang bersumber dari pendapatan asli desa. Program tersebut terlaksana dengan baik karena pendapatan asli desanya besar. (nal/sur)

Komentar

Rekomendasi