oleh

Akademisi dan Media Bahu Membahu Bangkitkan Kembali Pariwisata

radarlampung.co.id – Pandemi covid-19 sampai saat ini masih berlangsung. Banyak pihak yang mencoba meramalkan kapan pandemi ini berakhir, namun masih banyak pula yang meleset. Selama masih belum ditemukannya faksin covid-19, pandemi covid-19 nampaknya belum akan berakhir.

Dekan Fakultas ekonomi & Bisnis Universitas Bandar Lampung (UBL), Dr. Andala Rama Putra Barusman, SE, MA.Ec mengatakan, pandemi covid-19 memberikan dampak yang luar biasa. Terutama di bidang pariwsata yang mana sebelumnya merupakan salah satu andalan ekonomi di Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Sekarang kita sudah coba untuk membiasa diri dengan menerapkan konsep yang disebut dengan new normal. Di UBL kita sudah terapkan sejak awal bulan Juni 2020, lalu. Kita terapkan protokol covid-19, mulai dari cuci tangan, menggunakan disinfektan, masker dan lain-lain,” katanya yang juga merupakan Ketua Yayasan Administrasi Lampung (YAL).

zoom meeting, membahas terkait upaya membangun optimisme usaha pariwisata saat pandemi, Kamis (27/8)

Hal tersebut diungakapkan Andala dalam forum diskusi dengan mengusung tema membangun optimisme usaha pariwisata saat pandemi, yang digelar melalui video conference bersama sejumlah pengamat dan perlaku pariwisata di Lampung, pada Kamis (27/8).

Lebih jauh dia mengatakan, untuk saat ini sebagian masyarakat terlihat sudah mulai berani untuk melakukan aktifitas di luar rumah. Ini merupakan tanda yang bagus, karena dengan mulai banyaknya masyarakat yang beraktifitas, mengindikasikan roda perekonomian yang mulai kembali berputar.

“Kita lihat kalau di Lampung, para pelaku pariwisata yang ramai itu ada di daerah Pesawaran, Lampung Selatan, mereka juga sudah memulai konsep pariwisata dengan new normal. Dan cukup berhasil sehingga menimbulkan optimisme di antara pariwisata yang juga nanti akan berdampak pasa sektor yang lain,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Tina Virgawenda, Akademisi dan Pemerhati Bidang Pariwisata di Lampung menambahkan, berdasarkan data Kementerian Keuangan tahun 2020, pariwisata di masa pandemi mengalami keterpurukan.

“Jumlah turis asing menurun sekitar 45 persen, yakni yang awalnya 5 juta kunjungan di bulan Januari – April 2019, menjadi 2,8 juta kunjungan di bulan yang sama tahun 2020,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBL, tesebut.

Di samping itu, sambung dia, jumlah penumpang penerbangan domestik tercatat -27,8 persen sementara internasional tercatat -42,8 persen. Sementara tingkat hunian kamar hotel yang awalnya tercatat sebesar 53,9 persen di bulan April 2019, menjadi 12,7 persen di bulan April 2020.

Situasi terkini sektor pariwisata di saat pandemi memberi dampak pada tempat wisata, hotel, restoran dan tempat belanja yang dibuka dengan pembatasan. Serta terjadinya penurunan permintaan pasar domestik/luar negeri dan daya beli masyarakat.

“Dengan keadaan yang ada saat ini pemerintah juga berpikir bahwa mereka tidak bisa berdiam diri. Maka munculah yang namanya tatanan baru yang disebut new normal,” katanya.

Kemenparekraf memberikan kebijakan strategis yaitu dimulainya pembukaan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif secara bertahap. Hal ini juga didukung dengan surat telegram Kapolri nomor STR/364/VI/OPS.2/2020 tertanggal 25 Juni 2020, pencabutan maklumat Kapolri dan upaya mendukung kebijakan new normal, mencabut larangan mengumpulkan massa.

Pemerintah juga memberikan dukungan dengan menyiapkan stimulus Rp3,8 triliun untuk pemulihan sektor pariwisata akibat Pandemi covid-19 mulai September 2020. Secara rinci Rp3,3 triliun digunakan sebagai kompensasi pajak hotel dan restoran, Rp400 miliyar untuk insentif tiket penerbangan domestik ke 10 destinasi dan Rp100 miliar merupakan hibah ke daerah.

Chairman Radar Lampung, Ardiansyah yang turut hadir dalam diskusi menambahkan, pelaku wisata saat ini memang harus optimis, namun mambangun optimisme itu juga harus didasari dengan indikator-indikator yang tepat.

“Kita harus tau situasinya bagaimana, kita terkadang membangun sesuatu keyakinan dari sudut yang sama tapi indikator yang berbeda. Jadi variable yang dimunculkan adalah variable dalam keadaan normal. Sementara yang ingin kita bangun merupakan variable new normal,” katanya.

Dia juga mengatakan, di masa pandemi ini, berwisata tergolong dalam kebutuhan tersier bagi masyarakat. Dalam situasi ini, banyak orang mungkin akan menunda kebutuhan tersier sehingga dengan demikian akan banyak orang yang akan menjadikan kebutuhan pariwisata sebagai kebutuhan yang tidak perlu didahulukan.

Dalam sistem pasar, sambung dia, maka para pengusaha pariwisata juga harus memahami bahwa pasar wisata juga akan mengecil. ”Karena memang banyak orang yang memang dulunya ingin menikmati sektor itu, kemudian karena adanya situasi yang sulit membuat mereka harus meniadakan hal itu,” katanya.

Di samping itu, orang yang masih ingin berwisatapun pasti akan memikirkan lagi untuk melakukan wisata lantaran kondisi dan banyaknya persyarajat yang harus dipernuhi saat berpergian. Dengan demikian pelaku wisata harus betul-betul memahami kondisi ini, sehingga dapat membangun konsep yang benar-benar membantu membangun pariwisata kembali.

“Kita juga harus punya komitmen yang kuat jadi tidak hanya sekedar memaksa bahwa sektor pariwisata ini harus dibuka. Harus dibutuhkan kemauan yang kuat untuk membangun optimisme itu. Sektor pariwisata ini sebenarnya banyak memiliki efek,” tandasnya.

Selain itu, jika banyak asumsi mengatakan dengan merosotnya pariwisata berimbas pada sektor lain. Namun sebenarnya, terdampaknya industri lain baik bidang hotel, kuliner dan sebagainya juga dapat berimbas kepada sektor pariwisata. Itu menunjukan bahwa ini merupakan rangkai yang tidak bisa dipisahkan.

“Karena itu selain membenahi sektor pariwsata, harus juga dibenahi sektor lain itu. Misalnya perhotelan, bagaimana mereka menjamin tamu merasa nyaman dan aman. Kalau semua variable ini bisa dibangun dan meyakinkan masyarakat, maka optimisme itu bisa didapatkan. Tapi kalau satu saja tidak punya komitmen maka saya rasa akan sia-sia kita membangun optimisme,” pungkasnya. (Ega/yud)

Komentar

Rekomendasi