oleh

Itera Kembangkan Masker Nanofiber

RADARLAMPUNG.CO.ID – Dosen Program Studi (Prodi) Fisika Institut Teknologi Sumatera (Itera) Dr. Abdul Rajak, M.Si., yang juga mengembangkan penelitian tentang masker nanofiber sebagai marker pencegahan virus Corona baru (Covid-19).

Abdul Rajak menjelaskan, nanofiber merupakan benang-benang kecil berukuran puluhan nanometer. Jika dibandingkan dengan sehelai rambut manusia yang umumnya berdiameter sekitar 50 mikrometer, nanofiber memiliki diameter sekitar 50 nanometer atau setara dengan sehelai rambut dibelah menjadi 1.000 kali.

Lebih jauh Rajak menerangkan, meskipun bentuknya yang kecil namun memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, termasuk ketika dijadikan lapisan masker yang kini banyak dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19.

“Material nanofiber saat ini banyak digunakan sebagai bahan perban penutup luka, sebagai sensor, bagian komponen baterai, baju pelindung yang dipakai pada dunia militer, filtrasi, rekayasa jaringan dan masih banyak lagi lainnya,” terangnya, Jumat (4/9).

Dalam penelitian yang dilakukannya, benang-benang kecil atau nanofiber dibuat atau disintesis dengan teknik elektrospinning. Dijelaskannya, pada teknik ini, bahan material penyusun nanofiber terlebih dahulu dibuat larutan atau cairan, cairan tersebut kemudian diberi tegangan tinggi hingga ribuan volt.

Akibatnya, larutan akan memiliki muatan dan akan tertarik sedemikian rupa sehingga membentuk serat dan terkumpul pada sebuah pengumpul serat yang diputar hingga membentuk sebuah lembaran.

Ketua Pusat Riset dan Inovasi Teknologi Membran Nano Itera tersebut juga mengungkapkan, masker sangat dibutuhkan pada situasi pandemi covid-19 ini. Di mana, masker digunakan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Ada banyak jenis masker yang beredar di masyarakat, mulai dari masker bedah, hingga masker N95.

“Untuk itu kami coba mengambangkan penelitian masker nanofiber yang dibuat dengan struktur berlapris untuk meningkatkan efisiensi namun tidak menghambat proses pernafasan. Karena pada nanofiber struktur porinya tidak sama seperti pada membran biasa,” ujar Rajak.

Rajak juga menyebut masker nanofiber yang sedang dikembangkan di Pusat Riset dan Inovasi Teknologi Membran Nano Itera memiliki efisiensi mendekati 100 persen atau lebih tinggi dari masker bedah dan N95. Namun umur pakainya panjang, dapat juga dibersihkan dan harga yang relatif terjangkau karena dapat disintesis dari bahan polimer alam maupun sintesis yang murah.

“Jadi tidak hanya mampu menangkal partikel-partikel halus yang beterbangan di udara, masker nanofiber juga mampu menangkal mikroorganisme aerosol lainnya termasuk didalamnya bakteri dan virus,” jelasnya. (rur/rls/sur)

Komentar

Rekomendasi