oleh

PCNU Bandarlampung: Jangan Memilih Pemimpin Karena Balas Jasa Pemberian

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pemilihan Wali Kota (Pilwakot) Bandarlampung 2020 tinggal beberapa bulan lagi. Ada tiga pasangan calon yang telah mendaftar pada 4-6 September lalu.

Menghadapi kontestasi politik lima tahunan itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bandarlampung mengajak masyarakat memilih pemimpin berdasarkan akal sehat dan nurani. Bukan karena balas jasa pemberian.

Diungkapkan Ichwan Adji Wibowo selaku Ketua PCNU Bandarlampung, NU memandang kontestasi demokrasi adalah penghargaan tertinggi bagi aspirasi rakyat atau suara rakyat. Sehingga, jangan sampai ada pihak yang mencederai tujuan demokrasi yang mulia ini.

Potensi yang bakal mencederai, seperti rakyat dibuat memilih atau menyampaikan aspirasi bukan berdasarkan pilihan berkualitas. Tapi karena balas jasa pemberian. Seperti praktik pokitik uang atau politik sembako. Karena sesungguhnya memilih berkualitas itu berdasarkan bimbingan akal sehat dan hati nurai.

“Dalam agama jika memilih pemimpin berdasarkan risywah atau suap, tentu proses tersebut pencederaan terhadap demokrasi. Sengan begitu akan melahirkan kepemimpinan yang tidak diharapkan,” ucapnya kepada Radarlampung.co.id, Rabu (9/9).

NU pun berharap kontestasi demokasi bisa dijaga, agar kesucian suara rakyat yang sejatinya mulia bisa terlindungi dengan baik. “NU berpandangan dalam memilih pemimpin itu berdasarkan pasa kaidah fiqh tasyaraful imam ala ruiyyah manutun bil maslahat, yakni bahwa kebijakan setiap pemimpin harus diorientasikan untuk kemaslahatan rakyat,” tuturnya.

Guna menjamin proses demokrasi yang melahirkan pemimpin yang berorentasi kepada kemaslahatan rakyat, menurutnya tentu memerlukan tolok ukur atau metode.

Salah satu tolok ulur atau metode memilih pemimpin yaitu dengan melihat rekam jejak masing-masing kandidat. “Misal membandingkan antara kandidat a, b, dan c. Selama ini bagaimana pengabdiannya kepada rakyat, kemudian bagaimana kepeduliannya. Juga respon dan respect kepada persoalan masayarakat,” ungkapnya.

Saat ditanya bagaimana suara NU pada Pilwakot nanti, Adji menyampaikan secara organisatoris NU tentu tidak berpolitik praktis, akan tetapi ada semacam keniscayaan dan kelaziman bahwa setiap warga Nahdliyin pada akhirnya akan mendukung dan memilih kader NU yang ikut dalam kontestasi pemilihan kepala daerah.

Kemudian, ketika ditanya siapa kader NU di kota yang maju, dirinya menyebut hanyalah Eva Dwiana yang tercatat sebagai kader dan pengurus LP Maarif NU serta telah lulus mengikuti madrasah kader NU. (pip/sur)

Komentar

Rekomendasi