oleh

Pemprov Unggulkan Delapan Program Bangkitkan Perekonomian

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pandemi Covid-19 membuat perekonomian Lampung triwulan II/2020 berkontraksi. Di mana, perekonomian Lampung tercatat -3,57%. Sementara pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan 1 2020 sebesar 1,73%.

Karo Perekonomian Provinsi Lampung Elvira Umihani mengatakan, dari berkontraksinya perekonomian Lampung pada triwulan II ini dikarekanan berbagai sektor. Pertama pengeluaran konsumsi rumah tangga di angka – 4,49%. Hal ini dikarenakan menurunnya konsumsi di hampir semua kelompok pengeluaran. Terlebih karena pandemi Covid-19, di mana aktivitas produksi mengalami penurunan, sehingga berpengaruh pada pendapatan masyarakat.

Kemudian adanya imbauan stay-at-home, pelarangan mudik lebaran, dan pengurangan aktivitas jasa angkutan penumpang juga berpengaruh pada penurunan konsumsi jasa transportasi dan pembelian BBM untuk kendaraan. ”Kebijakan social distancing juga berpengaruh pada menurunnya konsumsi rekreasi dan budaya,” beber Elvira.

Dia melanjutkan, di sisi pengeluaran lembaga dan nonprofit rumah tangga juga – 9,31%. Hal ini disebabkan oleh penurunan kegiatan organisasi sosial dan keagamaan akibat pembatasan kegiatan berkumpul dan adanya penundaan penyelenggaraan Pilkada. Kemudian pengeluaran konsumsi pemerintah juga – 6,843%, hal ini dikarenakan realisasi belanja pegawai mengalami penurunan akibat perubahan kebijakan pemberian THR.

Kemudian kontraksi belanja barang mulai dari operasional dan non operasional belanja jasa, belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan serta peningkatan belanja bantuan sosial untuk penanggulangan kemiskinan perlindungan sosial mulai dari penyaluran bantuan pangan non tunai (BNPT) atau kartu sembako dan PKH.

Lalu laju pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto juga – 7, 32%. Hal ini disebabkan penurunan realisasi belanja modal pemerintah baik bangunan maupun non bangunan dan kontraksi pada kegiatan sektor konstruksi. Serta menurunnya volume dan nilai impor barang modal.

”Kemudian untuk ekspor juga – 9,96%, hal ini dikarenakan adanya penurunan volume ekspor bahan bakar mineral sebesar – 14,32% (yoy); olahan dari bahan buah-buahan/sayuran sebesar – 9, 35% (q-to-q) dan – 18,80% (yoy); ampas atau sisa industri makanan – 9, 10% (q-to-q) dan – 25,29% (yoy). akibat pandemi covid 19 terjadi penurunan jumlah tamu asing dan domestic,” tambah Elvira.

Selain itu impor juga turun sebesar – 13,85%, ini terjadi akibat penurunan volume impor bahan bakar mineral sebesar – 85, 28% (yoy); binatang hidup -28,75% (q-to-q) dan -46,85 (yoy); biji-bijian berminyak -1,43% (q-to-q).

Pada triwulan II/2020 ada beberapa fenomena ekonomi yang tercatat di Lampung. Mulai dari pertumbuhan subkategori tanaman pangan sangat positif tinggi karena pertumbuhan produksi padi sebesar 390,82% (q-to-q), 24,92% (yoy) karena adanya pergeseran panen. Fenomena lainnya ialah pertumbuhan sub kategori tanaman perkebunan baik semusim maupun tahunan untuk (q-to-q) dan (yoy) positif. Karena Lampung memasuki musim giling tebu dan juga panen kopi.

”Untuk tingkat penghunian hotel turun – 58,33% (q-to-q) dan -62,59% yoy. Karena tempat wisata di Lampung juga ditutup sementara mulai dari April hingga Mei sehingga berdampak pada menurunnya aktivitas agen perjalanan, jasa akomodasi dan restoran, toko-toko oleh-oleh dan transportasi,” tambahnya.

Selain itu ada adanya peningkatan penggunaan akses internet akibat adanya kebijakan work from home (WFH) school from home atau (SFH) dan juga lebaran untuk silaturahmi secara virtual, karena adanya larangan mudik Dan pulang kampung.

Ada penurunan semua aktivitas industri pengolahan akibat terdampak covid 19 kecuali industri farmasi dan karet. Pernah realisasi pengadaan semen sebesar -4,50% (q-to-q) dan -2,28% (yoy) akibat dari penundaan kegiatan konstruksi di Lampung. kemudian penurunan produksi kayu lok Lampung sebesar – 35,70 (q-to-q) dan -41,19% yoy. Serta penurunan impor kayu log sebesar -43,71% (q-to-q) dan -17,57 (yoy).

Dalam mendongkrak perekonomian secara nasional pemerintah mengeluarkan program pemulihan ekonomi nasional yang diarahkan pada perbaikan sisi deman mulai menjaga konsumsi, mendorong investasi, mendukung ekspor impor. dan untuk dunia usaha dukungan untuk UMKM BUMN dan koperasi juga diberikan.

Sementara ke kebijakan pemerintah provinsi Lampung dalam melaksanakan program pembangunan ekonomi nasional dimulai dari arah kebijakannya untuk konsumsi rumah tangga dan LNPRT, dengan mempertahankan dan meningkatkan daya beli masyarakat mulai. menjaga stabilitas inflasi, mengatasi berbagai ketimpangan baik dalam konteks pendapatan antar kelompok masyarakat antar wilayah, penyaluran bansos secara tepat sasaran dan tepat waktu dan pemberdayaan ekonomi masyarakat terutama masyarakat miskin.

Kemudian untuk di sisi investasi, pemprov Lampung memberikan peningkatan iklim investasi yang kondusif. Dimana didalamnya terdiri dari penyederhanaan dan percepatan peranan investasi, pemberian insentif pajak bagi investor, jaminan kepastian hukum berusaha dan kepastian biaya pelayanan, kemudian promosi investasi dan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mendukung usaha, bisnis dan investasi.

Dari sisi konsumsi pemerintah pemerintah melakukan percepatan penyerapan anggaran pemerintah itu sendiri. kemudian untuk ekspor impor, untuk ekspor sendiri akan melakukan peningkatan daya saing produk ekspor mulai dari mengembangkan produk ekspor potensial. Kemudian mendorong perkembangan industri berorientasi ekspor, diversifikasi negara tujuan ekspor dan meningkatkan ekspor antara daerah melalui kerjasama perdagangan. sementara untuk impor diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan bahan baku dan barang modal.

”Untuk strategi atau program pemulihan ekonomi pasca Covid-19 sendiri ada 8 program yang akan dilakukan Pemprov Lampung. Di antaranya penguatan kesehatan, penguatan program perlindungan sosial, akselerasi investasi, pembangunan pertanian. Kemudian adanya pemulihan industry, perdagangan, dan UMKM, ada pula pemulihan sektor pariwisata, pembangunan SDM dan pembangunan infrastruktur,” lanjutnya.

Pertama rerkait penguatan kesehatan, jadi penguatan sistem kesehatan ini dilakukan dengan upaya promotif dan preventif melalui GERMAS, kapasitas health security terutama surveilans, jejaring dan kapasitas laboratorium. Kemudian sistem informasi serta pemenuhan sumber daya kesehatan seperti fasilitas farmasi, alat kesehatan serta SDM kesehatan.

Kemudian penguatan program perlindungan sosial yang dilakukan dengan perluasan program bantuan sosial. Termasuk perubahan basis data yang mencakup pekerja sektor informal. Langkah ini dilakukan utamanya untuk menjaga daya beli masyarakat terutama kelompok yang rentan pasca covid-19. Selanjutnya akselerasi investasi.

Di mana dilakukan dengan menarik investasi sebesar-besarnya untuk menggerakkan ekonomi dengan penyederhanaan dan percepatan pelayanan investasi, pemberian insentif pajak bagi investor, jaminan kepastian hukum berusaha dan kepastian biaya pelayanan, promosi investasi serta sinergi antara pemerintah dunia usaha dan masyarakat untuk mendukung usaha bisnis dan investasi.

”Untuk pembangunan pertanian dilakukan dengan meningkatkan indeks pertanaman sebagai hasil dari pembangunan irigasi. kemudian juga fokus pada pengembangan komoditi unggulan yang permintaannya tinggi seperti pisang dan nanas. juga dilakukan peningkatan produksi peternakan terutama sapi, melakukan perwilayahan komoditi serta implementasi program kartu petani berjaya (KPB),” tambahnya.

Untuk sektor industri, perdagangan dan UMKM dilakukan inovasi digital marketing melalui program seperti pasar berjaya, ikaniku, Bligeh.com untuk mendukung pemasaran produk UMKM. Selanjutnya ada juga pelaksanaan operasi pasar bank yang bekerjasama dengan go-jek, pemberian bantuan stimulan usaha kepada koperasi dan UMKM dan penerapan protokol kesehatan pada kegiatan industri dan perdagangan.

Selanjutnya sektor pariwisata yang paling penting ialah penerapan protokol kesehatan pada semua sisi subsistem pariwisata. Kemudian penyediaan insentif untuk paket wisata khusus di destinasi prioritas, peningkatan infrastruktur dan standar pelayanan serta peningkatan pemasaran wisata.

Kemudian pembangunan SDM diarahkan pada upaya peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja yang mulai dari penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi serta pendidikan menengah dan umum. terakhir ialah pembangunan infrastruktur dilakukan dengan investasi infrastruktur padat karya yang mendukung kawasan pertanian, industri dan pariwisata. (rma/sur)

Komentar

Rekomendasi