oleh

Dosen Kimia FMIPA Unila Ciptakan Inovasi Baru Bagi Petani Nelayan Rumput Laut di Desa Legundi Lampung Selatan

Oleh: Dr. Yuli Ambarwati, M.Si

RADARLAMPUNG.CO.ID – Masyarakat Desa Legundi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan sebagian besar membudidayakan rumput laut sebagai matapencaharian kedua selain sebagai nelayan. Pada November 2019, terjadi ombak besar disertai angin kencang selama sepekan sehingga merusak ratusan hektar budidaya rumput laut di pesisir timur Kabupaten Lampung Selatan. Tanaman rumput laut siap panen porak poranda dan tak tersisa digulung ombak, akibatnya petani setempat merugi hingga ratusan juta rupiah.

Meskipun begitu petani nelayan Desa Legundi tetap membudidayakan rumput laut sampai sekarang sebagai penghasilan sampingan. Selain faktor cuaca yang tidak menentu, saat ini harga rumput laut yang terus menurun dipasaran menyebabkan masyarakat kurang bersemangat dalam mengembangkan budi daya rumput laut.

Selama ini masyarakat menjual rumput laut dalam bentuk mentah tidak diolah terlebih dahulu, sehingga kurang menambah nilai jual dari rumput laut tersebut. Hasil panen akan langsung dijual ke pengepul yang mengakibatkan harga rumput laut sangat murah. Harga rumput laut dipasaran saat ini berkisar Rp4.000-6.000 per kilogram, akibatnya banyak petani nelayan budi daya rumput laut yang berhenti berproduksi, karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan harga penjualan.

Harga yang tidak stabil membuat petanin nelayan di Desa Legundi kurang bersemangat membudidayakan Rumput Laut. Padahal, dulu banyak Kelompok Tani Nelayan yang membudidayakan rumput laut di Kecamatan Ketapang, tapi saat ini tersisa 1 kelompok saja yang masih aktif.

Kondisi pandemi Covid-19 juga berdampak pada masyarakat Desa Legundi, salah satu yang paling dominan terdampak adalah aspek ekonomi. Banyak yang pendapatannya berkurang dan bahkan kehilangan pekerjaan.

Untuk itu, sesuai dengan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pangabdian Kepada Masyarakat, Dosen FMIPA Unila yang terdiri dari Dra. Aspita Laila M.S, Dr. Yuli Ambarwati M.Si, Prof. John Hendri Ph.D, dan Dr. M. Setyarini M.Si menciptakan inovasi baru dengan rumput laut sebagai bahan utamanya.

Tim pengabdian ini tertarik untuk membantu masyarakat petani nelayan Desa Legundi dengan memberikan pelatihan “mengubah rumput laut menjadi produk pasta gigi dan masker wajah”, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis dari rumput laut tersebut.

Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan Kelompok Tani Nelayan “Sinar Legundi” Desa Legundi, Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. Diawali dengan kegiatan sosialisasi, dan pelaksanaan pelatihan pembuatan pasta gigi dan masker wajah rumput dan monitoring evaluasi, yang dilaksanakan dari bulan Juli-September 2020.

Proses pembuatan pasta gigi dan masker wajah rumput laut tergolong sederhana, dengan bahan dasar rumput laut yang banyak dihasilkan masyarakat Desa Legundi. Rumput laut sudah cukup lama digunakan untuk kesehatan gigi, hal ini dikarenakan sifat anti inflamasinya yang bertanggung jawab untuk perbaikan fungsi kelenjar ludah dan membuat jaringan mulut lebih tahan terhadap kerusakan.

Rumput Laut mengandung kalsium dan vitamin K yang sangat tinggi. Kalsium yang dihasilkan dari rumput laut memiliki kandungan 5 kali lebih besar dibandingkan susu. Vitamin K yang berada pada 1 porsi rumput laut lebih dari kandungan vitamin K pada brokoli. Vitamin K ini berperan dalam menjaga kesehatan gigi.

Selain itu rumput laut dapat digunakan sebagai masker wajah karena mengandung antioksidan. Antioksidan dalam rumput laut bisa mencegah kerusakan akibat radikal bebas pada kulit dan melindungi kulit terhadap penuaan. Kandungan antioksidan membantu detoksifikasi kulit dari racun maupun kotoran yang sering kali menjadi penyebab utama timbulnya komedo dan jerawat.

Manfaat dari rumput laut yaitu untuk proses penyembuhan masalah kulit seperti jerawat, rosacea, psoriasis atau kondisi kulit lainnya. Menggunakan rumput laut dalam masker wajah, bisa menjaga kulit tetap bersih dan membantu mengatasi masalah lebih lanjut dengan kulit.

Rumput laut yang kaya akan vitamin B dan anti inflamasi dapat menghidrasi kulit, yakni dengan memberikan kelembapan yang alami, campuran vitamin, mineral, asam lemak serta antioksidan bermanfaat bagi tubuh dan kulit.

Bahan yang lain dalam pembuatan pasta gigi adalah baking soda, atau nama kimianya sodium bikarbonat. Pada dasarnya, baking soda adalah zat alkali yang dapat mengubah level keasaman zat yang mengandung asam menjadi lebih netral. Dalam dunia medis, sodium bikarbonat banyak digunakan sebagai obat antasida yang dapat bereaksi cepat untuk meredakan asam lambung.

Sedangkan dalam kesehatan gigi, baking soda juga sudah banyak digunakan untuk memutihkan gigi. Sebuah penelitian mengungkap bahwa penggunaan pasta gigi yang mengandung baking soda memang dapat mengurangi noda pada gigi karena sifatnya yang sedikit abrasif. Semakin banyak kandungan baking soda di dalam pasta gigi, semakin ampuh pasta gigi itu menghilangkan noda pada gigi Anda.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa pasta gigi yang mengandung 65 persen baking soda masih aman digunakan dan efektif menghilangkan noda gigi. Penelitian lain yang menggunakan baking soda untuk gigi juga menunjukkan penurunan jumlah bakteri jahat yang berpotensi merusak gigi.

Plak gigi adalah lapisan bakteria yang terbentuk di lapisan terluar gigi (enamel) dan terasa lengket serta tidak memiliki warna. Untuk menghilangkan plak ini, dapat menggunakan baking soda untuk gigi dalam bentuk pasta gigi.

Studi menyatakan penggunaan pasta gigi yang mengandung baking soda lebih efektif menghilangkan plak dibanding menggosok gigi dengan odol tanpa baking soda. Selain digunakan dalam bentuk pasta gigi, dapat melarutkan baking soda dalam air dan menggunakannya sebagai obat kumur untuk mengurangi bau mulut.

Cara pembuatannya cukup sederhana, dengan mencampurkan rumput laut yang sudah diblender halus, ditambah baking soda dengan perbandingan 1:3, lalu ditambahkan bubuk stevia atau pemanis alami, ektrak mint dan sari jeruk nipis. Semua diaduk jadi satu sampai tercampur merata, setelah itu disimpan di wadah tertutup dan siap digunakan. Untuk pembuatan masker wajah dengan mencampurkan rumput laut, madu dan ekstrak lidah buaya dengan perbandingan yang sama.

Tim pengabdian berharap inovasi ini dapat meningkatkan nilai tambah para petani nelayan rumput laut, sehingga kondisi ekonomi khususnya di masa pandemi saat ini bisa lebih baik.

Petani nelayan juga dilatih dan dibina untuk berinovasi menghasilkan produk-produk rumput laut yang lainnya sehingga nilai ekonomis rumput laut akan semakin meningkat.

Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan, masyarakat desa Legundi sudah memproduksi pasta gigi dan masker wajah rumput laut untuk keperluan keluarga dan sekitarnya. Tim pengabdian berharap kedepannya dapat dibina dalam hal pengemasan dan pemasaran, sehingga produk pasta gigi dan masker wajah rumput laut ini dapat dijual di sekitar Lampung Selatan dan Bandar Lampung.

Tim pengabdian mengucapkan terimakasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung atas dukungannya melalui DIPA BLU UNILA. Semoga hasil pengabdian ini bermanfaat bagi masyarakat Lampung, khususnya Desa Legundi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. (gie/rls/sur)

Komentar

Rekomendasi