oleh

Tak Ada Penampung Datang, Petani Rampai Kelimpungan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Hampir satu bulan masa panen rampai di Kedaung, Kemiling berlalu. Namun rampai petani dibiarkan menempel di batangnya. Tanpa dipetik.

Itu dikarenakan tidak ada penampung yang mau menampung rampai tersebut. Sehingga membuat petani pasrah dan memberikan rampai tanamannya ke masyarakat.

Mudmainah (79), salah satu petani rampai menuturkan, dirinya telah lama menjadi petani rampai, namun baru kali ini tidak mampu mengembalikan modal dan menjual rampai hasil taninya.

“Sudah hampir satu bulan setengah masa panen ini berlangsung. Namun sama sekali tidak ada yang mau membeli dan menampung rampai ini,” ujarnya kepada Radarlampung.co.id, Minggu (4/10).

Padahal, dirinya telah menghabiskan modal cukup besar untuk menanam rampai seluas 3,5 rantai atau 15.000 m2. “Ya pupuk saja sudah habis Rp975 ribu, cangkul tanah Rp1,5 juta, belum obat dan lainnya,” tuturnya.

Tidak adanya yang menampung rampai ini, menurut Mudmainah tidak terlepas dari pandemi Covid-19. “Memang gak laku, penadahnya gak ada. Lagi (pandemi) Corona jadi yang beli dikit-dikit,” ucapnya.

Dirinya memperkirakan hasil panen yang tidak laku dijual mencapai satu ton. “Ya sekitar satu ton ini, kalau laku seribu per kg tentu sudah balik modal, tapi ini gak sama sekali. Biasanya harganya Rp3 ribu per kg,” terangnya.

Kini, dirinya lantas mempersilahkan warga untuk mengambil secara cuma-cuma. “Ya saya bagikan ke tetangga dan lainnya, siapa yang mau ambil petik saja di kebun,” ungkapnya.

Dirinya berharap pemerintah memberi perhatian khusus ke para petani yang saat ini terdampak Covid-19 ini. “Dibantu lah seperti modal. Atau Dinas dapat menampung hasil panen kami,” ujarnya.

Senada disampaikan Sugito (54) petani rampai lainnya. Dirinya pun mengiklaskan tanamannya diberikan ke warga. “Dari pada busuk dan gak ada yang nampung,” ucapnya.

Menurutnya, ada puluhan petani rampai di seputaran Kelurahan Kedaung ini. ” Kita berharap adanya perhatian pemerintah di saat seperti ini. Serta diberi solusi,” ungkapnya. (pip/sur)

Komentar

Rekomendasi