oleh

Masa Pandemi, Begini Mekanisme Penilaian Terhadap Siswa

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pembelajaran jarak jauh melalui daring di masa pandemi Covid-19 miliki kendala tersendiri, seperti terbatasnya jaringan internet di wilayah yang tidak terjangkau sinyal internet, ketersediaan kuota internet, juga sarana prasarana yang harus dimiliki.

Namun, yang lebih penting dari pembelajaran daring ini bagaimana kompetensi dasar bisa tersampaikan kepada siswa. Untuk itu, dalam pembelajaran daring, salah satu yang diminta kepada satuan pendidikan ialah penyesuaian kurikulum di masa pandemi covid-19 ini.

“Karena kurikulum 13 tidak mampu ter-backup dengan pembelajaran daring. Karena itu dilakukan pemadatan kurikulum dengan mengover jumlah mata pelajaran. Kurikulum yang disesuaikan lebih kepada mata pelajaran wajib dan pokok, termasuk penilaian pun harus disesuaikan. Bagaimana mengakumulasikan ujian itu, mekanisme dan sistemnya pasti ada,” jelas Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung Aswarodi, Kamis (15/10).

Ketua MKKS SMA Lampung Suharto mengatakan, penilaian yang dilakukan terhadap siswa ada tempatnya sendiri. Ada penilaian harian yang dilakukan terhadap ketercapaian kompetensi yang diajarkan, lalu penilaian tengah semester melalui ujian tengah semester, dan penilaian akhir semester.

Ketercapaian masing-masing kompetensi akan diakumulasikan menjadi ketercapaian mata pelajaran dalam satu semester.

“Artinya memang di proses pembelajaran kita tidak fokus betul untuk pencapaian KKM (kriteria ketuntasan minimal). Tapi jika proses pembelajaran itu bisa didesain dan disajikan dengan baik, otomatis KKM tercapai. Yang membedakannya kan sumber belajar, dalam daring memang anak-anak bisa mengakses yang lain selain guru. Memang hasilnya tidak semaksimal kalau kita tatap langsung karena bisa kita monitor dan pembenahan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum 13, tapi terkait strategi, teknis dan caranya penyampaiannya diserahkan kepada masing-masing guru sesuai dengan kondisi dari siswanya.

“Nah begitu juga evaluasi terhadap pembelajarannya, dan ketercapaian kompetensi dasarnya kan berbeda-beda, setiap guru berbeda. Kalau kkmnya kan ada di akhir semester, nanti diakumulasi berapa nilai harian, tengah semester, penilaian akhir semester, baru nanti hasil akhirnya. Nah hasil akhirnya itu yang menjadi nilai kkmnya, kalau ada yang belum tuntas, bisa melalui remedial. Kalau sekarang ya belum ada hasil akhirnya,” terangnya.

Lalu, saat ini, pihaknya belum menerima hasil penilaian tengah semester yang baru saja dilaksanakan.

“Belum, kan baru selesai. Tapi yang terpenting, semua mengikuti prosedur normatif terkait penyelenggaraan pembelajaran. Karena itu kan komponen-komponen yang harus kita lakukan di dalam penilaian, meskipun fokusnya mungkin tidak secara utuh ketercapaian kompetensi minimal, tapi jika prosesnya bagus ya sama. Kan daring itu hanya modelnya saja, akses belajarnya jauh lebih banyak, hanya terhadap anak-anak yang bermasalah itu yang menjadi problem,” tukasnya.

Untuk itu, jika ada siswa yang mengalami masalah misalkan pada sarana prasarana, motivasinya, dan faktor lainnya, harus ada pendampingan yang dilakukan melalui guru bimbingan konseling.

“Karena itu kita imbau guru BK juga membuka konsultasi daring kepada siswa tersebut,” tandasnya. (rur/sur)

Komentar

Rekomendasi