oleh

UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung Beri Pemahaman Guru IPS, Sejarah dan Seni Budaya se-Lampung

Radarlampung.co.id –  UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung, menyelenggarakan Seminar  Ragam Hias Tradisional Lampung Cermin Dinamika Budaya, yang berlangsung di dalam Bioskop Sanak Lampung, Museum Lampung, Senin (26/10)

Seminar yang diikuti sekitar 100 peserta, berasal dari Guru IPS, Sejarah dan Guru Seni Budaya SMA se Bandarlampung, Lamtim, dan Lamteng. Bahkan, Mahasiswa Seni Budaya Unila dan Arsitektur UNILA dan ITERA.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan  (Disdikbud) Lampung, Drs.Sulpakar,MM melalui Kepala UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung, Budi Supriyanto, S.Sos.M.Hum, mengatakan, kegiatan seminar hias tradisional cermin dinamika Budaya Lampung, dapat mengungkapkan berbagai hal yang penting terkait dengan tradisi dan budaya.

“Semoga seminar ini dapat dijadikan salah satu referensi untuk pengembangan budaya Lampung agar Masyarakat Lampung Berjaya,”harapnya yang juga diamini oleh Kasi Teknis UPTD Museum Lampung Nyoman Maliani, S.Sos.MM dan Kasi Pelayanan UPTD Museum Lampung Rodi Hayani Samsun, SH.

Dosen Desain Komunikasi Visual ITERA PG.Wisnu  Wijaya S.Sn.,M.Sn membahas tentang Revitalisasi Motif Daerah Sebagai Ikonisasi Branding Lampung Studi Kasus Tekat Pesisir Barat

Seminar Ragam Hias Tradisional Lampung ini, di Moderator oleh I Made Giri Gunadi,M.Si dengan menghadirkan dua narasumber yakni
Pemerhati Budaya dan Pengrajin Tekstil Lampung Iriansyah dan Dosen Desain Komunikasi Visual,ITERA PG.Wisnu  Wijaya S.Sn.,M.Sn.

Pemerhati Budaya dan Pengrajin Tekstil Lampung, Iriansyah menyampaikan bahwa tradisi adat sangat bervariasi terutama pemakaian benda-benda dalam prosesi perkawinan adat. Misalnya, Prosesi adat lampung megoupak Tulang Bawang yang menggunakan makna simbolis. “Karena dulunya tidak mengenal tulisan jadi penyampaian ragam hias budaya melalui simbol simbol,”ucapnya.

Sementara, Dosen Desain Komunikasi Visual ITERA PG.Wisnu Wijaya membahas tentang Revitalisasi Motif Daerah Sebagai Ikonisasi Branding Lampung Studi Kasus Tekat Pesisir Barat.

Menurutnya, Tekat merupakan cara memperindah suatu obyek, baik berupa hiasan maupun motif. “Tekat ini bisa diistilah memberikan sentuhan estetika terhadap sebuah benda,” ucapnya.

Perwakilan Peserta Seminar berasal dari Guru IPS Sejarah antusias bertanya kepada narasumber Seminar  Ragam Hias Tradisional Lampung Cermin Dinamika Budaya.

Khusus, Pesisir Barat memiliki variasi Jenis Tekat, seperti Tekat Sporadis, Tekat Biku-Biku, Tekat Mata Petek, Tekat Sayak Galamai, Tekat Awan Berjumpa dan lainnya.

“Makanya, Studi Kasus Tekat Pesisir Barat sebagai Ikonisasi Branding Lampung ini membuktikan bahwa Dimana kebudayaan itu dinamis, fleksibel dan selalu berkembang dan menjadi paradigma baru agar keberlanjutan. “Diharapkan Peran peran generasi muda mampu berinovasi dalam Revitalisasi Motif Daerah untuk dibuat ulang agar lebih modernisasi,”pintanya.

Terpisah, Guru Sejarah SMA Muhammadiyah 1 Brajaselebah, Lamtim, Sigit Ariyanto.S.Pd mengapresiasi kegiatan seminar tersebut. Dirinya pun berharap program kegiatan ini dapat dilanjutkan guna pengenalan ragam hias di Lampung sehingga kelak suatu kerajinan yang dihasilkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, salah satunya dalam berkarya membuat replika ragam hias dalam bentuk souvenir.

Bahkan, Ia pun berencana mengedukasi para siswa belajar di Museum Lampung. “UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung jadi sarana rekreasi sambil belajar di Pameran maupun Bioskop sanak lampung, Museum Lampung,” pungkasnya.  (gie/yud)

Komentar

Rekomendasi