oleh

UPTD Museum Lampung Gelar Seminar Topeng Lampung

//Keragaman Topeng Lampung dalam Kesatuan Budaya//

Radarlampung.co.id – UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung, menggelar seminar Topeng Lampung bertemakan Keragaman Topeng Lampung dalam Kesatuan Budaya, di Bioskop Sanak Lampung, Museum Lampung, Selasa (27/10).

Seminar Topeng ini, dimoderatori oleh I Made Giri Gunadi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Dosen Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung, FKIP Unila Dr.I Wayan Mustika, M.Hum dan Pengamat Topeng Lampung Drs.Oki Laksito.

Seminar Topeng ini, diikuti 100 orang Peserta berasal dari Guru IPS Sejarah dan Guru Seni Budaya SMA se-Bandar lampung, Lamtim, dan Lamteng. Bahkan, Mahasiswa Seni Budaya Unila dan Arsitektur Unila dan Itera dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19.

Kepala UPTD Museum Ruwa Jurai Lampung, Budi Supriyanto, S.Sos.M.Hum, melalui Ketua Pelaksana Seminar Topeng Rodi Hayani,S,SH.,M.I.P menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan menjadikan museum sebagai salah satu sumber data sejarah dan  kebudayaan, yang dapat dijadikan referensi bagi kalangan pendidik dan akademisi.

Arkeolog sekaligus Pengamat Topeng Lampung, Drs.Oki Laksito menyampaikan materi tentang Ilmu Kebudayaan dan Komunitas Topeng Lampung

“Kami ingin, museum menjadi bagian dari lembaga yang turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan di bidang  sejarah dan kebudayaan,” ungkap Rodi, diamini Kasi Teknis UPTD Museum Lampung Nyoman Maliani, S.Sos.MM. Selasa (27/10).

Dia berharap, pelaksanaan kegiatan seminar Keragaman Topeng Lampung dalam Kesatuan Budaya ini, dapat menggali informasi dan data ilmiah untuk menjadikan referensi bagi museum dan untuk disajikan sebagai bahan informasi. Baik untuk kepentingan pameran atau penelitian lebih lanjut oleh kalangan pendidik dan akademisi.

Sementara, Dosen Program Studi Magister  Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung, FKIP Unila Dr.I Wayan Mustika, M. Hum menyampaikan materi bentuk pertunjukkan Tupping dan Sekura ditinjau dari Perspektif masyarakat Lampung Selatan dan Lampung Barat.

Menurutnya, Seni Tupping merupakan sebuah seni pertunjukkan satu-satunya yang ada didaerah Kalianda, Lampung Selatan, yang dimiliki oleh masyarakat Desa Kesugihan. Sementara Sekura sebagai indentitas Kabupaten Lampung Barat.

Peserta Seminar topeng tampak antuias mengikuti seminar

Lebih rinci, Dr. I Wayan menjelaskan bahwa bentuk Pertunjukan Tupping, Sekura dan beberapa pertunjukkan topeng yang ada di Bali, korea, dan Jepang, memiliki unsur kesamaan yaitu, sebagai bentuk syukur bagi masyarakat agraris, keselamatan, kesuburan dan mengusir wabah penyakit.

Dimana, Bentuk muka topeng sama-sama tidak beraturan, busana topeng seadanya, gerak tarinya tidak beraturan/improvisasi, dan memiliki sejarah kebudayaan yang sangat tua.

“Tupping dan Sekura ini sebagai identitas masyarakat Lampung Selatan dan Lampung Barat melalui sejarah asal muasal leluhurnya dan mempertahankan adat budaya sebagai kearifan lokal kedua daerah tersebut,” ucapnya.

Pengamat Topeng Lampung Drs.Oki Laksito menyampaikan materi tentang Ilmu Kebudayaan dan Komunitas Topeng Lampung. Ia menyampaikan, Ilmu Kebudayaan itu luas misalnya apapun yang menutupi wajah bisa disebut Tupping dan Sekura.

“Tidak hanya Lampung Selatan dengan Lampung Barat tapi daerah lainnya yang menutupi wajah disebut Tupping dan Sekura,”ucapnya.

Lalu, Ia pun menghimbau kepada Akademisi atau mahasiswa untuk menggali ilmu kebudayaan agar lebih mudah dipahami salah satunya adalah melalui Penelitian terkait Topeng Lampung. “Ini semua  untuk kemajuan Kebudayaan khususnya kebudayaan Topeng di Lampung, “tambahnya.

Sementara,  Guru Sejarah SMAN 1 Way Pengubuan Lamteng Agus Andika,S.Pd mengapresiasi kegiatan Seminar Topeng yang diselenggarakan UPTD Museum Lampung karena menambah wawasan berbagai  Seni Budaya Topeng di Lampung. “Topeng itu refleksi keaslian.Topeng ini tidak bisa hilang di masyarakat hanya mungkin terus mengalami perubahan (berinovasi) bentuk dan kemanfaatannya,”yakinnya.  (gie/yud)

Komentar

Rekomendasi