oleh

Bangun Konservasi Demi Selamatkan Musang di Lampung

//Kisah ASN Inspiratif Asal Lampung//

Dibalik kesederhanaan Rohim (40), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kehutanan Provinsi Lampung UPTD KPH X Pematang Neba, Tanggamus ini ternyata memiliki niat mulia dalam melestarikan musang di Lampung. Meski hanya seorang ASN selaku Polisi Hutan (Polhut), Ia telah membuat musang terus bisa berkembangbiak dengan baik di konservasi miliknya yang telah di setujui BKSDA Bengkulu-Lampung.

Laporan : Rimadani Eka Mareta/radarlampung.co.id

Tak banyak yang dilakukan Rohim saat radarlampung.co.id menemuinya di Jalan Hi Sardana, Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa Bandarlampung.

Dia berduduk santai didepan rumahnya. Rohim, yang masuk dalam 40 kandidat terpilih PNS Inspiratif dalam Anugerah ASN 2020 dan satu-satunya yang mewakili Lampung ini ternyata memiliki pekerjaan mulia lainnya. Ya, dirumahnya, Rohim memiliki puluhan kandang yang disiapkan untuk musang yang sengaja dipelihara untuk terus dilestarikan.

Kesukaan Rohim dengan hewan, termasuk musang memang telah ada sejak dirinya masih kecil. Kemudian lima tahun lalu, dirinya memutuskan mendirikan konservasi ini.

“Sejak kecil sudah suka dengan binatang, suka memelihara binatang. Saya pas kecil juga pernah punya musang. kemudian saya akhirnya memutuskan untuk mendirikan konservasi ini. Dengan dasarnya untuk penyelematan hewan, terutama musang,” beber Rohim.

Saung Musang Lampung. Akhirnya didirikan dengan dasar  penyelematan hewan. Karena tak hanya memelihara saja, musang disini pun dibudidayakan dan jika usia dan kondisi musang yang sudah mandiri juga akan kembali dilepaskan ke habitat aslinya.

Konservasi yang telah bertahan selama lima tahun, yakni sejak didirikan pada 26 Juni 2016. “Awalnya hanya empat ekor. Sekarang ada 17 ekor yang ada di kandang belakang. Rentang usianya 7 bulan sampai 5 tahun. Untuk yang awal itu ada yang diperoleh hibah dan ada komunitas menitipkan disini,” lanjut Rohim.

Jika dihitung kembali, total sudah ada 27 ekor yang sempat tinggal di konservasinya. Ada yang memang sudah jinak akhirnya dititipkan ke teman komunitas lain, ada pula yang memang tidak bisa dijinakkan tetap dipelihara oleh Rohim.

Namun perjuangannya tidak mudah. Rohim yang juga PNS ini harus membagi waktunya. Senin sampai Jumat dipakainya untuk bekerja sebagai polisi hutan. Disini pula rasa prihatin akan banyaknya pemburu yang menangkap musang membuatnya geram.

“Saya heran ketika saya menjalankan tugas banyak sekali perburuan. Artinya kan ada nilai jualnya, kan nggak mungkin dia berburu kalau tidak ada nilainya. Makanya kami selalu sosialisasi kemasyarakat, misalnya digunung kami beri informasi, kalau ada pemburu kesini tolong jangan dibiarkan masuk, kemarin juga kita sudah lepaskan dua ekor di Tahura (Taman Hutan Raya), kita koordinasi dengan kanit dan pendampingan disana dimana spot yang kita rilis,” lanjutnya.

Setahun berlalu. Ditahun kedua, hingga tahun ke tiga Rohim mulai merasakan semakin beratnya dalam mendirikan konservasi musang ini. Apalagi Rohim paham, dirinya hanya PNS biasa. Sementara dirinya pun harus menghidupi keluarganya.

Apalagi, dirinya dalam mengurus konservasi ini mutlak tidak memperoleh bantuan. “Jadi saat buka penangkaran ini saya sempat kewalahan awalnya, satu saya PNS biasa, satu sisi saya punya keluarga, dan merawat musang dan butuh uang banyak. Kita mutlak ga  ada bantuan, ini mutlak perjuangan saya dari didirikan sampai sekarang,” lanjutnya.

Maka, Rohim mulai mengandalkan kopi. Dirinya yang sengaja membeli kopi dari petani awalnya hanya untuk sendiri. Namun perlahan dirinya mulai produksi.

Kopi mentah pun disajikan ke musang. Meskipun ini bukan menjadi produksi yang berkelanjutan. Hanya memberikan seminggu dua kali saja pada musang, itupun saat masa panen kopi.

“Awalnya saya kemas kopi untuk diri sendiri, tahun kedua kerasa banyak sekali perawatan nya. Tahun ke tiga ya akhirnya kami produksi kopi. Ini untuk menopang mereka. Jadi beli kopi dari petani, ada yang kami produksi sendiri, ada yang kami sajikan ke musang. Tapi yang tidak dimakan musang juga kami olah, dan yang dimakan juga kami olah, jadi kopi luwak. Tapi ini tidak kami fokuskan, kami hanya kesejahteraan nya saja. Dalam musim kopi pun satu minggu hanya dua kali kami kasih,” lanjutnya.

Hingga saat ini, konservasi yang didirikannya masih ada. Tercatat ada tiga jenis musang yang masih ada di konservasi nya, yaitu musang pandan, musang bulan, musang akar.

Dirinya pun berencana membangun 20 kandang di samping rumahnya untuk dijadikan sarana edukasi. Namun saat ini masih belum dapat dilanjutkan. Rohim berharap, kedepan adanya bantuan yang bisa mendukungnya dalam melestarikan musang.

“Saya tidak ingin kedepanya musang ini sudah tidak dapat dilihat secara langsung oleh anak cucu kita. Kalau sampai sekarang jumlah di Lampung cukup banyak, ya tapi kalau kami kalau dia sudah cukup akan kita lepaskan,” tambahnya. (*)


Komentar

Rekomendasi