oleh

Gubernur Lampung Dukung Ekspor Daging Sapi Wagyu Produksi Lamtim

RADARLAMPUNG.CO.ID-Potensi mengembangkan daging sapi wagyu dari Lampung untuk dilakukan ekspor berbagai negara mulai dilakukan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Hal ini terkait Lampung memiliki peternakan sapi wagyu satu-satunya di Indonesia.

Dukungan kepada produksi sapi hingga ekspor daging wagyu yang masuk kelas daging premium ini di ungkapkan Arinal usai mengunjungi peternakan sapi wagyu milik PT Austasia Stockfeed salah satu perusahaan dibawah Japfa Group di Lampung Timur, Rabu (18/11).

Arinal menyebut peternakan sapi ini merupakan kebanggaan. Mengingat Lampung merupakan penghasil sapi nomor satu di Sumatera dan nomor 4 tingkat nasional, namun juga memiliki peternakan untuk daging sapi wagyu yang masuk dalam daging sapi premium.

“Saat saya melakukan pertemuan dengan gubernur se-indonesia, gubernur Sulawesi Selatan itu mengatakan kepada saya untuk jangan mati ya daging wagyu nya. Karena orang Jepang orang Amerika di Sulawesi Selatan sudah enggak impor dari Jepang. Karena rasa dagingnya itu enak sekali. dari situ saya perintahkan untuk cari peternakan sapi wagyu di Lampung,” beber Arinal.

Menurut Arinal peternakan ini merupakan investasi yang luar biasa, karena pertahunnya bisa menghasilkan sampai 5000 ekor sapi wagyu dengan harga per ekornya sampai Rp40 juta.

Karena potensi yang luar biasa, Arinal meminta PT Austasia Stockfeed jika siap untuk melakukan ekspor, untuk memberikan surat kepadanya segala kesiapan yang telah dimiliki. “karena saya ini sudah mendapatkan perintah dari menteri untuk berhenti impor, itu saya catat. saya mendukung rencana ekspor ini tapi saya juga meminta untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. saya mendukung ekspor karena kan pasti kalau ekspor itu ada persaingan dan peluang ke depannya, maka itu akan kita siapkan,” lanjutnya.

Sementara Dayan Antoni Adiningrat sebagai Direktur Utama PT Austasia Stockfeed mengatakan perusahaannya mulai berdiri sejak 2005 ini mulai melakukan pengembangbiakan sapi wagyu sejak 2008. Alasannya, karena sapi wagyu ini memilki daging yang enak.

“Kami melihat peluang konsumsi daging di Indonesia tinggi, impor tinggi, dan ada ceruk pasar wagyu ini kita coba isi, yang sebelumnya impor. Tapi memang produksinya tinggi, butuh waktu dari lahir sampai siap itu 3 tahun. Itulah mahal karena biaya pemeliharaan panjang dan resiko besar,” jelas Dayan

Pertahunnya sekitar 5000 ekor bisa di produksi di peternakan tersebut. Atau jika dikalkulasikan dengan per ekornya menghasilkan 250 kilogram daging, maka produksinya bisa mencapai 1250000 ton daging per tahun.

Sasarannya yaitu industri hotel hingga restoran dengan sasaran produksinya kebanyakan dikirim ke Jabodetabek sebesar 60%, Bali 30%, sisanya Jawa Timur, Jawa Barat. Termasuk Lampung meskipun diakui belum terlalu banyak.

“Kami memang menargetkan juga pasar ekspor, kami sudah memiliki agen. Tapi persoalan nya negara sasaran ekspor ini meminta barter, maka kami meminta bantuan kepada pemerintah pusat untuk membantu persoalan itu. Tahun ini karena pandemi agak menurun, tapi target kami tahun depan kami bisa ekspor ke Malaysia dan Timur Tengah,” lanjutnya.

Untuk memenuhi produksinya sendiri, Dayan meyakinkan bisa meningkat hingga dua kali lipat produksi setiap tahunnya. Namun itu bergantung dengan permintaan pasar. (rma/wdi)

Komentar

Rekomendasi