oleh

Warga Jalan Alimudin Umar Keluhkan Debu Kendaraan Pengangkut Tanah

RADARLAMPUNG.CO.ID – Lebih dari setahun, warga Jalan Alimudin Umar, Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung harus merasakan gangguan debu dari kendaraan pengangkut tanah yang lalu lalang di jalan tersebut. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya jalan berlubang di jalan kurang lebih sepanjang empat kilometer tersebut. Tidak jarang lubang-lubang di jalan itu mengakibatkan kecelakaan lalulintas (Lakalantas).

Bambang (34), warga RT 08, Lk 01, Kelurahan Campang Raya sekaligus pemilik rumah makan Bima Sakti menuturkan, pihaknya bersama perwakilan warga, pamong, lurah, dan perwakilan Galian C sempat mengadakan rembuk pekon bulan lalu membahas kendaraan pengangkut tanah tersebut.

Hasilnya, ada lima dari rembuk pekon tersebut. Pertama mobil pengangkut tanah saat membawa muatan diminta menutup dengan terpal dan pihak Galian C jangan melayani jika tidak melakukan itu. “Karena kondisi jalan berlubang muatan truk atau tronton sering tumpah dan bertaburan di jalan. Kalau hujan jadi lumpur dan panas jadi debu,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (19/11).

Lalu, beberapa hari dalam seminggu wajib dilakukan penyiraman debu sepanjang jalan Alimudin Umar. Ketiga, apabila ada jalan berlubang pihak galian C wajib menambalnya menggunakan batu atau pasir. “Kalau pakai tanah percuma, hujan becek panas debu,” terangnya.

Poin keempat, saat turun hujan semua jenis kendaraan pengangkut tanah dilarang beroprasi. “Serta kelima, mobil truk wajib menambah dinding di baknya guna mencegah muatannya bertaburan,” tuturnya.

Namun, sampai saat ini kesepakatan tersebut belum juga terealisasi. “Kami belum tandatangan. Karena setelah poin itu dibacakan pak lurah beliau mengatakan akan membawa poin-poin tersebut ke Galian C tersebut untuk disetujui. Kalau tidak merespon, saya yang tanggung jawab, saya angkat alatnya,” ujarnya menirukan ucapan Lurah Campang Raya.

“Di sini ada tiga Galian C. Jadi kalau waktu panas, rumah yang ada di tepi jalan ini debu semua, gak betah akhirnya. Kayak warung saya sekarang saya kelilingi plastik. Ini bukan untuk menghindari Covid-19, tapi untuk menghindari debu. Pokoknya sangat terdampak,” terangnya.

Dirinya berharap Pemerintah setempat maupun pihak Galian C untuk dapat memperhatikan dampak bagi warga seputar Jalan Alimudin Umar. “Tolong bisa direalisasikan. Bagi pemerintah juga jalan berlubang bisa diperbaiki. Dulu sempat dibeton tapi hanya di beberapa titik. Kita gak tau kapan dilanjutkan,” tuturnya.

Saat musim hujan menurut Bambang jalan berlubang memakan korban. Seperti pekan lalu ada pengendara motor terjatuh karena menghantam lubang di depan Perumahan Nusantara, dan nyaris terlindas tronton yang melintas dari dua arah.

“Bahkan pernah bulan lalu waktu hujan dari jam setengah enam sampai jam delapan pagi ada sekitar delapan kendaraan yang kecelakaan, dua di antaranya perlu pertolongan serius. Sampai kami kewalahan membantu. Jadi sangat lah berbahaya jalan ini sekarang,” ucapnya.

Galian tersebut menurutnya telah berjalan lebih dari satu tahun, dan dengan tidak segera diambil tindakan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. “Kalau yang laporan terkena infeksi saluran pernapasan (Ispa) belum dengar. Tapi ya kalau debunya terus-terusan tentu tidak baik bagi kesehatan, apalagi anak kecil,” ucapnya.

Senada juga disebutkan salah satu pemilik rumah makan di Jalan Alimudin Umar yang enggan disebutkan namannya mengaku tidak nyaman dengan banyaknya debu di jalan tersebut. “Banyak banget debunya mas, apalagi kalau lagi panas gini, sangat mengganggu,” ucapnya. (pip/sur)

Komentar

Rekomendasi