oleh

Yuk Bantu, Syadzili Bayi Penderita Atresia Bilier

//Harapkan Lampung Miliki Poli Gastro//

Radarlampung.co.id – Muhammad Syadzili Meyzar, bayi berusia delapan bulan, harus menderita penyakit Atresia Bilier atau gangguan pada hati sejak enam bulan terakhir yang membuat perutnya membesar.

Anak tunggal Yulizar Fadli (34) tersebut, saat ini tengah rutin menjalani rawat jalan sejak Juli lalu di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), sehingga membuatnya harus menyewa kamar di sekitar rumah sakit tersebut.

“Kondisi Syadzili sekarang lagi rawat jalan, seminggu sekali kontrol ke Poli Gastro di RSCM. Karena kalau kondisi anak-anak dengan gangguan hati ini tidak tertebak bisa drop bisa stabil. Karena darah HBnya mudah turun, albumin mudah turun, serta protein darah juga sudah mudah turun,” ujar Yulizar Fadli kepada Radarlampunh.co.id, Sabtu (5/12).

Yulizar yang beralamat di Perumahan Puspa Kencana, Kelurahan Gedong Menang, Rajabasa tersebut sejak Juli meninggalkan Kota Tapis Berseri. “Sempat dirawat 14 hari di RSUDAM, hari ke 15 langsung dirujuk ke RSCM. Sekarang bolak balik kosan-RSCM,” ungkapnya.

Menurutnya, di Lampung tidak memiliki Dokter Gastro yang khusus menangani penyakit gangguan hati, padahal menurut Yulizar banyak penderita Atresia Bilier dari Lampung. “Kemarin malam dari Lampung Tengah ada yang meninggal setelah berjuang 1,5 tahun,” ucapnya.

Saat ini yang rutin dilakukan adalah menjaga gizi Syadzili agar seimbang, menjaga HB, albumin dan protein agar tidak rendah. “Maka harus transfusi darah setiap bulan untuk memantau itu,” tuturnya.

Yulizar menjelaskan, ending dari penyakit yang di derita putranya tersebut adalah transplantasi hati atau cangkok hati. Namun selama pandemi Covid-19, dari Januari sampai saat ini RSCM belum open table operasi transplantasi hati.

“Baru dibuka awal Januari mendatang, namun Syadzili belum mendapat jadwal. Yang sudah dapat ada asal Bekasi akan oprasi 11 Januari, sedangkan Syadzili yang mendapat nomor keenam belum tahu kapan jadwalnya,” ungkapnya.

Dalam transplantasi hati, Yulizar sendirilah yang akan menjadi pendonor. Dimana, proses untuk menjadi pendonor perlu skrining kesehatannya yang tidak ditanggung BPJS. “Tidak masalah jadi pendonor, karena hati ada regenerasinya dua sampai empat bulan. Maksimal satu tahun sudah pulih lagi,” terangnya.

Dari hasil konsultasi dengan RSCM, biaya operasi pencangkokan hati sendiri memerlukan biaya Rp800 juta sampai Rp 1 Miliar. BPJS hanya menanggung sekitar Rp 260 juta. Sehingga Yulizar perlu mencari tambahan untuk biaya operasi tersebut.

“Kalau masalah kesusahan agak lumayan. Biaya lumayan ngos-ngosan. Untuk dilapangan lumayan berat karena ini di Jakarta, kalau di Lampung masih bisa di Cover. Biaya kosan belum lagi biaya skrining yang tidak ditanggung, serta BPJS hanya menanggung sekitar Rp 260 juta,” tuturnya.

Selama berada di Jakarta, Yulizar yang kesehariannya bekerja dibidang seni tentunya harus menunda bahkan meninggalkan semua kegiatan. “Kalau yang masih bisa dikerjakan dari Jakarta masih tetap dilakukan, seperti menjadi juri lomba Cerpen di dewan kesenian Metro,” terangnya.

Ia pun merasa miris dengan penderita Atresia Bilier, karena tidak hanya anaknya yang menderitan penyakit tersebut, namun yang lainnya banyak. “Setiap minggu pasti ada yang meninggal, miris lagi belum banyak dikenal orang penyakit ini,” ucapnya.

Dirinya pun berharap kedepan rumah sakit daerah di Provinsi Lampung memiliki Poli Gastro dan memiliki dokternya. “Agar anak-anak yang memiliki penyakit itu dapat segera terdeteksi. Jangan sudah parah baru ketahuan dan langsung di rujuk ke RSCM,” ucapnya.

Pengobatan Atresia Bilier masih di pusatkan ke RSCM, dan berharap disetiap daerah memiliki tempat operasi dan Poli Gastro. “Di Semarang ada yang bisa cangkok hati, tapi tetap dipusatkan di Jakarta, jadi kan repot kalau yang dari jauh,” ujarnya. (Pip/yud)

Komentar

Rekomendasi