oleh

Patut Jadi Cambuk, Baru Berdiri, Sekolah Ini Torehkan Prestasi Nasional

RADARLAMPUNG.CO.ID – SMP Negeri 42 Bandarlampung mengalahkan sekolah-sekolah bonafit dalam kompetisi 1.000 guru pionir virtual reality yang merupakan hasil kerjasama antara Millealab, Seamolec, Pusdatin Kemdikbud RI, Rumah Belajar, dan Daily Social.

Yang menarik, SMP Negeri 42 merupakan sekolah baru yang belum lama didirikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bandarlampung.

Tim yang terdiri dari Noviya, selaku ketua tim, dan Muhammad Zamroni, sebagai anggota tim, serta siswa target yaitu Laura Azzahra meraih juara I.

Kepala SMPN 42 Bandarlampung Asep Sudrajat menjelaskan, kompetisi tersebut terdiri dari beberapa proses hingga sampailah di babak final. Peserta kompetisi 1.000 guru pionir VR ini melibatkan guru dan murid sebagai tim untuk memecahkan masalah dengan menggunakan konten pembelajaran Virtual Reality.

“Dengan keterbatasan yang dimiliki, kita mencoba untuk ikut. Memang dibutuhkam tekat dan kesungguhan untuk membuat konten pembelajaran ini,” kata Asep, Minggu (6/12).

Ia menjelaskan, siswa target merupakan siawa yang mempunyai track record akademis rendah, dan mempunyai keinginan belajar paling rendah diantara yang lain.

“Sehingga, diharapkan konten pembelajaran VR ini bisa membantu siswa yang kurang agar bisa menguasai materi. Nah untuk mata pelajaran yang kita ambil yaitu matematika. Jadi, target sswa membuat essay tentang apa yang dipelajari di dalam VR, dan idenya untuk memecahkan persoalan,” jelas Asep.

Lebih jauh Asep menjelaskan, setelah dikirimkan essaynya ke panitia, diumumkanlah 10 finalis, dan SMPN 42 berada di posisi ke 2. Dalam babak final tersebut, siswa target mempresentasikan essaynya di depan juri dan audiens secara online.

“Kita hanya diberi waktu tiga hari untuk membekali siswa target agar bisa tampil dengan baik saat presentasi. Itu perjuangan yang luar biasa, tak kenal lelah kami bimbing, mulai dari cara bicaranya. Saya juga menekankan poinnya seperti, lalu diterjemahkan dengan menggunakan bahasa dari siswa tersebut, biarkan itu mengalir dengan bahasa dan irama siswa,” ungkapnya.

Asep menuturkan, pihaknya tidak menyangka jika meraih juara I saat diumumkan pemenangnya Sabtu (5/12) lalu. Sebab, peserta yang lain juga menampilkan presentasi yang luar biasa, ditambah sebagian peserta menggunakan bahasa Inggris saat presentasi.

“Kami juga tidak menyangka jika kami bisa meraih juara I. Karena saat presentasi di babak final itu, peserta yang lain itu sangat bagus sekali mempresentasikannya, dan senagian besar menggunakan bahasa Inggris. Tapi keunggulan kami menurut pemaparan juri, VR kami pas dengan konten pembelajaran, apa yang ditulis essay siswa itu betul-betul sesuai dengan konten VR yang kita buat. Lalu, dalam menyampaikan presentasi baik sekali sesuai apa yang siswa tulis. Ini sangat luar biasa, sekolah baru bisa membawa nama Lampung,” ucapnya. (rur/sur)


Komentar

Rekomendasi