oleh

Al Kautsar Bersiap Sambut Sekolah Tatap Muka, 70 Guru SMA pun Telah Ikuti Pelatihan Asesmen Nasional

RADARLAMPUNG.CO.ID – Yayasan Pendidikan Al Kautsar memiliki panduan penyelenggaraan pembelajaran semester genap 2020/2021 di masa pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Kepala SMA Al Kautsar Eko Anzair kepada Radarlampung, Minggu (27/12).

Eko mengutarakan, sekolah tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 diperbolehkan oleh pemerintah. Namun, sekolah yang ingin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka harus memenuhi persyaratan, di antaranya mendapat izin dari pemda, serta mendapat persetujuan dari komite sekolah dan orangtua/wali murid.

“Jika mendapatkan semua izin dan persetujuan, serta memenuhi semua daftar periksa, pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap,” kata Eko.

Daftar periksa yang harus dipenuhi oleh sekolah yang ingin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka antara lain ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, meliputi toilet bersih dan layak; sarana cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer; dan disinfektan.

Lalu mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Meliputi kesiapan menerapkan wajib masker; memiliki thermogun; serta memiliki pemetaan warga satuan pendidikan. Juga tentunya mendapatkan persetujuan komite sekolah/perwakilan orang tua/wali.

Selain hal tersebut, sekitar 70 guru SMA Al Kautsar juga telah mengikuti pelatihan asesmen nasional (AN) yang akan menjadi pengganti Ujian Nasional (UN) mulai Maret 2021 mendatang. Sosialisasi AN ini menjadi salah satu materi dalam kegiatan Workshop Persiapan Pembelajaran Semester Genap SMA Al Kautsar telah digelar pada Selasa (22/12/2020) dan Rabu (23/12/2020).

Workshop telah dibuka langsung oleh Ketua Yayasan Al Kautsar, Wagiso. Pihak panitia menghadirkan pemateri Pengawas Pendidikan Provinsi Lampung Yusuf, M.Pd yang menyampaikan Sosialisasi Asesmen Nasional.

Yusuf juga menjelaskan, asesmen nasional adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang dasar dan menengah. “Mutu diukur menggunakan tiga instrumen yaitu asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar,” ujar Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan, asesmen kompetensi minimum mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif. Lalu, survei karakter mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai (values) sebagai hasil belajar non kognitif. Dan, survei lingkungan belajar mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran.

Menurut Yusuf, hasil asesmen nasional ini nantinya tidak digunakan untuk menilai prestasi murid ataupun kinerja guru dan sekolah. Laporan hasil asesmen nasional akan diberikan kepada guru dan sekolah sebagai alat untuk melakukan evaluasi diri dan perbaikan pembelajaran.”Sebab itu, baik murid, orangtua, guru, dan sekolah tidak perlu cemas dan tidak perlu melakukan persiapan khusus untuk menghadapi asesmen nasional,” tutur Yusuf. (gie/sur)


Komentar

Rekomendasi