oleh

Jembatan Penyambung Asa

Kini anak-anak Sukarame Dua tak perlu lagi was-was dan menantang maut, ketika hendak pergi ke Sekolah. Pasalnya, jembatan yang menghubung dua kampung –Kihung dan Batu Putuk. Dan dibatasi dua sungai –Way Betung dan Kuripan, tengah dibangun.

LAPORAN M.TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

Harapan bagi warga Kampung Kihung dan Batu Putuk, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandarlampung, untuk mempunyai jembatan penyeberangan yang melintas di dua sungai –Way Betung dan Kuripan, akan segera tercapai.

Pasalnya, selama ini apabila warga di dua kampung itu hendak beraktifitas, harus terlebih dahulu menantang maut untuk menyeberangi arus sungai yang cukup deras. Ditambah dengan banyaknya bebatuan yang besar-besar.

Apalagi bila anak-anak dari perkampungan Sukarame Dua, yang hendak berpergian ke sekolah di SD 1 Batu Putuk harus melintasi derasnya Sungai Way Betung. Ini tentunya untuk mempersingkat jarak dan waktu mereka agar sampai ke sekolah.

“Saya menyeberangi sungai ini (Way Sekampung), dari Kelas 1 hingga 6 ini. Kalau lagi musim kemarau airnya juga enggak cukup deras. Nah, lain apabila hujan deras sepatu saya sering hanyut karena air yang cukup deras,” kata Nanda salah satu siswa SD 1 Batu Putuk ini.

Sering kali lanjut dia, apabila hendak menyeberang sungai yang lagi deras-derasnya itu, celana sekolahnya sampai basah. “Kalau sudah seperti ini kami pun terpaksan mencobot seragam sekolah dan sepatu, agar tidak basah dan tercebur,” katanya, pada Selasa (29/12).

Sementara itu, Ketua RT 08 LK 01 Kampung Kihung: Suparno menjelaskan, apabila memang sudah hampir puluhan tahun jembatan di desanya ini tak dibangun. Menurutnya juga, apabila nanti jembatan ini jadi bisa  membantu mobilitas warga di kampung Kihung dan kampung Batu Putuk.

“Alhamdulillah kami sangat terbantu kami dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Ini seperti penyambung asa bagi warga didua kampung,” ujarnya.

Untuk itu, ia pun sangat berterima kasih kepada seluruh relawan Vertical Rescue Lampung. Juga warga yang sudah bergotong royong membangun jembatan gantung ini. “Saya juga berharap agar Pemkot Bandarlampung bisa memperhatikan akses dua kampung ini, agar bisa dibuat jembatan yang permanen. Karena baik di segi ekonomi dan pendidikan adanya jembatan ini sangat berpengaruh bagi warga kami,” jelasnya.

Ya, diketahui bahwa mulai dari Selasa 22 Desember 2020 relawan yang tergabung dalam Vertical Rescue Lampung, dibantu warga setempat mulai bergotong royong membangun jembatan gantung yang terbuat dari material besi, kayu dan tali jembatan gantung.

Koordinator Lampung Vertical rescue indonesia M. Kariskun (47) mengatakan, sekitar 12-15 anggota yang terjun dalam pembangunan jembatan gantung dibantu warga setempat.

“Awalnya kami tahu informasi dari pak RT Suparno, bahwa di kampung nya ada akses penghubung dua kampung yang membutuhkan jembatan, ya kami langsung survei lokasi,” katanya.

Dan kini pembangunan jembatan sudah sampe tahap 70% ditergetkan Rabu mendatang sudah bisa dilintasi warga. “Pembangunan sudah hampir rampung hanya kendala di cuaca saja. Insya Allah dalam pecan ini kalau cuacanya mendukung jembatan gantung ini sudah bisa digunakan warga,” kata dia.

Kariskun menambahkan ini merupakan program  dari pembangunan seribu jembatan gantung di Indonesia Vertical rescue indonesia, untuk di Lampung ini yang ke 14. Sedangkan untuk pembangunan di Bandarlampung baru pertama kali. “Untuk kegiatan sosial seperti ini kita tidak bisa lakukan sendiri. Kami juga perlu bantuan warga sekitar,” pungkasnya. (ang)

 

Komentar

Rekomendasi