oleh

Orang Tua Harus Awasi Pemakaian Gadget

RADARLAMPUNG.CO.ID – Anak-anak yang diberikan gadget seharusnya tidak diabaikan begitu saja. Perlu pengawasan ketat orang tua, agar anak tak kebablasan. Hal itu diungkapkan oleh Children Crisis Centre (CCC) Lampung. Dari laporan pengaduan yang masuk, organisasi sejak 2006 ini juga kerap menemui adanya pembiaran orang tua terhadap penggunaan gadget.

Ketua Harian CCC Lampung Syafrudin kepada Radar Lampung mengatakan setidaknya dalam setahun ada 10 laporan yang masuk ke organisasinya. Misalnya, orang tua yang mengadukan anaknya sudah kecanduan gadget. “Laporannya beragam, ada yang kecanduan gadget. Ketika dilarang anaknya marah-marah. Ada juga laporan anak yang terlalu dibatasi. Dan juga laporan anak yang dibiarkan main gadget,” kata Syafrudin kepada Radar Lampung, kemarin. Belum lagi, laporan anak yang mengalami tekanan mental akibat belajar daring karena beban pekerjaan rumah (PR) yang besar.

Sebenarnya, kata Syafrudin, memberikan gadget kepada anak seperti dua sisi mata pisau. Ada sisi negatif dan positifnya. Sisi positifnya, membantu anak mengerjakan belajar daring dan menjadi fasilitas belajar. Sedangkan sisi negatifnya juga banyak. Contohnya selain mengakses game, anak juga bisa mengakses konten yang bersifat pornografi dan mengakses media sosial yang seharusnya belum dibolehkan untuk usia mereka. Terlebih di masa pandemi ini, intensitas durasi anak bermain gadget meningkat drastis dan pemakaiannya tak terkontrol.

“Dan sekarang ini diperparah dengan sikap orang tua yang permisive atau serba membolehkan. Mereka bodo amat, yang penting anak nggak stres di rumah, nggak main di luar,” katanya. Dengan diberikan gadget, kata Syafrudin, kebanyakan orang tua berpikir akan lepas dari tanggung jawabnya sebagai orang tua. “Padahal tidak. Justru tanggung jawabnya besar. Orang tua harus bertanggung jawab dengan apa yang diakses oleh anak. Dan sekarang ini sikap orang tua cendrung abai akan hal itu,” tuturnya.

Sikap itu lah, kata Syafrudin, yang menjadi boomerang. Dan membuat anak terjerat kecanduan gadget, lantaran intensitas pemakaian yang tak terkontrol. “Karena gadget, anak terpuaskan secara psikologis nah ini yang kita waspadai. Ternyata Peran orang tua tergantikan gadget. Ketika gadgetnya diambil, mereka akan stress karena sudah kecanduan tadi,” katanya. Ia pun memberikan solusi kepada orang tua.

Pertama, kata Syafrudin, yang paling penting itu adalah peran orang tua. Kemudian kedua, si anak bisa diberikan tentang pemahaman akan hak dan kewajibannya. “Misalnya diberi pemahaman tentang menghormati orang tua dan maksimal berapa jam boleh main gadget. Apa saja yang boleh diakses,” terang Syafrudin.

Organisasinya juga meminta agar pemerintah mengevaluasi teknis pembelajaran daring yang menurutnya cukup memberikan beban kepada anak. “Kita minta diformat ulang lagi. Kalau bisa PR itu dikurangi karena membebani anak. Misalnya bisa diganti dengan sesi tanya jawab atau sebulan sekali tatap muka,” tandasnya. (nca/sur)


Komentar

Rekomendasi