oleh

Tiga Penumpang Sriwijaya Air SJ182 Warga Tubaba, Hendak Bekerja di Pontianak

RADARLAMPUNG.CO.ID-Tiga dari 56 penumpang Pesawat Sriwijaya Air SJ182 merupakan warga Toto Makmur, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Eko Febrianto, aparatur Tiyuh Toto Makmur Kecamatan Batu Putih, Tubaba, ketiga warga asal Lampung penumpang Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu merupakan warga Tiyuh Toto Makmur Kecamatan Batu Putih, Tubaba. Mereka adalah Sugiono Efendi, alamat RT 05 RW 02, Yohanes alamat RT 04 RW 02, dan Pipit Piyono alamat RT 04 RW 02.

Ketiga warga tersebut menuju Pontianak, Kalimantan Barat, untuk bekerja sebagai buruh bangunan. Mereka berangkat dan berpamitan kepada keluarga hari Jumat tanggal 8 Januari 2020 menuju Bandar Lampung untuk mengurus persyaratan kesehatan sebagai syarat perjalanan udara menuju Kota Pontianak.

Ketiga orang warga Tiyuh Toto Makmur bukanlah satu keluarga, namun satu wilayah tempat tinggal di Toyuh Toto Makmur yang akan berangkat ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk bekerja sebagai buruh bangunan di sebuah proyek. Kedua orang tersebut baru akan ke Kalbar diajak oleh Sugiono Efendi. Adapun Sugiono Efendi sendiri memang sudah lama di Pontianak yang merupakan membawa Yohanes dan Pipit.

“Keluarga dan aparatur tiyuh/desa belum mendapatkan pemberitahuan dari pihak maskapai maupun instansi terkait, namun berdasarkan informasi ketiganya merupakan penumpang dalam pesawat Sriwijaya Air tersebut,” kata Eko kepada radarlampung.co.id.

Sugiono, salah satu korban sempat melakukan video call dengan istrinya sebelum naik pesawat, namun nomornya sudah tidak aktif. Ketiga korban telah berkeluarga dan masing-masing memiliki anak satu. Mereka bertiga ini merantau untuk bekerja sebagai buruh bangunan di Pontianak.

Dua orang baru kali pertama menuju Pontianak karena diajak Sugiono yang merupakan kepala rombongan karena berstatus sebagai perekrut tenaga kerja. “Kalau Sugiono baru pulang dari Pontianak dan bekerja sebagai kepala tukang. Dia pulang kampung karena mencari tenaga kerja dan dapatlah Yohanes dan Pipit. Jadi ketiganya berangkat bareng untuk mengadu nasib di Pontianak,”katanya.

Saat ini lanjut Eko, pihak keluarga sedang menunggu kabar kepastian dari pihak terkait, kami aparatur tiyuh siap memfasilitasi. (fei/wdi)

Komentar

Rekomendasi