oleh

Mereka, tak Kenal Waktu!

RADARLAMPUNG.CO.ID – Malam mulai larut, Rabu (13/1). Sekitar pukul 21.00 WIB. Iring-iringan mobil melaju pelan. Voorijder, ambulans dan kendaraan lain.

Menuju kawasan Umbul Kunci, Telukbetung Timur, Bandarlampung. Lokasi pemakaman khusus pasien Covid-19.

Rombongan membawa jenazah. Seorang perwira polisi di Polda Lampung. Meninggal beberapa jam sebelumnya.

Proses pemulasaran berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek.

Iring-iringan kendaraan tiba. Belasan petugas menyambut. Liang lahat sudah disiapkan. Berada di antara pepohonan besar. Di atas bukit.

Suasana cukup gelap. Hanya ada dua sumber pencahayaan. Di sekitar liang lahat dan lampu besar yang mengarah ke arah jalan masuk. Sisanya, lampu dari ponsel.

FOTO ALAM ISLAM/RADARLAMPUNG.CO.ID

Tidak ada tanda khusus. Hanya nisan-nisan darurat yang tertanam di atas kubur. Tanpa taburan bunga.

Pintu ambulans dibuka. Tujuh petugas mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap mendekat. Dengan komando, mereka mengangkat peti jenazah.

“Ayo kita bersiap!,” seru seorang lelaki berkaca mata.

Dia adalah Budi Ardianto, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bandarlampung yang memimpin proses pemakaman.

Tidak ada upacara. Keluarga. Pelayat dan kerabat. Hanya ada petugas dari Satgas Covid-19. Bergerak sesuai yang sudah diinstruksikan.

Pelahan, petugas mengangkat peti. Berjalan selangkah demi selangkah. Naik. Berhati-hati menapak jalan tanah yang basah selepas hujan.

“Awas hati-hati. Harus seimbang,” Budi kembali memberi instruksi. Lokasi liang lahat sekitar 10 meter dari sisi jalan.

Beberapa saat kemudian, peti jenazah diletakkan di atas liang lahat. Di topang tiga balok. Sementara, tali tambang berada di kedua sisi peti.

FOTO ALAM ISLAM/RADARLAMPUNG.CO.ID

Petugas bersiap. “Tarik talinya. Siap-siap ambil balok ya. Awas, hati-hati,”.

Dengan hitungan, petugas mengencangkan tali tambang. Lainnya bersiap menarik balok penopang.

“Satu, dua, tiga,”. Balok di tarik. Peti jenazah masuk ke liang lahat.

Seorang personel polisi maju. Mengumandangkan azan untuk sang komandan. Hening. Semua terdiam. Hingga Iqamah diselesaikan.

Selanjutnya, tanah mulai menutupi peti. Secangkul demi secangkul. Bergantian hingga rata.

Tidak ada bunga ditaburkan. Tidak ada upacara pelepasan. Nisan darurat kemudian ditancapkan. Hening. Beberapa menatap ke arah kubur.

Proses pemakaman selesai. Malam kian larut. Petugas turun dan mendapatkan semprotan disinfektan. Satu per satu pulang. Menunggu instruksi untuk bertugas kembali. Tak kenal waktu. (ais)

Komentar

Rekomendasi