oleh

“Semestinya Pemkot Cooling Down”

RADARLAMPUNG.CO.ID – Wacana pembangunan fisik yang dilakukan Pemkot Bandarlampung tahun ini mendapat sorotan legislatif setempat. Pemkot dinilai terlalu memaksakan tanpa melihat kemampuan keuangan.

Ketua Komisi III DPRD Bandarlampung Yuhadi menuturkan, setidaknya untuk awal tahun ini sudah ada tender senilai Rp127 miliar yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum. Ironisnya, dari aduan yang dia dapat, banyak rekanan yang mengeluh pekerjaan tahun 2020 tak kunjung terbayarkan oleh pemkot.

Lebih parahnya lagi, sambung Yuhadi, ada beberapa rekanan yang mengaku belum menerima pembayaran retensi tahun 2019 silam. “Kalau yang untuk pekerjaan 2020 kemarin, ada aduan yang masuk ke saya jangan kan uang PHO, uang muka pun ada yang belum terbayarkan,” ucapnya.

Sementara, bila pihak ketiga telat menyelesaikan pekerjaan, mereka terancam punishment berupa denda. “Jadi di sini kasihan pihak ke tiga. Mereka sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk pekerjaan, tapi belum ada pembayaran untuk mereka. Jangan juga lantas berlindung di balik pandemi sementara tetap ngotot melakukan tender,” ucap Politisi Golkar itu.

Padahal, lanjut Yuhadi, pihaknya telah melakukan teguran pada Dinas PU untuk tidak terburu-buru melakukan tender. “Semestinya Pemkot, khususnya Dinas PU bisa cooling down dulu. Tunggu benar-benar ada kepastian dana yang masuk. Dengan tentunya memprioritaskan pembayaran pekerjaan di tahun sebelumnya yang menurut beberapa rekanan belum terbayarkan,” saran Ketua DPD II Golkar Bandarlampung itu.

Alhasil, kata dia, tidak bisa dipungkiri bisa mencuat argumen buruk di mata publik. “Jadi kesannya ada apa ini? Seperti kejar tayang untuk yang mau habis masa jabatan. KPK harus turun kalau sudah begini,” sindir Yuhadi.

Menyikapi adanya aduan bahwa banyak pekerjaan belum terbayarkan, Yuhadi meminta Dinas PU untuk jujur ke publik. “Coba buka saja berapa utang Dinas PU kepada pihak rekanan. Mereka harus jujur ke publik,” tegasnya.

Yang juga sangat disayangkannya, bahkan pembangunan gedung DPRD Bandarlampung yang dianggarkan tahun lalu hingga kini masih terbengkalai. “Sehari-hari kami (anggota Dewan) bekerja dalam rasa was-was karena gedung yang sungguh memprihatinkan gara-gara pembangunan yang belum juga selesai. Atap sudah dirombak tapi belum diperbaiki. Bahaya kalau tiba-tiba runtuh dengan sendirinya,” tukasnya. (sur)


Komentar

Rekomendasi